Rida K. Liamsi: “Kesultanan Bintan Memiliki Sejarah Besar”

Tanjung Pinang,- Ratusan mahasiswa dan tamu undanngan memadati ruangan auditorium Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), Jumat pagi (25/11/22) lalu. Pasalnya sejak pagi, Kesultanan Bintan Darul Masyhur menggelar kajian ilmu ‘Sejarah dan Masa Depan Kesultanan Bintan”. Kajian ilmu ini diisi dengan pemateri dari berbagai daerah. Datok Rida K. Liamsi, sejarawan ternama dari negeri Melayu menjadi pameteri pertama. Kemudian hadir juga Ustadz Umar Azmon Amirhasan dari Kuala Lumpur, Malaysia. Dan Irawan Santoso Shiddiq, cendikiawan muslim dari Jakarta.

Acara dibuka oleh Sultan Huzrin Hood selaku Sultan Bintan Darul Masyhur. Dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa acara ini sangat penting untuk memahami bagaimana sejarah Kesultanan Bintan dan masa depan Kesultanan Bintan. “Kesultanan Bintan merupakan harapan bagi kaum muslimin untuk melawan system riba yang kini mewabah,” katanya.

Hal itu diperkuat dengan pandangan dari Rida K. Liamsi. Sejarawan terkemuka itu memaparkan tentang epos Kesultanan Bintan dari masa ke masa. Beliau menjabarkan tentang asal usul Kesultanan Bintan, yang juga masuknya Islam di negeri Bintan. “Bisa dilihat dari ditemukannya batu bersurat di Gunung Bintan, itu menunjukkan Islam telah lama hadir di Bintan,” paparnya.

Dari gambaran yang disampaikannya, Bintan dulunya merupakan sebuah imperium Melayu yang sangat besar dan berwibawa. Tapi lambat laun menjadi mengecil seiring perkembangan jaman. “Dulu bintan dari sebuah imperium kini hanya seperti sebuah kecamatan saja,” tandasnya.

Dari situlah Rida Liamsi menjelaskan bahwa Kesultanan Bintan merupakan suatu istilah yang tak berbeda yang dipergunakan kesultanan lainnya di Indonesia. “Seperti Kesultanan Cirebon, Kesultanan Deli, Ternate, dan lainnya,” tegasnya. Pemimpinnya, sambungnya, bisa disebut Sultan, pemangku adat, Yang Dipertuan besar, atau lainnya. Inilah ciri khas dari masyarakat adat Indonesia.

Di akhir penyampaiannya, Rida Liamsi berpesan agar masyarakat Bintan memahami sejarahnya untuk bisa maju bersama-sama.

Selain itu, pembicara kedua, Umar Azmon, memaparkan tentang situasi dunia yang kini terserang virus demokrasi dan modern state yang membuat pola kesultanan Islam menjadi hancur. “Jalan keluarnya adalah umat Islam harus kembali pada kesultanan,” tegasnya.

Irawan Santoso Shiddiq menambahkan bahwa jalan menuju kembalinya marwah negeri Melayu harus dilalui dengan menegakkan Kesultanan Bintan ini. “Penegakan kembali rukun Zakat menjadi jalan agar kekuasan dan kekayaan kembali Bersatu dalam kaum muslimin, itu memerlukan Ulil Amri Minkum (pemimpin muslimin). Nah, pemimpin muslimin itulah yang disebut Sultan,” tegasnya.

Irawan menganjurkan agar masyarakt muslim Bintan dan sekitarnya menegakkan kembali rukun Zakat mal kepada Kesultanan Bintan Darul Masyhur. “Telah tersedia Baitul Mal Kesultanan Bintan, jalan untuk menampung Zakat,” tukasnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wordpress Social Share Plugin powered by Ultimatelysocial