JATMAN Jakarta Gelar Kuliah Tasawuf Dalam Amalan Salafush Shalih
Jakarta, Jamiyyah Ahlit Thariqah al Mu’tabarah an Nadliyyah (JATMAN) Idaroh Wustho DKI Jakarta menggelar acara seri kuliah tassawuf dengan tema ‘Sufi Dalam Peradaban.’ Sesi pertama mengambil tema ‘Tasawuf Dalam Amalan Shalafuh Shalih’ dengan pembicara Ustd. Irawan Santoso Shiddiq, Mudir JATMAN DKI Jakarta.
Acara berlangsung mulai bada sholat Ashar berjamaah di Masjid An Nahdlah, Kantor II PW Nadhlatul Ulama DKI Jakarta, Jl. TB Simatupang, Cilandak, Jakarta Selatan. Dibuka oleh moderator Ustadz Eka Syuhada, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan sholawat Nabi yang dipimpin oleh Ustadz Bary Irawan.
Selanjutnya memasuki acara puncak yakni penyampaian materi. Mudir JATMAN Jakarta menyampaikan bahwa tasawuf merupakan realitas yang telah ada sejak era Nabi Shallahuallaihiwassalam. “Dulu istilahnya belum bernama seperti tasawuf, tarekat ataupun sufisme,” paparnya.
Problem era kini, sambungnya, adalah memahami Islam dengan menggunakan mindset berpikir ala materialisme, yang hanya berpondasikan pada verbalisme atau tekstualis. “Itu pengaruh cara berpikir ala Platonis dan Aristotelian yang kini masuk ke kurikulum sekolah dan perguruan tinggi, yang sangat kurang sesuai digunakan untuk memahami DIN Islam,” pungkasnya.
Irawan Shiddiq juga menyampaikan, bahwa amalan Islam mulai dari era Nabi Shallahuallaihiwasalam, kemudian dilanjutkan dengan era Sahabat kemudian berlanjut ke era Tabiin. “Tidak ada satupun Sahabat dan Tabiin yang menuliskan Kitab, jadi kalau dicari bagaimana rujukan kitab jaman itu, ya tidak ada,” ujarnya. Lantas, tanpa adanya kitab, bagaimana para Sahabat dan Tabiin menjalankan Islam? Itulah yang disebut tradisionalis, bagaimana praktek Islam dijalankan dengan pengajaran turun temurun. “Jadi wilayah Iman, Islam, Ikhsan, semuanya dijalankan dengan model turun temurun yang diajarkan dan diamalkan, itu yang diistilahkan dengan tradisi,” pungkasnya lagi.
Acara itu dihadiri sekitar 80-an jamaah muslim dari Jakarta dan sekitarnya. Pergelaran kuliah tasawuf ini sangat diperlukan masyarakat Jakarta dan sekitarnya yang cenderung telah terpapar paham sekulerisme materialisme. “Tanpa tasawuf, Islam dirundung kekalahan,” tegas Irawan Shiddiq lagi.
Sekitar satu setengah jam memberikan ceramahnya, acara kemudian ditutup dengan pembacaan doa oleh Ustadz Sharoni dan diakhiri dengan melantunkan sholawat (diwan) ‘Fanafillah’ dari Shaykh Muhammad Ibn al Habib (Meknes, Maroko).
Rencananya seri kuliah tasawuf akan berlangsung selama 9 sesi yang bertempat di Masjid An Nahdlah, Kantor II PW NU DKI Jakarta. Berlangsug sejak ba’da sholat Ashar berjamaah.