JALAN ZIONIS MELEMAHKAN SUFI DALAM MEREBUT JERUSALEM
Irawan Santoso Shiddiq
(Mudir JATMAN Jakarta)
Jerusallem. Ini kota symbol penguasa dunia. Sesiapa menguasai Jerusallem, dialah penguasa dunia. Bangsa Yahudi, baru berhasil merebut Jerusalem dari tangan Islam, pasca dibubarkannya Daulah Utsmaniyya. Siapa dan apa Daulah Utsmaniyya? Mereka bukanlah dikendalikan paham mu’tazilah. Bukan pula oleh kaum mutakalimun. Mereka dikoordinir kaum sufi. Sejak era awal berdiri, Ertugrul Ghazi, ayah Usman Ghazi, pendiri awal Kesultanan Utsmaniyya, ditarbiyyah Syekh al Akbar Muhyidin Ibnu al Arabi. Ulama besar itu hijrah dari negerinya, Andalusia. Berjumpa dengan bangsa Turki, anak turunan Jengis Khan, yang telah memeluk Islam. Keruntuhan Andalusia, yang jadi sentral mu’tazilah saat itu, membuat lemah secara militer. Dengan mudah kaum Nasrani yang kerap gagal dalam Perang Salib, menyerbu Cordoba dan Al Hambra, 1492. Ujungnya muslimin di sana dibantai. Buah keasyikan pada sains, yang membuat Islam melemah.
Sementara di timur, Utsmaniyya telah menjejak menjadi ‘imperium tangguh.’ Mereka menjalankan Islam wa Sunnah. Syariat walhakekat tak dipisah. Tasawuf menjadi karakteristik Utsmaniyya. Sultan Al Fatih, 1453, menaklukkan Konstantinopel, berikut dengan iringan Hadra, dzikir sufi yang khas didengungkan saban malam di depan pengepugan tembok Konstantinopel. Bagi orang Romawi, dzikir Hadra itu serasa menakutkan. Roger Crowly, sejarawan Inggris menukiskannya, “Orang Islam kalua siang berperang seperti singa, kalau malam mereka menari-nari seperti orang gila,” katanya. Dia tak paham apa yang disebut ‘menari-nari seperti orang gila.’ Itulah dzikir Hadra, yang jadi senjata utama kaum muslimin sejak dulu. Sepanjang pengepungan, mereka tak bosan. Karena berkumpulnya para sufi, itulah kenikmatan, seperti kata Maulana Sidi Abu Madyan. Musyrid Sultan Fatih adalah Syekh Aaq Syamsudin. Thariqah Qadiriyya Bayramiyye. Nuansa thariqah tak lepas dari kejayaan Utsmaniyya. Pasukan elit Janisaries yang perkasa, ini dididik dalam thariqah Bektasiyya. Belakangan ini dicap sebagai pengikut syi’ah. Padahal bukan. Hingga Sultan Abdul Hamid II, penjaga gawang terakhir Utsmaniyya, kerap berdzikir Hadra saban malam Jumat. Sebuah Zawiyya di wilayah Uskudar, Turki, menjadi ajang dzikir Sang Sultan. Dia Hadra di lantai dua ‘tekke’ (Zawiyya-red) itu. Beliau dibimbing Syekh Ahmad Neyaeddin, Mursyid thariqah Naqsyabandiyya. Praktis, selama Utsmaniyya menjejak, sufisme menjadi bagian didalamnya. Karena inilah amalan Islam sejak era Rasulullah Shallahuallaihiwassalam.
Kebesaran Utsmaniyya, itulah yang dilirik bangsa Barat. Karena Jerusallem berada di kekuasaan Utsmaniyya. Kawasan Eropa timur, sampai mendekati Italia, masuk dalam jangkauan kekuasaan Ottoman. Kebesaran Sultan Fatih, telah berabad-abad menjadi ‘hantu menakutkan’ di Roma. Karena besarnya kekuatan Islam, dijalankan bangsa Ottoman di abad pertengahan. Jazirah Arabia, tak ketinggalan. Ini di bawah kekuasaan Khalifah Utsmaniyya. Sultan Sulayman, meletakkan kodifikasi qanun yang digunakan dalam Islam. Dia dikenal dengan ‘Sultan Qanuni.’ Tapi kini banyak yang terjebak. ‘Qanun’ adalah aturan di bawah syariat. Qanun, bukanlah sumber hukum utama. Karena Qanun, merujuk pada Al Quran dan Sunnah. Berbeda dengan positivisme. Qanun tak serupa dengan UU dalam hukum positif. Melainkan semacam juklak dari syariat.
Nun, Revolusi Perancis merebak di Paris, 1789. Ini kudeta perang ‘aqidah’ bangsa Eropa. Mereka bertarung perihal ‘Kehendak Tuhan’ atau ‘kehendak manusia.’ Robiespierre, pemimpin revolusi, pengusung ideologi ‘being’ adalah ‘kehendak manusia.’ Tak ada ‘Kehendak Tuhan.’ Sementara kaum Gereja Roma dan Raja, pengusung bahwa Gereja adalah pentakwil tunggal dari Wahyu. Tragedi Massacre at Paris, 1572, yang direkam Christopher Marlowe, sejarawan Perancis, menukiskan pembantaian kaum Huguenots. Mereka dicap melaku bidat. Karena dianggap menyimpang secara ‘aqidah’ oleh Roma. Edict de Worm, seabad sebelumnya, mencap pengikut Luthern dan Calvin sebagai bidat. Pelaku bidat harus dihukum. Luthern melancarkan Gerakan ‘pembaharuan Kristen.’ Revolusi Perancis, kaum ‘pembaharu’ berhasil mengkudeta kekuasaan Roma dan Raja. Louis XVI digantung di depan penjara Bastille. Simbol runtuhnya kekuasaan Gereja Roma. Perancis baru mendirikan republik. Slogannya ‘egalite, liberte, fraternite.’ Keadilan, maknanya lepas dari hukum Tuhan. Liberte, bebas dari hukum Tuhan. Fraternite, persaudaraan yang berlaku sesame pengusung ‘free will’ (kehendak bebas). Paham ini yang oleh Syekh Abdalqadir al Jilani dalam kitab Al Gunyah, dikategorikan sebagai majusi. Yang memisahkan ‘perbuatan Tuhan’ dan ‘perbuatan manusia.’ Paham free will inilah yang diusung Rene Descartes, Kant, Marx, hingga Einstein. Ini yang disebut sebagai materialisme. Sumbernya adalah filsafat. Kaum barat memungutnya dari mu’tazilah. Yang mereka dapat pasca menaklukan Andalusia, 1492.
Sutan Takdir Alisyahbana menukiskan pengaruh dua paham ini. “Di barat, Ibnu Rusyd yang menang. Sementara di timur, Imam Ghazali yang menang.” Menggambarkan pertarungan antara keduanya, dalam hal ideologi. Ghazali menyerang habis filsafat. Sementara Rusyd membela filsafat. Tapi Utsmaniyya tentu mengikuti anjuran Imam Ghazali. Kembali pada Tauhidullah. Sementara sains dan filsafat, dipungut barat. Ujungnya dari renaissance, mereka melahirkan ‘enlightenment’ (pencerahan). Ini yang melahirkan modernisme.
Klimaks dari ‘enlightenment’ itulah melahirkan Revolusi Perancis. Napoleon didapuk sebagai Kaisar Perancis baru. Dia mengkudeta Robiespierre. Syekh Abdalqadir as sufi, ulama asal Eropa berkata, “Revolusi Perancis adalah pertunjukkan nafsu syahwati manusia.” Ini yang terbukti melahirkan DNA pasca sesudahnya. Karena kaum ‘rasionalis free will’ tadi, kemudian menampakkan ‘perang syahwati’ hingga Perang Dunia II. Bukan lagi rasionalisme. Melainkan syahwatisme jadi pegangan. Karena dari Revolusi itulah melahirkan modern state. Bentuk negara modern. Pondasinya Gerakan ‘pembaharuan Kristen.’ Ini didasari masuknya filsafat. Free will. Hingga ‘Tuhan’ kemudian dieliminasi. Ideologinya kemudian menjadi ‘manusia bukanlah objek yang diamati. Melainkan subjek yang mengamati.’ Jadi manusia berhak membuat aturan hukum sendiri, tanpa Wahyu. Berhak mengatur kekuasaan sendiri, tanpa merujuk lagi kitab suci. Berhak merevisi aturan Tuhan, riba pun dihalalkan.
Dibalik ideologi itu, sekelompok kaum mendapuk untung. Merekalah bangsa Yahudi. Selama 3000 tahun mereka terserak. Tak punya wilayah. Di kerajaan Belanda, mereka mendapatkan kedudukan. Sekelompok Yahudi mendirikan VOC. Mendapat restu dari Ratu Belanda. VOC berhasil untung besar dari pertarungan ‘monopoli’ dengan Portugis yang Katolik. Kerajaan Belanda membesar dan kaya. Lalu Revolusi Inggris, 1668, para Yahudi Belanda itu ikut cawe-cawe. Kaum VOC itu mendukung Inggris keluar dari Liga Roma, Imperium Romanum Socrum. Liga kerajaan Eropa yang berada di bawah Gereja Roma. Ratu Mary I dari Inggris, dinikahkan dengan Raja William dari Belanda. Jadilah Inggris dibawah kekuasaan mereka. Kaum Yahudi. Mereka mengendalikan Raja William. Utang sebesar 25 juta Pound diberikan. Dengan bunga riba. Karena Inggris tak lagi ikut Roma, riba jadi halal. Tak lagi ikut kitab suci. Tapi konsorsium Yahudi itu meminta satu hak, mendirikan Bank of England. Inilah bank sentral pertama di dunia yang mengendalikan sebuah kerajaan.
Revolusi Perancis, mereka ekspansi. Napoleon juga diberi utang berbunga. Tapi syaratnya mesti mendirikan Bank de France, bank sentral Perancis. Napoleon jadi raja, tapi soal uang, diatur sepenuhnya oleh bank sentral. Pola ini berjalan terus sepanjang mencuatnya ‘nation state.’ Setiap ‘nation state’ berdiri, bank sentral berdiri. Empunya adalah para kaum Yahudi tadi. Karena mereka bangkit dengan bisnis riba. Berdagang dan membungakan uang. Nasabahnya adalah para ‘head of state’ yang terikat kontrak.
Barrier, lawyer Perancis, membuat kontrak perjanjian antara Napoleon dan konsorsium Yahudi untuk menyusung utang berbunga. Makanya fenomena kini, setiap ‘nation state’ memiliki utang nasional. Ini scenario kaum Yahudi mengkooptasi sebuah ‘nation.’ Doktrin ‘ration d’etat’, inilah yang didorong Machiavelli, Jean Bodin, Hobbes sampai JJ Rosseau. Paham ini yang digunakan oleh modern state, pasca Revolusi Perancis. Ideologi ini yang digunakan kaum Yahudi. Mereka mengkooptasi negeri-negeri Barat (Eropa+Amerika).
Dari Gerakan ‘pembaharuan Kristen,’ bergerak menuju modern state. Kemudian ekspansi melirik Jerusalem. Tapi saat itu, Jerusallem masih di bawah kekuasaan Daulah Utsmaniyya. Sufi yang menguasai Utsmaniyya, Moghul dan lainnya.
Di nusantara, Yahudi juga menjejak. VOC kali pertama menunjuk Jean Petterzen Coen sebagai Gubernur Jenderal. Abad 17, dia dipenggal oleh pasukan Kesultanan Mataram di bawah komando Sultan Agung. Dia dikubur di anak tangga Imogiri, untuk diinjak-injak. Coen adalah Yahudi Belanda. Setelah Coen, Gubernur Jenderal VOC memilih membayar jizya pada Sultan Mataram. Tapi siasat licik tetap dilakukan. Hasilnya Sultan Amangkurat I, lebih berpihak pada VOC ketimbang para ulama. Karena seolah dengan jizya, VOC tunduk pada syariat. Justru mereka menawarkan syahwati dunia pada beberapa pejabat Kesultanan Mataram, pasca Sultan Agung. Hingga kemudian Yahudi VOC berhasil memanfaatkan perseteruan anak turunan Mataram dalam Perjanjian Giyanti. Mataram terbelah, VOC dan penerusnya, Hindia Belanda, berhasil mengontrol kesultanan-kesultanan di Jawa dan nusantara.
Zionisme
Aneksasi kaum Yahudi dibarat, mulai dari penguasaan sentral bank hingga masuk ke jajaran elit ‘nation state,’ membuat bangsa Barat terkooptasi. Tahun 1882-1908, mereka mulai membangun ‘proyek zionisme.’ Mereka mulai melirik untuk menganeksasi Jerusallem.
Benjamin Disraeli, Yahudi yang jadi Perdana Menteri Inggris berkata, “ Jika Anda bertanya apa yang saya inginkan, jawaban saya adalah Yerusalem, semua yang telah hilang dari kita, semua yang kita inginkan, semua yang telah kita perjuangkan.”
Ali Azzali, ulama muslim Italia menuliskan, antara tahun 1882 dan 1908, gerakan Zionis pada dasarnya terdiri dari dua organisasi politik: Pecinta Zion (Hovevei Zion) dan Organisasi Zionis yang didirikan oleh Theodor Herzl. Organisasi-organisasi ini berbeda dari gerakan serupa lainnya, seperti Alliance Israelite Universelle dan Anglo Jewish Association, karena mereka mengupayakan penentuan nasib sendiri bagi orang-orang Yahudi melalui pembelian langsung tanah Jerusallem (dulu masuk wilayah Palestina).
Ali Azzali menuliskan:
“Istilah Pecinta Zion mengacu pada serangkaian gerakan yang muncul di Eropa Timur dan Rusia yang dimulai pada tahun 1882 dengan tujuan mendorong imigrasi Yahudi ke Palestina Utsmaniyah. Gagasan di balik gerakan ini adalah promosi pekerjaan pertanian. Tujuan dari Lovers of Zion adalah mendirikan moshavot (koloni), permukiman nasional Yahudi di pedesaan Palestina, dengan alasan bahwa upaya praktis semacam itu pasti akan mengarah pada penaklukan politik. Sekelompok imigran ini dianggap berjasa mendirikan Rishon LeZion, permukiman Yahudi pertama di Palestina, pada tahun 1882, berkat pendanaan dari Baron Edmond James de Rothschild. Rothschild-lah yang kemudian mendirikan kilang anggur Carmel pada tahun 1882, yang mendanai inisiatif pembuatan anggur di Rishon LeZion dan Zikhron Ya’akov. Salah satu ideolog utama gerakan ini adalah dokter Polandia Yehudah Leib [Leon] Pinsker (1821-1891).
Pinsker, yang pertama kali terinspirasi oleh cita-cita haskalah dan kemudian mendukung asimilasi dan integrasi, mengubah pendiriannya setelah pogrom Odessa pada tahun 1881, kota tempat tinggalnya, dengan keyakinan bahwa anti-Semitisme adalah fobia yang tak tersembuhkan (“… Kepada makhluk hidup, orang Yahudi adalah mayat, bagi penduduk asli adalah orang asing, bagi penduduk tetap adalah pengembara, bagi tuan tanah adalah pengemis, bagi orang miskin adalah pengeksploitasi dan jutawan, bagi patriot adalah orang tanpa kewarganegaraan, bagi semua orang adalah saingan yang dibenci”) yang baginya satu-satunya obat adalah kemerdekaan dan pengembangan kesadaran nasional.
Pada tahun 1882, ia menerbitkan pamflet anonim berbahasa Jerman berjudul Emansipasi Diri, dengan subjudul ‘Mahnruf an seine Stammgenossen, von einem russischen Jude’ (Peringatan bagi Bangsanya oleh Seorang Yahudi Rusia). Namun, Pinsker tidak mempromosikan pembentukan negara Yahudi khususnya di Palestina: “Kita tidak boleh berpegang teguh pada tempat di mana kehidupan politik kita telah diganggu dan dihancurkan dengan kekerasan. Tujuan dari upaya kita seharusnya bukan ‘Tanah Suci’, melainkan tanah kita sendiri.””
Napoleon Bonaparte
Asal usul gagasan pembentukan negara Yahudi di Palestina harus dibingkai dalam konteks ideologi nasionalis dan liberal yang lahir dari Revolusi Prancis dan disebarkan oleh ekspansi militer Napoleon Bonaparte pada tahun-tahun berikutnya. Sebagaimana diketahui, Revolusi Prancis merupakan titik balik politik yang nyata bagi orang-orang Yahudi Prancis yang diberikan kewarganegaraan dan kesetaraan hukum (1790-1) atas nama sekularisme dan toleransi beragama. Menurut perspektif ini, Bonaparte-lah yang dianggap sebagai orang pertama yang berupaya menciptakan negara-bangsa Yahudi di Tanah Suci.
Jacques Attali menulis tentang hal ini:
“Pada Maret 1798, setibanya di Alexandria (Mesir), Bonaparte mengeluarkan proklamasi yang menetapkan dewan Yahudi Mesir dan jabatan ‘imam besar’. Ia berharap untuk menduduki Acre, kemudian bergerak ke Yerusalem dan mengeluarkan proklamasi lain yang menyerukan pembentukan negara Yahudi merdeka di Palestina sebelum merebut Damaskus. Inggris, yang datang membantu Turki, memaksanya mundur; ia tidak pergi sampai ke Yerusalem dan terkejut dengan sempitnya Sungai Yordan (“Sepertinya Sungai Seine di Montereau”). Teks ‘Proklamasi kepada Bangsa Yahudi’, yang seharusnya bertanggal Tahun Fioril ke-1 VII Republik Prancis (20 April 1799), “Tahta Yerusalem”, tidak dipublikasikan. Teks ‘Zionis’ pertama dan sekaligus refleksi tentang emansipasi semua bangsa, layak dibaca karena apa yang diumumkannya sebagai sesuatu yang benar-benar baru untuk dua abad mendatang:
“Bonaparte, panglima tertinggi pasukan Republik Prancis di Afrika dan Asia, kepada pewaris sah Palestina, bangsa Israel, suatu bangsa unik yang penaklukan dan tirani telah merampas tanah leluhur mereka selama ribuan tahun, tetapi bukan nama atau eksistensi nasional mereka! […] Bangkitlah bersukacita, orang-orang buangan! Perang ini, yang tak tertandingi sepanjang sejarah, dilancarkan untuk membela diri oleh suatu bangsa yang tanah warisannya dianggap oleh musuh-musuhnya sebagai mangsa yang harus dibantai. Sekarang bangsa ini sedang membalas dendam atas dua ribu tahun kehinaan. Takdir telah mengirimku ke sini dengan pasukan muda, dibimbing oleh keadilan dan disertai kemenangan. Markas besarku berada di Yerusalem dan dalam beberapa hari aku akan berada di Damaskus, yang kedekatannya tidak lagi menjadi penyebab ketakutan bagi Kota Daud… Pewaris sah Palestina!”
Penguasaan Mesir oleh Perancis, menjadi jalan masuk Yahudi mengkooptasi Jerusallem. Prof. Harun Nasution menuliskan, masuknya Perancis ke Mesir, disertai dengan 100 filosof, saintis, teolog dan lainnya, yang menyebarkan paham rasionalisme kepada Mesir. Ini yang ujungnya melahirkan ‘kader-kader’ modernis Islam dari Mesir.
Syekh Abdalqadir as sufi menuliskan, tiga pelopor ajaran rasionalis dalam Islam, yang dijuluki sebagai ‘Pembaharu Islam’, merekalah Jamaludin al Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha. Mereka menjadi kader-kader hasil didikan modernis barat. Maka muncul paham modernis Islam. Dari sinilah lahir Gerakan ‘Turki Muda’ (Young Turk) yang menyerang Sultan Abdul Hamid II dari internal Islam. Modernis Islam ini mendesak agar Syakhul Islam dibubarkan, kesufian Utsmaniyya dihancurkan. Dari Gerakan ini melahirkan Mustafa Kemal dan pengikutnya. Paham yang dianut tentu modernisme. Neo mu’tazilah. Yang dibawa kaum zionisme kepada negeri-negeri muslim.
Karena misi Theodore Hezrl menawarkan uang untuk membeli tanah Jerusallem, ditolak mentah-mentah Sultan Abdul Hamid II.
Gerakan kubu ‘Pecinta Zion’ dari Rusia, memasuki Jerusallem (Palestina) sejak tahun 1882. Mereka para mahasiswa yang dipengaruhi Revolusi Bolshevik Rusia. Tentu pengusung ideologi sekulerisme. Mereka ingin membangun masyarakat modern di Tanah Suci. “Kami menginginkan tanah air di negara kami yang dianugerahkan oleh Tuhan. Kami akan meminta kepada Sultan. Jika hal ini tidak memungkinkan, kami akan mendirikan, di bawah perlindungan kekuatan besar, sebuah negara otonom.”
Tahun 1881, misi zionisme mengirim delegasi untuk mengajukan membeli tanah Palestina pada Sang Sultan. Tetapi permohonan tersebut tidak diterima.
Pendana utama proyek ini adalah Baron Maurice de Hirsch (1831-1896)17 dan Baron Edmond de Rothschild (1845-1934), yang menginvestasikan lebih dari £1,5 juta antara tahun 1883 dan 1899. Sebagaimana dikatakan Rothschild, yang dikutip oleh Weizmann: “Tanpa saya, kaum Zionis tidak akan mencapai apa pun; Tanpa Zionis, proyek saya pasti sudah mati.” Jadi, para bankir Yahudi, berada dibalik Gerakan zionisme, untuk merebut Jerusallem dari Utsmaniyya.
Patut diingat pula, upaya gagal dari bankir Yahudi asal Italia-Inggris, Sir Mosses Hayyim Montefiore (Livorno, 24 Oktober 1784 – Ramsgate, 28 Juli 1885), yang bernegosiasi dengan Muhammad ̔Alī Pasha, Khedive Mesir (1805-1848), serta penguasa Suriah, Levant dan Palestina (1833-1839), untuk mendirikan wilayah Yahudi otonom di Palestina di bawah protektorat Inggris pada tahun 1839. Misi itu gagal. Karena tanah Jerusallem bukan untuk dijual.
Montefiore, ini merupakan klan Rothschild tidak hanya hubungan bisnis, tetapi juga hubungan pernikahan. Setelah menikahi Judith Cohen tahun 1812, putri Levi Barent Cohen dan saudara perempuan Henriette, menikah pada tahun 1806 dengan Nathan Mayer Rothschild, melakukan perjalanan pertamanya ke Tanah Suci pada tahun 1827. Dia melakukan perjalanan kedua ke Palestina pada tahun 1839 di mana dia tinggal selama beberapa tahun (Ali Azzali, “Hezrl Dan Sultan”).
Moses Montefiore kemudian tetap membangun permukiman Yahudi pertama di Yerusalem, Mishkenot Sha’ananim, pada tahun 1860. Menurut Nahum Sokolow: “Zionisme tidak diragukan lagi merupakan aspirasi Sir Moses yang terbesar dan paling mulia.”
Gagal lewat jalur Ali Pasha, Hezrl mencoba nego langsung dengan Sultan Abdul Hamid II. Pada Juni 1896 di Istanbul, Hezrl tiba. Difasilitasi oleh Raja Phillip de Newlinski, dia mencoba mendapat mandat dari Sultan untuk mengijinkan kaum Yahudi menetap di Palestina. Imbalannya ditawarkan 20 juta Pound. Ingat, saat itu Utsmaniyya dalam krisis utang berbunga juga. Pasal tanzimat, 1840, Utsmaniyya dalam kondisi terpuruk utang. Sultan Abdul Majid I, sempat mengubah Utsmaniyya menggunakan hukum sekuler. Meninggalkan syariat Islam. Inin yang diprotes para Ulama Mursyid di Utsmaniyya. Begitu Sultan Abdul Hamid II naik tahta, hukum dikembalikan . Utsmaniyya Kembali mengenakan syariat Islam dan qanun.
Menghadapi Hezrl dengan segepok uang, Sultan Abdul Hamid tak bergeming. Dia berkata pada Raja Phillip, “Jika Tuan Herzl adalah sahabat Anda sebagaimana Anda sahabat saya, maka berilah nasihat kepadanya untuk tidak mengambil langkah lebih jauh ke arah ini. Saya tidak bisa menjual sejengkal tanah pun, karena itu bukan milik saya, melainkan milik rakyat saya. Rakyat saya menaklukkan kesultanan ini dengan berperang menggunakan darah mereka sendiri. Darah mereka telah menyuburkannya. Kita akan menutupinya kembali dengan darah kita sebelum kita membiarkannya direnggut dari kita. Biarkan orang-orang Yahudi menyimpan miliaran dolar mereka.”
Dan di sini Sultan menambahkan dengan intuisi profetik: “Jika Kekaisaran saya dibagi, mereka akan dapat memiliki Palestina tanpa kompensasi, tetapi hanya mayat kita yang akan dibagi, saya tidak akan menyetujui pembedahan.” Herzl tersentuh dan terkejut oleh kata-kata Sultan: “Ada keindahan yang tragis dalam fatalisme ini,” tulisnya dalam buku hariannya.
Gagal misi membeli tanah Palestina, proyek serangan dari dalam terus dilancarkan. Gerakan sekulerisme Turki, yang dilakukan ‘young turk’ terus dilakukan. Pengikutnya makin membesar. Zionis menemukan kadernya, Mustafa Kemal. Dia memimpin agar Utsmaniyya direvolusi.
Ditambah Gerakan dari jazirah Arabia. Ibnu Saud dan Muhammad ibn Abdul Wahab berkolaborasi memberontak terhadap pemimpin yang sah, Sultan Utsmaniyya. Mereka mendapat dukungan Inggris, Laurence Arabia, melancarkan operasi mendukung Gerakan Saud dan Wahabi. Merongrong kekuasaan Utsmaniyya. Tuduhan sufi sesat, bidah, dilancarkan. Ini hanya strategi seolah mereka tak layak dituduh ‘bughot’ (pemberontak). Karena dalam Islam, memberontak pada pemimpin Islam, dikategorikan bughot. Makanya tuduhan Utsmaniyya menyimpag secara aqidah, dilancarkan. Sejak itulah penyerangan terhadap sufisme terus dilakukan. Hingga kini.
Dua gelombang internal, kaum modernis Islam dan wahabi, ini menyerang Utsmaniyya dari dalam. Ditambah tekanan kuffar, zionisme, yang terus menekan agar Utsmaniyya digulingkan. Pasca Sultan Abdul Hamid II dikudeta, maka Mustafa Kemal mengumumkan pembubarahn Daulah Utsmaniyya. Berdirinya Republik Turki. Program sekulerisasi Turki dilakukan. Ujungnya, seabad sudah, Turki tetap ketinggalan. Tak dipandang bangsa-bangsa barat manapun. “Mereka bermimpi ingin duduk semeja dengan kaum kuffar, padahal tak diterima,” kata Syekh Abdalqadir as sufi.
Dibubarkannya Utsmaniyya, maka jalan Yahudi mendirikan negara di Palestina, dengan mudah. Tapi dengan tanpa keluar uang.
Kaum zionis paham, Jerusallem tetap akan berada digenggaman mereka, sejauh muslimin tetap hidup mengikuti cara-cara mereka. Ini yang diwanti-wanti Sultan Abdul Hamid dulu. Karena dia tahu bagaimana kekuatan dan kelemahan kuffar.
Bernard Lewis, sejarawan Yahudi Amerika sudah mengingatkan, “Musuh terbesar kita adalah Darwish sufi,” katanya. Karena para Darwish sufi, inilah jantung penggerak Utsmaniyya. Ini yang dibidik zionisme sebagai musuh utama. Mereka penjaga tradisi Islam tetap berjalan.
Tak heran, penyerangan terhadap sufi tak berhenti. Karena itu menjaga kelanggengan kekuasaan mereka di Jerusallem.
Abad 12 lalu, kala Sultan Salahuddin Al Ayyubi memimpin pasukan Islam merebut Kembali Jerusallem, sufi juga jadi kata kunci. Sultan Salahuddin adalah ahlu dzikir yang agung. Beliau Bersama murid-murid Imam Ghazali dan Sayidinna Syekh Abdalqadir al Jailani. Mereka yang bergerak merebut Kembali Jerusallem dari tangan kekuasaan dinasti Baldwin, pengikut Nasrani Roma.
Itu yang dipahami kuffar. Mereka melemahkan Islam, dengan jalan memisahkan tasawuf dari umat. Sufi seolah ‘dikandangkan.’ Terkurung dalam bilik-bilik zawiya, tekke, seolah hanya berada di ranah hakekat. Tanpa syariat. Mustafa Kemal, Gerakan awal setelah membubarkan Utsmaniyya, dia memburu para Darwish, mengejar para Mursyid dan membunuhnya. Wahabiyya juga pesta pora merebut Haramayn dari tangan kekuasaan Islam, dengan mencaci maki amaliah Islam Sunnah. Tapi mereka tak pernah berambisi merebut Kembali Jerusallem kepada kekuasaannya. Karena mereka lahir dari puak yang sama.
Muassis Nadhlatul Ulama (NU) menyadari ini. Sekte yang muncul dalam Islam, wahabi dan rasionalis (Rasyid Ridha, Abduh), adalah sekte sesat yang berbahaya bagi umat Islam. Inilah dasar NU didirikan, menjaga tradisi Islam tetap hidup. Tapi pesan ini seolah terbengkalai.
Zionisme berjaya dengan system yang mereka bangun. Sistem ini kini menguasai dunia. Modern state telah lumpuh. Soverignty tiada. Yahudi mengkooptasi sentral bank, mengendalikan boneka-boneka. Sekulerisme jadi patokan system yang melanggengkan zionisme. Taka da jalan merebut Jerusallem dengan model sekulerisme pula. Tapi dengan Kembali pada kekuatan Islam. Bak Sultan Salahuddin dan Sultan Abdul Hamid. Mereka membuktikan kekuatan dan rahasia tasawuf.
Syekh Abdalqadir as sufi, Mursyid thariqah Qadiriyya Syadziliyya Dharqawiyya, berkata, “Bangunlah para kuda-kuda perang, karena kalian terlalu banyak merumput!!”