SHAYKH ABDALQADIR AS SUFI: “TASAWWUF ADALAH FUTUWWA, MAKRIFATULLAH ADALAH RAHASIA”
SUATU PENGANTAR SEBAGAI HASIL DARI WAWANCARA DENGAN SHAYKH DR. ABDALQADIR AS-SUFI
Kata Pengantar
Saya melakukan wawancara ini dengan Shaykh Dr. Abdalqadir as-Sufi sebagai bagian dari penelitian saya untuk mendapatkan gelar PhD berupa tesis dengan judul: “Epistemologi Sufi Bertemu dengan Modernitas di dalam Tarekat dari Guru Sufi Abdalqadir as-Sufi.” Wawancara tersebut diterbitkan untuk kemaslahatan fuqara dan siapa saja yang ingin belajar mengenai Islam dan Sufisme.
Shaykh Dr. Abdalqadir telah menunjukkan bahwa: (i) Sufisme berasal dari dalam Islam; (ii) syariat dan Sufisme sungguh-sungguh terhubung tanpa adanya pemisahan sedikit pun; dan (iii) ilmu politik merupakan unsur yang paling mendasar dari syariat.
Lebih jauh lagi Shaykh Dr. Abdalqadir telah memberi isyarat bahwa segala macam perangkat untuk menyelesaikan kunci-kunci permasalahan yang ada di masyarakat saat ini dapat ditemukan di dalam kitab Muwatta dari Imam Malik bin Anas. Pengajaran Imam Malik mengenai Amal Ahli Madinah (praktek dari tiga generasi pertama Muslim di Madinah) menghapus pemisahan antara aspek Batin dan aspek Zahir dari kepribadian manusia; memiliki metodologi untuk menentukan tingkah-laku yang benar (usul fikih); dan menegaskan hubungan antara kekuatan politik dan iman. Bagi Imam Malik, praktek atau tingkah-laku merupakan bukti adanya pengetahuan, atau dengan kata lain, Amal Ahli Madinah menjamin bahwa teori dan praktek tidak terpisahkan. DIN Islam di dalam pandangan Imam Malik bukanlah sesuatu yang orang teorikan, tetapi sesuatu yang orang lakukan dan kebenaran dari DIN diperoleh melalui tindakan amal dan perbuatan, yang pada akhirnya mengarah kepada pengetahuan dengan tingkat yang lebih mendalam atas segala sesuatu yang telah diciptakan (makrifat).
Shaykh Dr. Abdalqadir menunjukkan bahwa ketika ada suatu pemisahan antara dimensi batin dan zahir dari kepribadian manusia, seperti yang lazim di dalam masyarakat modern, makhluk yang bernama manusia kehilangan kontak dengan realitas (hakikat). Psikosis massa yang terjadi di masyarakat modern tidak tinggal di dalam penerimaan orang atas versi dari penyebar propaganda dan versi yang telah dibuat fiksi oleh oleh media atas kapitalisme dan demokrasi. Itu adalah isu sekunder. Penyebab primer atas psikosis tersebut terletak pada inti dari sistim kapitalis, yaitu kekuatan penggeraknya, yang berupa pasokan uang riba dan oligarkinya. Shaykh Dr. Abdalqadir mewakili pandangan bahwa penyebab krisis peradaban modern adalah penolakan bimbingan Ketuhanan dan beliau telah mencurahkan segenap hidupnya untuk untuk membuat panduan yang tersedia bagi umat manusia. Shaykh Dr. Abdalqadir adalah seorang Syaikh Tarbiyah (instruktur) dan pemimpin dari Tarekat Qadiriyah Syadziliyah Darqawiyah. Beliau adalah pendiri dari Dallas College dan Murabitun World Movement.
Riyad Asvat
20 September tahun 2013
ISI WAWANCARA
Riyad: Terima kasih banyak, Shaykh Dr. Abdalqadir as-Sufi, untuk kesediaan waktu Anda. Pertanyaan saya adalah mengerucut dan mendasar tapi jangan ragu untuk meluangkan waktu saat menjawabnya.
Shaykh Dr. Abdalqadir as-Sufi: Saya hendak berkomentar, kalau boleh. Saya hanya ingin mengatakan bahwa dari hari pertama saya menjadi Muslim sampai sekarang hanya ada satu poin saja yang mana dengan satu poin itu saya merubah posisi dan pandangan saya, dan poin itu adalah ketika saya diajak untuk ber-Khalwa oleh Shaykh al-Fayturi. Ketika saya selesai ber-Khalwa saya dalam keadaan yang boleh dibilang seperti orang kebingungan, dan saya berkata, “Apa yang harus saya lakukan?” Shaykh al-Fayturi berkata, “Setelah Engkau pergi ke Baitullah, tidak ada tempat lain untuk pergi lagi kecuali Madinah.” Sejak saat itulah, yakni satu poin yang saya maksud di atas, saya menyadari bahwa fondasi paling dasar dari Islam telah ditinggalkan.
Dalam perkara Tasawwuf ada suatu hal yang dapat diterima sebagai kebenaran tanpa adanya pembuktian dan setiap orang setuju bahwa tidak ada Sufisme tanpa Syariat Islam. Karenanya kebenaran dari perkara tersebut adalah bahwa Islam telah ditinggalkan. Anda tidak dapat ber-Tasawwuf secara penuh kecuali jika Anda menegakkan Rukun Islam. Sekarang, rukun Zakat telah runtuh, karena sekarang ini di mana saja, tidak ada satu tempat pun di mana Zakat dipungut secara paksa oleh amil Zakat. Zakat bukanlah sedekah yang diberikan secara sukarela, tetapi harus dipungut secara paksa. Itu merupakan fondasi dari negeri Muslim.
Di dalam Qur’an Allah subhanahuwata’ala berfirman: Murnikan dirimu dengan Zakat. Seperti halnya Tasawwuf menjadi permurnian dari nafsu, ini bermakna Anda tidak dapat ber-Tasawwuf kecuali jika Anda ber-Zakat. Sehingga dengan demikian Anda tidak dapat berbicara mengenai ‘tempat’ dan ‘mahqom’, Anda tidak dapat berbicara mengenai dzauq, Anda bahkan tidak boleh berbicara mengenai fana’ dan baqa’ ketika Anda tidak mengerjakan Rukun Zakat. Anda tidak dapat memiliki Sufisme di dalam suatu rumah dengan sekat-sekat yang memisahkan. Itulah yang benar-benar menjadi poin.
Semua karya untuk menegakkan kembali rukun-rukun di dalam fikih telah bertentangan dengan ditinggalkannya DIN Islam, utamanya oleh orang-orang Arab itu sendiri. Pembubaran dari hal itu dan pengungkapan penipuan dari ide bahwa Syiah adalah sekte Islam –tapi nyatanya mereka justru anti-Islam – semuanya telah menjadi latar belakang dari aktivitas saya.
Untuk meringkas, saya akan mengatakan bahwa Tasawuf adalah Futuwa. Tasawuf bukan Makrifat. Makrifat adalah rahasia dari Tasawuf, tetapi Tasawuf itu sendiri adalah Futuwa. Tasawuf adalah pembangunan dan penciptaan perilaku yang baik di dalam jamaah. Tasawuf, tersembunyi di dalamnya adalah rahasia makrifat dan hanya Allah yang mengetahui ke mana rahasia tersebut diberikan kepada fuqara (faqir ilmu, sebutan untuk murid dari Shaykh Abdalqadir as sufi-red). Itulah posisi mendasar yang saya miliki: Tasawuf adalah Futuwa dan rahasianya adalah Makrifat – bukan kebalikannya seperti yang Anda dapati di anak benua dan Afrika Utara.
Imam al-Junaid berkata, “Seandainya saya tahu bahwa ada ilmu yang lebih tinggi daripada Tasawuf saya akan mendatanginya dengan merangkak.” Itu adalah suatu ilmu tetapi poinnya adalah bahwa ilmu itu tidak berubah sama sekali. Ada suatu realisme di dalam diri manusia berpengetahuan bahwa manusia harus beradaptasi kepada hal-hal yang ada di depan mereka. Ada seorang Sufi besar yang tinggal bersemedi di pegunungan Tafilalet Maroko dan dia mendengar bahwa suku di pegunungan tersebut mulai menyembah roh hewan dengan segala macam pernak-perniknya, sehingga dia bergegas untuk membersihkan semuanya. Dari mulut ke mulut berita tersebut sampai kepada fuqaha di Fes, Maroko: “Oh, Sufi ini berdakwah kepada orang gunung” dan orang alim dari Fes ini berkata, “Saya mau ke sana untuk memeriksanya.” Rombongan ini adalah para alim ulama hebat dari Fes. Kemudian orang alim tersebut pergi ke gunung dan dia masuk ke dalam suatu Masjid yang tidak terlalu besar, dan salah seorang petani menghentakkan kaki dengan sepatu botnya yang berlumuran lumpur dan kotor dan solat dua rakaat, dan orang alim tersebut melihat dengan cara yang mengerikan pada jejak sepatu bot yang begitu banyak di dalam Masjid. Kemudian dia menemui sang Sufi adan berkata, “Saya ada di Masjid dan seorang petani datang dengan mengenakan sepatu bot! Saya kira Engkau telah mengajari mereka Islam!” Sang Sufi berkata, “Lihat sini, saya telah menghabiskan waktu dua tahun untuk membawa mereka masuk ke dalam Masjid. ANDA yang harusnya mengupayakan agar sepatu bot itu bisa dilepas!” Itulah Tasawuf. Tasawuf adalah mengetahui – Tasawuf adalah mengetahui diri. Pengetahuan akan diri bukanlah psikologinya pengikut Sigmund Freud, pengetahuan akan diri bukanlah psikiatri, pengenalan diri bersifat eksistensial.
Riyad: Tren intelektual apa yang mempengaruhi Anda untuk masuk Islam?
Shaykh Dr. Abdalqadir as-Sufi: Ya, kita sebenarnya tidak suka dengan kata ‘masuk.’ Muslim tidak suka kata ‘masuk’ karena itu artinya Anda berada jauh di luar kewajaran. Kristen adalah agama yang tidak wajar, memaksakan suatu ideologi transksi sihir – roti dan anggur dan lain-lain. Yahudi adalah agama kesukuan sehingga murni, tetapi hanya untuk orang-orang di dalam suku itu sendiri. Saya tidak bisa ‘masuk’ ke dalam agama Yahudi karena saya bukanlah salah seorang dari anggota suku tersebut, tetapi Anda masuk Kristen karena Anda merubah realitas dan percaya bahwa roti adalah daging dan anggur adalah darah, sehingga Anda terpaksa harus masuk ke zona imajinasi.
Sekarang, Islam adalah DIN Fitrah. Islam adalah muamalah (perdagangan) yang wajar. Artinya, menjadi Muslim seperti halnya bangun dari tidur dan mengenali berbagai hal. Itu adalah pengenalan. Kita berkata bahwa Anda masuk Islam, seperti halnya masuk ke suatu rumah. Ketika Muslim menaklukkan suatu wilayah mereka berkata mereka ‘membuka’ wilayah itu kepada Islam.
Sesuai dengan pertanyaan Anda, seandainya saja saya tahu jawabannya maka saya mengetahui segala hal! Maksud saya, pada dasarnya semua hal mengerikan yang saya lakukan, semua hal menakutkan yang saya lakukan, membawa saya kepada suatu titik di mana saya harus menanyakan pertanyaan serius. Karena itu bukan karena kebaikan saya, saya dapat menjadi Muslim tetapi oleh serangkaian perbuatan salah yang begitu menakjubkan yang untuk semua itu saya sangat bersyukur!
Riyad: Bagaimana dan kapan Anda memeluk Islam?
Shaykh Dr. Abdalqadir as-Sufi: Terlalu lama untuk diingat. Hampir setengah abad lalu! Ya, saya menjadi Muslim, saya mengucapkan Syahadat, dengan Imam Khatib dari Masjid Qarawiyyin di Fes dan yang menjadi saksi untuk saya adalah Shaykh Abdulkarim Daudi, sang Imam, dan Allal al-Fassi yang merupakan kepala dari Partai Istiqlal di Maroko. Allal al-Fassi adalah seorang modernis dan dia adalah seorang lawan militan dari Raja. Dia berkata kepada saya, “Tidak ada hubungannya dengan para Sufi.” Saya kemudian berkata kepadanya, “Apa yang Anda katakan tentang Shaykh Muhammad ibn al-Habib?” dan kenyataannya Shaykh Muhammad ibn al-Habib telah mengajari Allal al-Fassi bahasa Arab di Qarawiyyin dan Allal al-Fassi terkenal karena bahasa Arabnya yang bagus, diskursusnya terkenal. Ketika saya menyebutkan namanya dia berkata, “Ya, beliau Shaykh Muhammad ibn al-Habib berbeda!”
Begitu pula ketika saya melihat bahwa orang-orang melihat hal-hal di luar seolah-olah ‘mereka adalah ulama’, ‘mereka adalah para Sufi’, ‘mereka adalah para modernis’ – mereka memisahkan itu semua. Tetapi kebenarannya adalah bahwa, kecuali Syiah, kita semua solat bersama dan kita tidak melihat diri sendiri dengan cara, seperti yang orang luar lakukan. Saya bertemu dengan beberapa orang Somalia di lain hari dan saya berkata, “Saya berdoa untuk para Sufi dan untuk para Wahabi dan untuk para bajak laut di kalangan kalian!”
Riyad: Apa alasan Anda memeluk Islam?
Shaykh Dr. Abdalqadir as-Sufi: Semua alasan yang ada di dunia. Alasan itu sendiri! Di masa muda saya bertemu dengan banyak Pendeta Kristen yang sangat dihormati di dalam komunitas Kristen, salah seorangnya adalah Charles Raven, salah seorang ahli teologi Gereja Inggris. Charles Raven adalah seseorang yang sangat mempesona, dia adalah wakil kanselir dari Universitas Cambridge dan profesor di sana, dia mengatakan kepada saya bahwa dulunya dia tidak percaya pada apa pun. Dia mulai mempelajari ilmu tentang burung dan dia berkata kepada saya, “Ilmu tentang burung meyakinkan kepada saya tentang keberadaan Tuhan karena saya dihadapkan dengan sesuatu yang sangat rumit, canggih, dan sinkronisitas kejadian di dunia burung sehingga tidak ada cara lain selain mengenalinya sebagai fenomena spiritual dan dan bersifat ketuhanan. Saya menjadi orang beriman melalui ilmu tentang burung – dan ajaran Gereja Inggris bagi saya hanya sebatas atmosfir di mana saya memenuhi tugas saya kepada Tuhan.” Saya rasa Anda dapat berkata bahwa saya melakukan hal yang sama.
Riyad: Apa yang membuatmu condong ke Sufi?
Syaikh Dr. Abdalqadir as-Sufi: Aku tidak ‘condong’ ke Sufi. Aku tahu itu adalah inti dari ilmu dalam Islam dan aku tahu bahwa kamu tidak bisa mendapatkannya tanpa Islam. Aku tahu kamu harus masuk Islam untuk hal ini. Orang Barat mengira kamu bisa menjadi Sufi tanpa Islam – gangster, seperti Idris Shah dan pengikut-pengikutnya. Kamu tidak bisa melakukannya. Kamu harus masuk Islam dan Al-Qur’an mengatakan: “Masuklah ke rumah melalui pintu-pintunya.” Jadi seseorang harus masuk dengan mengucapkan Syahadat, dan Syahadat berarti bersaksi. Itu berarti bersaksi dan Tasawuf dari satu sudut pandang berarti menyaksikan (musyahadah-red) Sang Ilahi. Pertanyaan yang menarik!
*Wawancata dilakukan oleh sidi Riyad Asvat, muslim asal Inggris yang menetap di Australia. Wawancara dilakukan di Dallas House, Cape Town, Afrika Selatan, tanggal 31 Januari tahun 2012. Alih Bahasa oleh Muhammad Andi Sofyan.