Pesan ‘Moussem’ Shaykh Abdalqadir as sufi Tahun 2022 Di Cape Town
A’udzu billahi-minasy-syaithanir rajiim
Bismillahir Rahmanir Rahim
Kita dikumpulkan di sini akhir pekan ini untuk memperingati milad Shaykh Abdalqadir as-Sufi. Untuk benar – benar memperingatinya kita perlu untuk mengingatkan diri kita sendiri atas apa yang menjadi pengajaran beliau dan apa yang beliau bawakan kepada kita selama masa hidupnya. Beliau tidak menyeru kepada dirinya sendiri, tetapi untuk mengingat Allah dan Rasul-Nya sallallahu ‘alayhi wa sallim, dan apa yang didirikan di Madinah sebagai cetak biru bagi semua manusia, dimana DIN Islam dipraktekkan dan didirikan dalam bentuk paling sempurna dan murninya.
Sebagaimana yang beliau katakan di bagian awal Root Islamic Education (Akar Pendidikan Islam):
“Islam tidaklah, dan tidak akan pernah, secara definisi, dalam krisis atau memerlukan perubahan revisionis. Islam, Al Quran dan Sunnah, tidaklah berubah di semua tempat sampai hari akhir. (Islam) itu sendiri merupakan kritik dan keseimbangan – prinsip yang dengannya semua perbuatan manusia diukur dan direvisi dan diubah.”
Selama hidupnya, secara konstan beliau menyeru kita kepada amal, tidak membiarkan kita selesai dan menetap pada keadaan yang sama dari satu tahun ke tahun berikutnya, beliau menyeru kita untuk dalam perubahan, untuk bergerak, pergi melampaui diri kita sendiri, menjadi manusia merdeka, untuk menjadi manusia yang komplit dan untuk menggapai puncak dari apa yang kita mampu, untuk menjadi orang – orang yang merdeka dalam penolakan dan penerimaan.
Beliau sering meminta kita untuk melakukan hal yang tidak mungkin, tetapi selalu ada sebuah pengajaran di dalamnya, beliau mengetahui kekuatan seluruhnya milik Allah dan hanya bisa dikaitkan dengan-Nya, dan (jika) kita menganggap segala sesuatu yang lain memiliki kekuatan adalah syirk.
Jadi tidak ada yang terlalu besar untuk dilakukan ketika mencoba untuk mendirikan apa yang Allah perintahkan, dan bagaimannya Dia telah mengintruksikan kita untuk hidup. Kita seringkali melihat pada kehidupan dan melihat diri kita sendiri lemah dan seolah – olah kita tidak bisa lagi mempraktekkan dan menegakkan apa yang Dien perintahkan pada kita, atau bahkan mencoba untuk mengoreksi apa yang salah dan menegakkan kembali apa yang hilang sebagai sistem dan struktur dunia yang kita hidup di dalamnya terlihat sangat paten dan padat, tapi itu adalah omong kosong, tidak ada yang kekal (fixed) di dunia, tidak ada, kita harus memandang eksistensi dengan kacamata La hawla wa la quwwata illa-billah dan melindungi diri kita sendiri dari memandang kekuatan bersandar pada selain Allah.
Tidak ada struktur, ide, atau sistem manusia yang dibayangkan dapat bertahan pada apa yang sudah Allah perintahkan, kita tidak selalu mengetahui jalannya, tapi kita perlu berbuat, dan jika kita berbuat menurut apa yang kita tahu, Allah akan memberikan kita pengetahuan bagi apa yang kita tidak ketahui.
Shaykh Abdalqadir dalam banyak kesempatan mengatakan pada kita bahwa kita harus memahami zaman dimana kita hidup dan melihatnya dengan jelas.
Salah satu yang menjadi berhala besar zaman ini adalah sistem keuangan dan uang yang kita gunakan. Beliau melihat ilusi dibalik ini ketika seluruh dunia, termasuk dunia Muslim jatuh di sana secara keseluruhan. Sistem keuangan yang kita lihat dan saksikan telah membawa kehancuran pada pelanet, hutan – hutannya, samuderanya, udaranya dan semua makhluk yang ada di dalamnya.
Sebuah sistem keuangan yang mengandung Riba di dalam setiap transaksinya, transaksi yang kita semua lakukan dan setiap orang di pelanet ini setiap harinya. Riba, sebagaimana kita semua mengetahuinya, Allah telah menyatakan perang padanya, dan dikatakan, itu 40 kali lebih buruk dari menzinahi ibumu sendiri di depan Ka’bah. Imam Malik berkata, “Tidak boleh ada penambahan (Riba), sekalipun hanya sehelai rumput kering.” Ketika direfleksikan, benar – benar direfleksikan, ini sangatlah berat. Apakah kita akan menjadi bagian dari sesuatu yang Allah telah menyatakan perang terhadapnya? Tidak, jadi kita harus kembali kepada apa yang diizinkan (Allah).
Sistem keuangan dimana kita di dalamnya ini, Shaykh Abdalqadir sering mengatakan “Adalah sebuah penipuan sebagaimana Fir’aun dengan dirinya sendiri memerintah dan berkuasa atas masyarakat Mesir, dengan ilusi, dan orang – orang memberikan ilusi itu kekuatan.”
Ketika semua orang telah terjatuh di sana, Shaykh Abdalqadir melihatnya dan memberitahu kita kehancuran itu dan bagaimana itu mencemari segala sesuatu yang kita bersentuhan dengannya di zaman ini.
Dalam segala sesuatunya beliau mengingatkan kita tentang kontrak utama kita dengan Allah, ketika Dia, subhanahu wa ta’ala berfirman, “Alastu bi Rabbikum,” dan semuanya menjawab, “Iya,” dan kita merupakan salah satu dimana Allah, subhanahu wa ta’ala, pilih untu mengingat kontrak itu dan mengikuti Nabi Muhammad, sallallahu ‘alayhi wa sallim, untuk membangkitkan kemballi DIN di zaman kita hidup, dalam keorisinilannya bentuk Madinah, dimana tidak ada pemisahan antara ‘ibadah dan muamalat.
Kemudian Shaykh Abdalqadir mengingatkan kembali tentang , ‘Al DIN Al Muamalat.’ Bahwa pemisahan antara ibadat dan muamalat tidaklah ada. Bagi Mu’min sejati, tidak ada ibadah tanpa muamalah dan tidak ada muamalah tanpa ibadah. Itu semua tidak bisa terpisahkan. Keseluruhan hidup kita adalah kesempatan untuk menyembah dan setiap tindakan penyembahan, kita berinteraksi dan terlibat dengan aspek – aspek dari ciptaan Tuhan. DIN ini bukanlah agama, ini adalah sebuah transaksi-hidup, yang mana, ketika dipraktekkan dengan baik, membawa keadilan, kemakmuran, kesehatan dan keseimbangan pada dunia dan semua yang hidup di dalamnya. Shaykh Abdalqadir dalam satu waktu mengatakan, secara produk Islam adalah peradaban, yang telah kita lihat di setiap zaman bahwa kita memiliki Khilafah dan ketika DIN ditegakkan secara bentuk komplitnya.
Beliau berkata pada kita selain menjadi bagian dari Tariqah Darqawi atau Nakshabandi Tariqah, kita semua berada pada Tariqa Muhammadia dan kebangkitan kembalinya dan menegakkan apa yang hilang di dalam DIN merupakan kewajiban kita semua. Kita semua harus secara konstan me-re-evaluasi persoalan yang ada di kehidupan kita menurut kebijaksanaan agung dari cahaya DIN Islam yang Allah anugerahi kepada kita.
Salah satu kewajiban teragung dari semua ialah membangkitkan pilar yang runtuh dari zakat, yakni itu ditarik, didistribusikan dan diberikan dijalan yang diperintahkan oleh Allah.
Untuk melakukan itu kita haruslah memilki seorang Amir (Pemimpin), sebagaimana Shaykh Habib Bewley, berkata dalam salah satu Khutbahnya tentang zakat, ‘aspek esensial dari zakat hanya dapat dipenuhi dengan kepemimpinan. Kepemimpinan itu jelas kurang di era modern. Khilafah telah tiada di abad ini, tetapi itu tidak menghentikan kita untuk mengembalikan bentuk yang benarnya. DIN ini tidak dimulai dengan negara massif dengan jutaan orang di bawah otoritas sentral, ini dimulai dari sebuah komunitas di sebuah lokasi. Dan komunitas itu memiliki pemimpin. Hanyalah itu jalannya bahwa komunitas itu akan menjadi komunitas – memiliki pemimpin.
Allah berfirman dalam surat at-Taubah:
“Tariklah sedekah dari kekayaan mereka untuk menyucikan dan membersihkan mereka.”
Menurut para Mufassir, kata sedekah di dalam ayat itu mengacu khusus pada zakat, dan Nabi telah menunjukkan dalam kapasitasnya sebagai pemimpin Muslim, bukan kapasitasnya sebagai Rasul. Jadi instruksi ini adalah langsung tertuju pada setiap pemimpin Muslim.
Inilah yang menjadi pemahaman dari Sayyidina Abu Bakr, sehingga ketika para suku/kaum yang membayar zakat kepada Nabi menolak untuk membayar kepadanya, ia berkata:
“Demi Allah, aku akan memerangi siapapun yang membedakan antara shalat dan zakat. Zakat merupakan hak yang harus dibayar atas kekayaan. Demi Allah, jika mereka menolakku bahkan untuk seekor kambing muda yang biasa mereka bayarkan kepada Rasul Allah, aku akan memerangi mereka untuknya.”
Dia tidak meninggalkannya begitu saja untuk hati nurani mereka, dia bersikeras agar mereka memberikannya secara langsung kepadanya dan kepada orang yang ditunjuk olehnya.
Dan itulah realitas dari zakat, itu diambil dan didistribusikan oleh otoritas, tidak diberikan dan didistribusikan secara individual. Itulah yang menjadi pemahaman dari orang yang agung dari Ummat ini dan posisi dari 4 madzhab.
Kita memiliki seorang Amir, Hajj Rhomeez (Amir di Cape Town-red) yang kita percayakan untuk penarikan zakat, ia mengambil zakat kita mengikuti pola yang sama sebagaimana yang diikuti Ummat di masa awal (Islam) dan ini bentuk yang sama yang diikuti oleh semua komunitas kita, di seluruh dunia yang dibentuk oleh Shaykh (Abdalqadir as sufi-red).
Dan untuk lebih lanjutnya pemahamanmu tentang kewajiban dan perlunya seorang Amir, saya akan merekomendasikan setiap orang mempelajari Khutbah yang Hajj Abdalhasib Castiniera sampaikan pada hari Jum’at.
Saya tahu kebanyakan dari kalian semua mengetahui perihal ini, tetapi saya menyebutkannya karena inilah tugas kita dan pekerjaan hidup kita dan apa yang telah kita percaya dengannya, orang – orang yang mengetahui tidaklah sama dengan orang yang tidak mengetahui, tidak akan mempertanyakan tentang apa yang orang lain lakukan. Kita harus tetap mendorong diri kita sendiri di jalan yang sama dengan yang Shaykh Abdalqadir akan lakukan dan berpegang teguh pada apa yang diserahkan pada kita.
Tidak seorang pun dari kita harus menunda dengan cara apapun dengan berpikir bahwa dengan mengambil pekerjaan ini, apakah itu akan mencegah kita dari menempa jalan kita sendiri di dunia. Jalan ini adalah jalan kesuksesan, di dunia ini dan setelahnya. Madinah memiliki semuanya, orang- orang yang paling kaya dan orang – orang paling miskin, tetapi mereka hidup bersebelahan dan bersamaan, dan kita memiliki keduanya dari keekstriman ini yang merupakan sebuah tanda bagi sebuah komunitas yang benar dan diberkahi, sebagai seorang yang kaya raya haruslah berbagi dan yang miskin dalam kebutuhan, tetapi kita tidak menahan seseorang yang mengungguli yang lain, kita melihat hati dan amal mereka, sebagaimana yang kita ketahui, Wali itu tersembunyi dan bisa jadi siapapun di antara kita. Kita tidak menghakimi satu sama lain, karena tidak seorangpun dari kita tahu takdir kita. Kita tahu dari Sirah mereka yang ditakdirkan Allah untuk Taman (Syurga) kadang – kadang tidak terduga dan apa yang membuat mereka memasukinya, ialah sebuah amal kecil dari kemurahan hati dan kasih sayang, dan yang Dia takdirkan ke Api (Neraka) kadang – kadang tak terduga dan karena mereka memandang rendah orang lain dan bangga atas amal perbuatannya. Jadi kita lebih baiknya memiliki kasih sayang, pemaafan dan kemurahan hati satu sama lain dengan harapan Allah mengasih sayangi, mengampuni dan bermurah hati kepada kita.
Ketika kita bertindak seperti ini satu sama lain, ini akan terjalin sebuah kedekatan yang kuat dan persaudaraan diantara kita, Shaykh Abdalqadir telah menyampaikan pada kita bahwa Tariqah ini, Tariqah Darqawiyya adalah sebuah persaudaraan, dimana saudara kita adalah tersayang bagi kita dibanding segala sesuatunya di dunia ini. Beliau berkata,
“Ikatan diantara kalian semua adalah sesuatu yang mana di seluruh dunia telah hilang, seluruh peradaban di zaman sekarang ini telah jatuh di hadapan mata kalian, ini menghilang, ini runtuh dan akan datang anarki yang besar, kekacauan yang besar, dan pada titik itu satu – satunya hubungan jejaring manusia yang akan ada adalah orang – orang yang mencintai Allah dan yang mengikuti Tariqah Rasul, shallallahu ‘alayhi wa sallim, Tariqah Muhammadiya. Di setiap tempat merekalah orang- orang yang akan bertahan dari badai – badai dan tsunami – tsunami peristiwa, yang sudah mulai terjadi di antara kita, dan kalian semua akan aman karena kalian semua akan berpegang bersama dimanapun kalian berada, dan kalian akan membentuk organisasi – organisasi dan struktur – struktur dan pola – pola dan rencana – rencana yang bahkan kita tidak bisa bayangkan sekarang, dalam rangka bertahan di waktu – waktu ini. Kalian semua akan melakukannya dengan nama Allah dan dengan ikatan itu yang ada di depanmu, di sampingmu, di hadapanmu, persaudaraan Tariqah.”
Shaykh Abdalqadir mendirikan komunitas ini lintas dunia dan dijiwai oleh kualitas Khidmah, futuwwa dan adab pada pria dan wanita.
Komunitas yang di jantungnya memiliki orang – orang yang menyebut Allah dalam kelompok dan kesendirian, dengan adab yang tertinggi, keguncangan dan ketulusan. Beliau menunjukkan kepada kita adab yakni saat melakukan dzikir sehingga memungkinkan kita memperoleh yang paling bermanfaat darinya dan beliau menyampaikan kita haruslah konsisten dengannya, khususnya wirid, yang kita semua telah dihadiahinya, dan harus berpegang teguh padanya, karena itu adalah penyelamatan dan pembimbingan. Bimbingan datang dari Allah, bukan dari diri kita sendiri, Dia-lah al-Hadi, dan ini dengan berpegang pada dzikir dan wirid jadi Allah akan membimbing kita.
Kita tidak dapat menghentikan dzikir bagaimanapun, kita harus melibatkannya dengan dunia, seru orang kepada Islam dan berada di jalan perjuangan untuk meletakkan sesuatu dengan benar dari apa yang hilang dari DIN Islam.
Para Sufi selalu di barisan terdepan dalam menjunjung tinggi DIN. Shaykh Abdalqadir telah berkata kepada kita, beliau berkata
“Yang menjadi subjek bagi setiap faqir ada soal Futuwwah. Futuwwah adalah kebajikan, itu merupakan kebajikan spiritual. Ini kebajikan dari seorang kesatria, bukan kebajikan dari seseorang di masyarakat sipil, tetapi seseorang yang di barisan depan perjuangan, fii sabilillah. Futuwwah terkandung di dalam para lelaki dan perempuan Allah yang mulia.”
“inilah semua tentangnya, dan inilah sesuatu yang datang dengan keseluruhan tubuh Jama’ah. Seseorang tidak dapat menjadi seperti itu dengan dirinya sendiri. Dia tidak bisa memilikinya. Ini semacam satu tubuh dari orang – orang yang memilikinya dan ini adalah karakter dan perlaku yang unggul.”
Ketika kita memiliki komunitas – komunitas terikat bersama di jalan ini, dengan kualitas futuwwah, birr, adab dan assabiyyah, komunitas di bawah seorang Pemimpin, tindakan – tindakan kita, apa – apa yang kita kerjakan, kehidupan kita akan menjadi da’wa dan sebuah contoh kepada semua orang dan akan bertindak layaknya magnet melukis orang – orang terbaik di setiap perjalanan kehidupan, orang – orang yang memiliki pengenalan terhadap kebenaran.
Ketika dalam satu generasi selama periode Khulafah Rasyidun kaum Muslim sampai pada pintu gerbang China dan Eropa, Tanah yang ditaklukkan dengan pedang, tetapi orang – orang datang berbondong – bonding ke pelukan Islam, dengan apa yang dibawa oleh Islam dan sebuah pengenalan terhadap kebenarannya dan keadilan. Kebenaran, keadilan dan penyelamat yang sama yang diserukan dunia di zaman ini. Sesuatu yang besar dimulai dari kecil dan jalan untuk merestorasi DIN ini tidaklah melewati beberapa ide besar soal Khalifah dikenakan dari atas tetapi dengan meletakkannya dalam praktek pola – pola atas Ummat agung ini telah bentuk.
Inilah mengapa Shaykh Abdalqadir membawa dan mewariskannya kepada kita dan apa yang kita harus lanjutkan. Tidak seorangpun bisa mewujudkan semua ajaran Shaykh Abdalqadir sendirian, tetapi semua dari kita bersama Bersatu sebagai sebuah komunitas bisa mewujudkan semua ajarannya, dan Insyaallah, meletakkan itu semua ke dalam praktek pada diri kita sendiri dan tanah kita.
Untuk mengakhirinya saya ingin membacakan sebuah bagian kecil dari apa yang Shaykh Abdalqadir berikan, dimana beliau mengatakan,
“Rasul, sallallahu ‘alayhi wa sallim, telah diutus dengan pesan, Beliau diutus untuk seluruh manusia, tetapi ingat kalian adalah orang – orang yang merespon dalam kepatuhan atas pesan tersebut, karena itu kalian harus memahami bahwa kalian telah ditempatkan sebagai elit di atas orang – orang lain di dunia. Dalam pengertian itu kalian harus mengambil tanggung jawab dimana Allah telah menempatkan kalian dalam tanggung jawab atas semua makhluk, bumi, lautan, udara, dan makhluk – makhluk di udara dan makhluk – makhluk di lautan dan makhluk – makhluk di daratan, mereka semua dalam tanggung jawabmu. Kalian bertanggung jawab untuk menyaksikan mereka dijaga, dan dihormati dan diizinkan untuk melakukan sebagaimana untuk apa Allah menciptakan mereka, sebanding kalian bertanggung jawab di zaman kalian hidup.
Kalian orang – orang yang harus mengambil alih kebangkitan dari orang – orang untuk menyembah Allah Subhanahu wa ta’ala, dan kepatuhan kepada Rasul, sallallahu ‘alayhi wa sallim, kalian adalah orang – orang yang harus memimpin dengan teladan, bukan dengan kata – kata, tetapi dengan kehadiranmu dan dengan amal perbuatanmu, orang – orang yang akan mentransformasi masyarakat di zaman kalian hidup.
Ini zamannya untuk Islam bangkit, karena waktu hidupmu masih ada, sampai sekarang pesan dari Islam belum terdengar atau tersampaikan, sekarang ini di tangan kalian, ini datang kepadamu dan kalian harus mengambilnya, dan kalian harus dalam Jamaah, kalian harus melakukannya bersama, kalian harus berkolaborasi, dan kalian harus membantu satu sama lain, tetapi ingat Allah telah memberi pertanda dalam Al Qur’an bahwa sewaktu – waktu sejumlah kecil orang yang dapat merubah sebuah situasi yang besar, inilah takdir dimana Allah telah membawa kalian dan kalian harus memenuhinya dengan fii sabilillah.”
Kita mohonkan kepada Allah untuk memberkahi Nabi Muhammad, shallallahu ‘alayhi wa sallim, dan keluarga dan para sahabatnya, dan kita mohonkan kepada Allah untuk memberkahi Sayyidina Shaykh Abdalqadir as-Sufi… dan kita mohonkan kepada Allah untuk memberkahi, memberi perlindungan dan meninggikan derajat pada semua Suyukh Tariqah ini. Kita mohonkan kepada Allah untuk memberkahi para tetua dalam komunitas ini dimanapun mereka menemukan dirinya, pria dan wanita, yang masih bersama kita dan yang telah pergi. Kita mohonkan kepada Allah untuk memberkahi mereka, meninggikan derajat mereka, menguatkan mereka, memberikan mereka kesehatan, dan memberi ganjaran kepada mereka tanpa henti dan berkelanjutan atas apa yang mereka lakukan selama mereka hidup. Mereka berdiri bahu – membahu dengan Shaykh Abdalqadir selama kehidupan mereka, kita melihat dan menyaksikan mereka, dan mereka meletakkan fondasi untuk semua yang kita punyai, mereka memberikan anak – anak muda mereka, keluarga, harta, berhijrah dari waktu ke waktu lagi, berpegang teguh, memikirkan dan terus mengajar kita, mereka berdiri di lantai dan mewujudkan apa yang Shaykh wariskan pada mereka dan kita mohonkan kepada Allah untuk memberkahi mereka atas amal – amal yang mereka lakukan. Ya Allah! Kita mohonkan kepada-Mu untuk kami bisa menghormati mereka, berbicara baik tentang mereka dan memperhatikan mereka. Kita mohonkan kepada Allah untuk memberkahi semua yang telah berpulang mendahului kita, untuk memberikan mereka derajat yang tinggi dan berkumpul dengan manusia – manusia terbaik.
Kita mohonkan kepada Allah untuk memberi kesuksesan pada Dallas Collage, meningkatkannya, bawalah pelajar – pelajar yang layak, dan membuat kami menyadari pentingnya itu dan aspirasi Shaykh Abdalqadir padanya, dan orang – orang yang lulus dari situ. Kita mohonkan kepada Allah untuk memberkahi, meningkatkan, melindungi, dan melapangan rezeki untuk semua yang konsisten dengan perjuangan untuk mendirikan itu semua lebih dari 20 tahun, kita mohonkan kepada Allah untuk membuat mereka bisa menanam sebuah benih yang akan bersemi dan tumbuh dan seseorang yang akan kita saksikan buahnya untuk tahun – tahun kedepan.
Kita mohonkan kepada Allah untuk memberkahi dan memberi kekuatan kepada semua dari kita, memberikan kita keberanian dan kemurahan hati dari Rasul, shallallahu ‘alayhi wa sallim. Jadikanlah kami orang – orang yang saudaranya terlindungi dari lidah kita dan membuat kita menjadi orang – orang yang menyaksikan dan berkata Haqq.
*Ceramah ini disampaikan oleh H. Abdarrazak Redpath Bin Abdul Aziz Redpath, seorang ulama besar yang wafat di Amerika Serikat. Ceramah disampaikan pada Hari kesatu Moussem Shaykh Abdalqadir as sufi tahun 2022 di The Jumua Mosque of Cape Town, kota Cape Town, Afrika Selatan. Ceramah ini berisikan pesan-pesan penting dari pengajaran Shaykh Abdalqadir as sufi, ulama asal Skotlandia yang wafat di Cape Town tahun 2021 lalu.