Sultan Huzrin Hood Jalani Titah Kesultanan Sesuai Kitab Raja Ali Haji

Tanjung Pinang,- Kajian ilmu berlangsung di Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjung Pinang berjudul “Menegakkan Kesultanan” dengan studi kitab ‘Tsamarat al Muhimmah’ karya Raja Ali Haji dan kitab ‘Sultaniyya’ karya Shaykh Abdalqadir as sufi berlangsung Kamis, 22 Desember 2022 lalu. Kajian berlangsung sejak pukul 8.00 WIB pagi dihadiri ratusan peserta dari berbagai kalangan.

Dalam acara ilmiah itu, mengetengahkan pembicara Prof. Assoc. Dr. Abdul Malik, MPD, seorang sejarawan Melayu terkemuka, Umar Azmon Amirhasan, ulama dari Kuala Lumpur (Malaysia) dan Irawan Santoso Shiddiq (Cendikiawan Muslim) dari Jakarta. Sultan Huzrin Hood memberikan kata sambutannya tentang perjalanan sejarah kesultanan secara umum, dan perkembangan kesultanan-kesultanan Melayu di era modern. “Dulu Raja Haji Fisabilillah selalu membaca dan mengamalkan Dhalail Khairot dalam setiap masa untuk menghadapi perjuangan melawan penjajah, kini kita layak mengamalkan kembali,” paparnya.

Rektor UMRAH, Prof. Dr. Agung Dhamar Syakti, SPI, DEA kemudian mendapatkan hadiah sebuah kitab ‘Dhalail Khoirot” dari Sultan Huzrin Hood selepas memberikan kata sambutan dalam acara itu. “Kita berharap UMRAH pun dapat mengamalkan kitab ini dalam kehidupan kesehariannya,” pesan Sultan Huzrin.

Kemudian acara kajian ilmu pun diisi dengan penuh semangat dari para pembicara. Umar Azmon dari Malaysia dan Irawan Santodo Shiddiq membedah kitab ‘Tsamarat al Muhimmah’ dan kitab ‘Sultaniyya’ karya Shaykh Abdalqadir as sufi. Sebelumnya Prof. Assoc. Dr. Abdul Malik, MPD memberikan gambaran utuh tentang kitab ‘Tsamarat al Muhimmah’ bagi kepemimpinan.

Dalam penuturan Umar Azmon, kitab ‘Tsamarat al Muhimmah’ itulah yang dijalankan secara perlahan oleh Sultan Huzrin Hood kini. “Penegakan kesultanan sangat penting dan relevan di masa kini karena kita dibekali kitab Tsamarat al Muhimmah oleh Sayyidi Raja Ali Haji, ini harus kita amalkan dan Kesultanan Bintan dibawah Sultan Huzrin Hood secara perlahan mengamalkannya,” tambah Irawan Santoso Shiddiq tegas.

Acara kajian ilmu ini pun menarik banyak antusiasme masyarakat. Banyak yang berharap acara kajian seperti ini harus selalu dijalankan untuk mengembalikan marwah dan harkat negeri Melayu. “Melayu itu selalu identik dengan adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah, ini yang harus kembali lagi,” ujar Irawan Santoso Shiddiq menambahkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wordpress Social Share Plugin powered by Ultimatelysocial