Pesan Untuk Jamaah Muslim Eropa
Oleh: Syekh Abdalqadir as Sufi
Orang-orang yang memiliki ilmu tentang Kitab dan Sunnah Islam terbagi menjadi dua jenis: mutakallimun dan mutawasifun.
Mutakallimun adalah orang-orang berilmu melalui verifikasi dan melalui studi terhadap dasar-dasar agama kita (DIN). Adapun mutasawifun bukanlah orang-orang dengan (hanya) kata-kata, melainkan orang-orang dengan dzauq (rasa), “Mereka adalah orang-orang yang menghidupkan ilmu.”
Ketika alim besar Ibnu Rusyd wafat di puncak gunung, Syekh al-Akbar Muhyiddin Ibn Arabi naik untuk memastikan bahwa ia dimakamkan dengan layak. Karena secara alami, seperti banyak mutakallimun lainnya waktu itu, ia telah jatuh dalam ketidak-senangan penguasa pada masanya.
Ketika hendak menguburkannya, mereka menyadari bahwa mereka tidak bisa menggali kubur di sana karena gunung itu terlalu berbatu. Mereka membawa jasadnya turun gunung, tetapi tubuhnya sudah kaku, dan mereka tidak dapat membawanya di atas bagal. Maka mereka masuk ke dalam gua, mengambil buku-bukunya dan menggunakannya sebagai pemberat penyeimbang untuk mengangkutnya di sisi lain.
Begitulah akhir lelaki agung itu. Pada saat itu, Ibnu Arabi—yang dilimpahi ilmu—bertanya pada dirinya: “Apakah ini akhir dari perkara?” Apakah begini akhirnya? Masih ada lebih dari itu! Dan “yang lebih” itulah yang menjadikannya termasuk golongan ahwal, dalam maqam Syekh al-Akbar.
Pada masa para suyukh besar tasawuf, suluk seorang murid adalah sesuatu yang sangat terdefinisi: zuhud, tajrid, dan himmah. Suluk dibangun di atas tiga unsur ini.
Suluk adalah mematahkan nafs pencari; ini mengandaikan bahwa nafs adalah “sesuatu” yang harus dipatahkan. Mereka mengenakan pakaian sederhana sebagai “obat”, memakai tasbih tebal untuk berdzikir, dan mengemis; bahkan mereka ada yang berpakaian seperti orang gila agar dijauhi, termasuk oleh orang-orang terpandang yang sebenarnya mereka kasihi.
Demikianlah bentuk para fuqara (faqir ilmu-red) hingga masa Syekh Muhammad ibn al-Habib (radhiyallahu ‘anhu). Beliau dan juga Mursyid-ku yang kedua mengetahui masa-masa zuhud dan disiplin berat itu. Namun Syekh Muhammad Ibn al-Habib, dengan maqam ruhani yang agung, melihat bahwa zaman telah berubah; manusia tidak lagi memiliki nafs yang besar untuk dipatahkan; nafs mereka sudah runtuh di hadapan kekuatan kufur yang telah menginvasi dunia Muslim dan kini memerintah mereka tanpa pengecualian.
Maka beliau mengumpulkan para fuqaranya dan berkata: “Berpakaianlah seperti orang-orang terbaik dalam berpakaian, seolah-olah kalian selalu menuju Jumat, dan berbaurlah dengan orang-orang dunia agar mereka tidak mengenali kalian.”
Syekh Muhammad Ibn al-Habib menyadari bahwa dibutuhkan nafs yang sehat, agar kemungkinan untuk mematahkannya bisa muncul.
Semua ini bukan untuk mengubah pondasi tasawuf, atau menafikan bahwa nafs adalah artefak ilusi yang tidak memiliki eksistensi mandiri, dan bahwa ia dapat dipatahkan dan dihancurkan oleh seni agung—seni para ahlinya.
Maka pelajaran bagi masa depan Islam sangat sederhana: agar Islam memiliki masa depan, manusia harus menemukan kembali bahwa mereka memiliki rahasia dengan Allah. Musuh hari ini bukan syirik internal, melainkan syirik eksternal. Dan yang paling bertanggung jawab adalah para “ulama” yang dengan kebodohan mereka telah melanggar aturan lama para pengikut Imam Malik. Aturan itu adalah: jangan duduk bersama para penguasa, dan jangan makan dari makanan mereka.
Suatu ketika salah satu mufti awal mazhab Madinah menjadi otoritas di Kairo. Ada seseorang yang pergi ke istana yang disediakan untuk mufti itu untuk meminta fatwa. Tidak ada seorang pun di istana. Ia mencarinya di antara orang-orang miskin dan menemukannya di sudut, mengenakan jubah tua, duduk di jalan, makan roti dengan minyak. Mereka berkata: “Itulah muftinya.”
Itu zaman yang berbeda—zaman ketika ilmu masih aman di tangan orang-orang terdahulu, para pengikut ajaran Imam Malik. Seorang lelaki yang diangkat menjadi mufti diperintahkan untuk mengenakan jubah khusus. Ia berkata, “Ini akan menjadikanku seperti para pendeta Kristen.” Sang Amir berkata marah, “Karena ia membangkang, penggal kepalanya.” Ia menjawab: “Kalau begitu penggal saja, aku tak bisa melakukannya karena itu akan merusak tradisi.” Untuk menyelesaikan persoalan itu, seseorang dari keluarga terpandang berkata: “Aku membawa jubah bergaris dari Yaman, yang bisa dia kenakan.” Maka persoalan pun selesai. Itulah tasawuf.
Namun hari ini kita melihat kelompok-kelompok politik Islam ingin menegakkan DIN Islam. Semua hukum mungkin tercantum dalam program mereka, tetapi syariat ditegakkan oleh komunitas manusia yang ingin mengikuti—sebaik mungkin—jalan yang telah diletakkan oleh Rasulullah ﷺ.
(Kebanyakan) orang Arab telah menjadi bagian dari ‘tarekat’ orang-orang kafir; mereka mencintai yang terakhir dan malu pada orang tua mereka yang masih berpegang pada DIN. Ini terjadi karena mereka tidak membangun anak-anak mereka. Tidak masuk akal seorang faqir dengan janggut, tasbih, dan dzikirnya, sementara anaknya pergi bersama kaum kufur. Seorang pemuda harus dibangun batu demi batu hingga menjadi tembok terhadap yang haram dan penjaga bagi yang halal. Langkah demi langkah. Beginilah Rasulullah ﷺ membangun Madinah. Para sahabat mencintai Rasulullah ﷺ.
Kita tidak bisa memaksa anak-anak mencintai Islam; mereka harus melihat cinta di antara kaum Muslimin. Dan ini hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang menempatkan kewajiban dan dzikir mereka di atas segala sesuatu di dunia.
Kaum Muslimin kini telah mengikuti Barat selama 200 tahun, seakan-akan mereka ingin mewujudkan hadis tentang “biawak yang masuk ke lubangnya.” Inilah keadaan kita: kalah di semua lini. Lihatlah kaum miskin di Bosnia; mereka datang ke pintu-pintu masjid untuk shalat jenazah dan hampir tidak tahu bagaimana mengucapkan syahadat; hal yang sama terjadi di mana-mana. Pembangunan yang mereka perjuangkan justru menjadi kehancuran mereka sendiri.
Kini menjadi tanggung jawab kaum Muslimin di Eropa untuk mengambil DIN yang telah ditolak oleh orang Arab, karena mereka berada di bawah pedang musuh. Kita harus mulai membangun anak-anak kita dengan kesabaran besar dan sikap tegas terhadap para ulama di negeri mana pun yang tidak menegakkan zakat. Ahli syariat telah mengkhianati syariat, dan ahli hakikatlah yang akan menegakkan syariat. Tidak ada selain mereka yang dapat melakukannya. InsyaAllah. Amin.
Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang saling mencintai dan menegakkan DIN. Dan berikanlah kami cinta kepada Rasul-Mu, Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
*Penulis adalah Mursyid thariqah Qadiriyya-Syadziliyya-Dharqawiyya. Lahir di kota Ayr (Skotlandia) tahun 1930 dan wafat di Cape Town, Afrika Selatan (2021). Beliau berkebangsaan Inggris. Murid-muridnya tersebar di berbagai negara Eropa dan Amerika, Malaysia, Maroko dan Indonesia. Ceramah ini disampaikan di Weimar, Jerman, tahun 1995.