Kesultanan Bintan Di Mata Shaykh Abdalqadir as Sufi
Jakarta,- Kejadian ini berlangsung di Dallas House, Cape Town, Afrika Selatan. Ini kediaman dari Shaykh Abdalqadir as sufi (1930-2021). Beliau ulama besar yang lahir di Skotlandia dan wafat di Cape Town, Afrika Selatan. Kisaran pukul 10 pagi di bulan Januari 2018 lalu, 6 orang dari Indonesia datang berkunjung pada Mursyid tariqah Qadiry-Shazili-Dharqawi itu.
Pertemuan berlangsung khidmad. Shaykh Abdalqadir as sufi menerima dengan rasa senang sebuah pin yang terbuat dari bahan kuningan berupa logo Kesultanan Bintan Darul Masyhur. Dan dia pun menerima syal (seperti selendang) yang biasa dipergunakan oleh pembesar Kesultanan Bintan Darul Masyhur.
Di sesi terakhir, Shaykh Abdalqadir as sufi pun memamerkan dirinya menunjukkan pin Kesultanan Bintan dan menggunakan syal (selendang kebesaran) Kesultanan Bintan tersebut. Ini menunjukkan bahwa Sang Mursyid tersebut merasa senang dan bangga sekali dengan Kesultanan Bintan Darul Masyhur.
Bukan itu saja. Tahun 2016 sebelumnya, Shaykh Abdalqadir as sufi juga telah memberikan perintah dan saran kepada pengikutnya untuk mendirikan Masjid di wilayah Bintan. Perintah pendirian masjid itulah diwujudkan dengan pembelian lahan yang kemudian dijadikan sebagai tanah wakaf.
Tapi di kemudian hari, lahan itu dialihfungsikan bukan lagi untuk mendirikan masjid. Melainkan bak dipergunakan sebagai milik pribadi, bukan lahan wakaf. Fungsinya pun berubah. Mulai perlahan digeser untuk membangun pasar yang hanya bertujuan menerima dinar emas dan dirham perak produksi dari Wakala Induk Nusantara (WIN) yang dijual melalui jejaring wakala-wakalanya. Tentu hal ini telah keluar dari ajaran Shaykh Abdalqadir as sufi.
Penyimpangan ‘gerakan dinar dirham’ itu telah disikapi dengan tegas oleh Rais Abu Bakar Rieger dari Jerman. Beliau menegaskan bahwa dirinya, selaku otoritas yang menjaga kemurnian ajaran Shaykh Abdalqadir as sufi dan bentuk amal prakteknya, telah menyatakan tak lagi memiliki hubungan dengan pihak yang menjalankan ‘gerakan dinar dirham’ tersebut. Karena memang Shaykh Abdalqadir as sufi juga telah menyatakan bahwa dirinya “dissacociate” pada Gerakan dinar dirham sejak tahun 2014 lalu. Sejak itu, seluruh murid-murid Shaykh Abdalqadir as sufi yang tersebar di berbagai belahan dunia, mulai dari Spanyol, Jerman, Inggris, Belanda, Swiss, Malaysia, Afrika Selatan, menghentikan secara serempak ‘gerakan dinar dirham’ tersebut. Ini pertanda bahwa Gerakan dinar dirham dianggap telah keluar dari pengajaran Shaykh Abdalqadir as sufi. Hingga akhir hayatnya, Agustus 2021, Shaykh Abdalqadir as sufi tak pernah menegaskan bahwa dirinya kembali menyetujui tentang ‘gerakan dinar dirham’ tersebut.
Moussem Shaykh Abdalqadir as sufi tahun 2022 yang berlangsung Oktober 2022 lalu di Cape Town, Afrika Selatan, kembali menegaskan bahwa pengajaran Shaykh Abdalqadir as sufi berupa pentingnya membangun jamaah dengan berlandaskan pada Tauhid yang murni dan penegakan kembali rukun Zakat.
Beranjak dari situlah sebelumnya Shaykh Abdalqadir as sufi telah melihat tentang potensi dari Kesultanan Bintan. Beliau pernah mengatakan kepada murid-muridnya, “Jika kalian ingin belajar tentang Hadist maka datanglah ke Pakistan, tapi jika kalian ingin belajar tentang Kesultanan, maka datanglah ke Bintan,” ujarnya.
Namun uniknya Shaykh Abdalqadir as sufi sama sekali tak pernah datang ke Kesultanan Bintan sebelumnya. Beliau hanya melihat tentang Kesultanan Bintan dari pandangan ‘basyirah’ sebagai seorang ulama besar. Dari situlah beliau sempat memerintahkan dua orang muridnya untuk datang khusus ke Bintan pada tahun 2014 yakni Shaykh Ali Laraki dan Malik Del Poso untuk bermukim di Bintan. Tapi sayang hal itu belum terwujudkan. Karena kedua alim itu memang tak berorientasi pada ‘dinar dirham’ makanya urung untuk dihadirkan.
Bagi Sultan Huzrin Hood, sosok Shaykh Abdalqadir as sufi juga sangat dihormati oleh Beliau. “Saya belum pernah berjumpa dengannya secara langsung, tapi saya banyak berjumpa dengan murid-murid beliau,” paparnya.
Kisaran tahun 2000 lalu, Sultan Huzrin dibaiat langsung oleh Rais Abu Bakar Rieger di Hotel Bumi Sangkuriang, Bandung, Jawa Barat. Hal itu ketika Sultan Huzrin berada di Bandung dan rombongan Rais Abu Bakar tengah mengadakan lawatan ke Indonesia beberapa bulan. Disaksikan oleh Amir Indonesia ketika itu, Ahmad Iwan Adji, Rais Abu Bakar melakukan baiat pada Sultan Huzrin.
Kemudian ketika Huzrin Hood masih menjabat sebagai Bupati Kepulauan Riau (sebelum pemekaran menjadi provinsi Kepri), beliau mengadakan seminar pertama kalinya di Indonesia tentang ‘Dinar Dirham’ yang berkaitan dengan penegakan rukun zakat dan sultaniyya. Seminar itu dilakukan di aula Rumah Dinas Bupati Kepulauan Riau, Tanjung Pinang.
Sosok murid Shaykh Abdalqadir as sufi yang memiliki jasa besar mengkoneksikan Sultan Huzrin dan murid-murid Shaykh Abdalqadir as sufi adalah almarhum Muqadim Ahmad Angkawijaya. Beliau menetap di Bintan bersama istrinya Agustin Purwanti. Beliaulah yang dijuluki oleh Shaykh Abdalqadir as sufi sebagai “the man of island”. Manusia pulau. Artinya yang berasal dari sebuah pulau: Bintan.
Secara historis, menurut Dato’ Rida K. Liamsi, sejawaran ternama Melayu mengatakan, Bintan adalah ‘ibu dari Kesultanan Melayu.’ Ini merupakan jejak sejarah penting tonggak berdirinya kesultanan Melayu kali pertama di nusantara.
Petunjuk itu pula yang kembali diperlihatkan oleh Shaykh Abdalqadir as sufi. Kesultanan Bintan yang kali pertama eksis dalam menghadapi ‘imperium bankir’ yang kini menguasai dunia dan mengkooptasi negara-negara seantero dunia. Insha Allah.