TEKNIK SEBAGAI ‘KEPERCAYAAN’ MANUSIA MODERN
28 Juli 2013
Beberapa tahun yang lalu saya diminta untuk memberikan Pidato Utama pada Konferensi Negara-negara Islam yang kedua, tentang Ilmu Statistik yang diselenggarakan di Malaysia. Pada saat menerima teks dari orang Saudi di konferensi tersebut, dengan jelas pendatang baru membuka wacana, secara kategoris melarang teks tersebut untuk dibaca keras-keras. Namun berkat bantuan dari Sekertaris Konferensi, naskah itu kemudian bisa dibaca secara jelas atas perintahnya kepada para delegasi. Dua hal yang menarik perhatian saya kepada Naskah ini yang nampak relevan bagi ramalan saat ini dari serbuan bencana di dalam proyek manusia.
Pertama, pada saat mempelajari tulisan dari Nicolas Werth saya menemukan kunci pernyataan, yang ditulis untuk menandakan fondasi teoritis dari peristiwa Great Terror pada tahun 1937 di Rusia.
Werth, di dalam menjelaskan asal mula dari peristiwa Great Terror, melacak awal dimulainya di tahun 1930-33 ketika hampir 2,5 juta orang laki-laki, perempuan dan anak-anak, dideportasi di dalam suatu program politik yang luas yang memerintahkan ‘likuidasi dari koulak, yakni kelas kepemilikan kecil’. Program ini memiliki dua tujuan: Pertama, penghapusan dari suatu kelas yang memusuhi kolektivisasi pertanian. Kedua, dengan memenjarakan dan mendeportasi untuk mengisi teritori yang kosong yang kaya akan sumber daya alam mineralnya.
Rekayasa sosial ini didefinisikan sebagai ‘kultur statistik’. Metode ini membolehkan penjatahan ‘kuota’ yang mana setiap zona, dibagi menjadi dua kategori: 1 – deportasi atau Goulag dan 2 – eksekusi.
Model ini telah dirancang, siap untuk diterapkan di skala seukuran suatu bangsa dalam bentuk pembunuhan masal yang terjadi di tahun 1937.
Kedua, disintegrasi yang pesat dari dari susunan masyarakat pada masyarakat demokratis terdahulu di benua Amerika dan Eropa, membuat saya sadar bahwa sedikit sekali orang yang menyerap dan memahami – yakni bukan kesamaan kita dengan Soviet dan Rusia, tetapi lebih kepada hal-hal yang bahkan telah kita alami lebih buruk dari itu.
Adapun hal yang mendasari fase kekosongan sementara dari rekayasa sosial di tahun 1930 sampai kepada puncaknya Teror di tahun 1937, telah menjadi alas suatu penemuan yang mendasar dari legalitasnya (yang secara teoritis aman) berupa kewarganegaraan berdasarkan paspor yang merupakan hal baru, yang pada akhirnya memerlukan pengesahan oleh Agen Rahasia. Sekali saja seseorang dicatat dan diamati, pembantaian masal dapat mulai dilakukan.
Kehadiran dari seorang individu yang sendirian dan tidak memiliki negara, yang berakhir di bagian transit bandara Moskow, telah memperingatkan kita bahwa para bankir dunia dan elit Korporasi yang saat ini memerintah – sebagai orang bebas, tetapi sebenarnya tidak, karena sesungguhnya lebih bebas dari para diktator di abad ke-20 – karena memiliki kendali yang lebih besar atas diri kita dan memonitor kita di dalam detail yang lebih terperinci ketimbang yang dilakukan oleh Agen Rahasia Rusia. Inilah yang disebut ilmu penghapusan, pengucilan yang dengan mudah membuat lawan menjadi mati sekarang terjadi secara masif di dalam suatu sistim operasi penafsiran, penelanjangan-dokumen, didengungkan lalu dihilangkan.
Apa yang telah menggantikan masyarakat yang menyembah Tuhan – dari tiga agama monoteistik – adalah masyarakat tidak bertuhan (sekuler!) yang secara membabi-buta mematuhi logika dari sistim teknik. Teknik dan semua logika yang mengharuskannya, saat ini memutuskan hasil akhir dari berbagai peristiwa.
Ikhwan dulunya adalah suatu kekejian manusia, meniadakan Islam, namun terlalu manusiawi. Penghapusan mereka di kala itu adalah wajib. Namun, di tempat mereka telah ditemukan minyak Arab dengan pragmatisme mereka, mendanai dan patuh pada dialektika kapitalis. Mereka bukan hanya para penganut ateis baru – mereka bahkan adalah para penganut Stalin baru.
……
Dengan demikian, saya memperingatkan para ilmuwan, dan bahkan orang-orang Saudi yang mengetahui bahwa suara saya seharusnya tidak didengar.
II Konferensi Negara-negara Islam mengenai Ilmu Statistik
Prosedur Statistik dan Nilai Manusia
Oleh: Shaykh Dr. Abdalqadir as-Sufi
Sebagaimana halnya pengantar pidato, hal tersebut dibebankan kepada saya untuk mengeluarkan suatu ekspresi atas kepentingan para kolega saya yang akan menunjuk konferensi ini, sungguh, dari semua delegasi yang hadir kami haturkan penghargaan dan rasa terima kasih untuk peristiwa intelektual yang penting ini.
Pertama-tama, terima kasih kepada Dr. Munir Ahmed, Kepala Komite Organisasi Internasional di Saudi Arabia dan kepada Dr. Abdulaziz Abdulghani, Kepala konferensi, dan juga Sekertaris konferensi Zuhaimi Haji Ismail. Kemudian kita berikan penghargaan kepada kontribusi penting dari sponsor dan pengatur acara, departemen Matematika, Universiti Teknologi Malaysia, dan Masyarakat Islam Saudi Arabia yang menangani ilmu Statistik.
Bukanlah niat saya di dalam pidato utama ini untuk membangkitkan isu pengujian kritis pada metode statistik yang akan melibatkan moral dan bahkan pilihan politik. Dan bukan juga niatan saya, untuk menunjuk isu-isu serius dari metodologi dan cakupan kompetensi yang dihadapi oleh ilmu-ilmu sains lainnya. Peranan yang paling berguna dari Pidato Utama ini bukanlah untuk menunjuk subjek-subjek di dalam Konferensi itu sendiri, tetapi lebih kepada mencoba menempatkan subjek-subjek itu di dalam konteks bermakna dari wacana saat ini.
Ilmu statistik, atau lebih tepat kita katakan, ilmu demonstrasi dan analisa statistik, yakni, satu ilmu yang memiliki karakteristik tersendiri guna menunjukkan susunan informasi statistik atau memang, aktivasi bukti statistik ke dalam bingkai kerja analitik, dengan jelas berdiri di antara ilmu matematika dan ilmu bahasa, yang dengan demikian, tidak akan ada ilmu statistik, tanpa adanya ilmu matematika dan ilmu bahasa.
Ide di permukaan bahwa bahasa di dalam ranah statistik hanya memainkan suatu peran deskriptif, sebagaimana memang seperti itulah peranannya, atau bahwa bahasa non-statistik akan tetap primitif bawaannya, yang jelas-jelas gagal melihat persoalan penting yang merupakan isu sesungguhnya. Dengan kata lain, saya menyarankan bahwa pertahanan strukturalis moderen atas isme sains, yang bergerak atas nama sains dan filosofi atau isme empiris logis, tidak dapat menggenggam tema ini karena telah dengan jelas ditempatkan di dalam ranah dari proses fenomena logis dan metode hermenetika. Persoalan dari situasi ilmu statistik tersebut, ada di antara bahasa dan matematika harus dipikirkan secara menyeluruh.
Karena tidak dapat secara kasar ditempatkan bahwa penggunaan bahasa di dalam menegosiasikan peristiwa statistik adalah semata-mata instrument, ini menandakan bahwa postur dari bahasa itu sendiri tidak lebih dari suatu alat yang tidak dapat dipertahankan. Hans-Georg Gadamer, filosof terbesar yang pernah hidup di dalam tradisi logika fenomena, telah dengan jelas menyatakan: “Bahasa bukanlah suatu pengatur instrumen, suatu alat, yang kita terapkan, tetapi elemen yang mana kita hidup dan dengan bahasa kita tidak akan pernah mengobjektifkan sejauh bahasa berhenti mengelilingi kita.”
Gadamer, sadar akan peristiwa yang hampir ditutup ini, mitos bahwa sains dapat ‘berbicara’ tanpa bahasa perlu untuk mendeklarasikannya: “…sains telah membebaskan dirinya sendiri dari bahasa sejauh ia mengembangkan sistim simbolnya dan konstruksi simboliknya sendiri yang tidak rentan kepada penerjemahan menjadi bahasa kesadaran sehari-hari. Tidakkah ini membuat kita mengarah kepada masa depan yang tanpa bahasa, adaptasi tanpa kata yang membuat pengesahan logika menjadi diabaikan?” Arti dari ini adalah suatu hasil sebagaimana yang digambarkan dalam pandangan Gadamer: “Tidak ada prinsip logis yang lebih tinggi melebihi kebebasan.”
Sekarang, sementara ilmu-ilmu tertentu dapat menggunakan penghindaran yang paling ekstrim dari ilmu bahasa ini, ilmu statistik tidak bisa. Jadi, ilmu statistik bukan hanya tidak bisa menggolongkan bahasa di bawah disiplinnya sebagai suatu alat penyokong, tetapi ia juga tidak dapat menghindari kehadiran dari bahasa di dalam tindakan mengklaim kebermaknaan untuk menunjukkan data atau analisis statistik. Jebakan yang menghadapi prosedur fundamental yang merupakan negosiasi dari cakupan atau analisa statistik adalah asumsi yang menarik bahwa model matematika akan mengesahkan bingkai linguistik.
Michel Foucault, di dalam suatu upaya untuk menyelamatkan tatanan yang tidak dapat dipertanyakan dari sistim strukturalis, menawarkan posisi reformis yang mana teksnya, sebagaimana adanya, dilihat dari bentuknya, bukanlah bahasa tetapi lebih kepada pernyataan. Seolah-olah, dengan mendefinisikan ulang bahwa bingkai linguistik sebagai sejenis persamaan paralel berdampingan dengan ilmu matematika, bagaimana pun kenyataan dari bentuknya akan menggosok habis bingkai verbal.
Namun, alangkah tepatnya apabila pertama-tama kita lihat dulu keadaan metode sains sebelum menguji lebih jauh sifat dari bungkus bahasa. Hal tersebut tidak selalu dihargai di luar Eropa, bahwa kekuasaan yang bersifat teknologi tidak semata-mata hasil dari prosedur spesifiknya tetapi merupakan hasil dari pencarian mendalam atas tradisi filsafat, yakni filsafatnya Immanuel Kant asal Jerman di dalam karakternya tetapi berasal dari Yunani di awal permulaannya. Inilah tradisi yang terus berlanjut, yang berpusat di Jerman Selatan, yang melihat peristiwa di tahun 1927 sebagai hal terbesar yang paling penting.
Martin Heidegger menerbitkan karya terbesarnya, “Sein und Zeit” (Ada dan Waktu). Di dalam ucapan Gadamer: “Martin Heidegger merubah kesadaran filsafat atas waktu dengan satu hentakan.” Gadamer melanjutkan: “…skema cemerlang dari Ada (being) dan Waktu benar-benar bermakna sebagai suatu perubahan bentuk menyeluruh dari iklim intelektual, suatu perubahan bentuk yang memiliki efek bertahan pada hampir semua jurusan ilmu sains… Mungkin sama seperti kejadian di abad V di Atena, ketika para anak muda, di bawah panji dialektik sofistik dan Sokratik, menundukkan semua bentuk konvensional atas otoritas, hukum, dan adat istiadat dengan pertanyaan radikal baru, begitu pula radikalisme dari pertanyaan-pertanyaan atas Heidegger yang dihasilkan di universitas-universitas di Jerman menjadi suatu efek yang memabukkan yang meninggalkan semua moderasi di belakangnya. Kini (pemikiran ini) telah masuk di mana-mana dan bekerja di alam bawah sadar, sering tidak dikenali, sering memancing penolakan – tetapi hampir tidak ada satu hal pun sekarang ini yang dapat dipikirkan tanpa itu.”
Heidegger mendefinisikan manusia sebagai Dasein, suatu makhluk yang diciptakan dengan tujuan supaya Ada. Guna menggantikan subjek mutlak milik Immanuel Kant di dalam dunia benda-benda, Heidegger menggaris-bawahi suatu dinamika yang membungkus kesadaran yang terjerat di dalam dunia dan di dalam tubuh, terlilit di dalam bermacam-macam respon sosial dan pribadi beserta segala macam isyaratnya. Dasein adalah suatu ciptaan yang terjatuh ke dunia, diendapkan oleh keterlibatan di dalam waktu dengan kedaruratan akan deru laju menghadapi kematian, sungguh bentuk krisis Dasein bukanlah interupsi atas rasa takut akan tujuan pengamatan tetapi keharusan realitas yang membolehkan Dasein untuk menghadapi sifatnya yang sesungguhnya dipercepat. Ini bukanlah isme psikologi tetapi demonstrasi pengujian fenomena logis yang mempesona atas kondisi manusia.
Harus dipahami bahwa penghancuran mutlak yang dilakukan oleh Heidegger dilakukan sampai ke dasarnya, namun masih tetap dipertanyakan oleh objektivitas ilmiah, padahal tidak begitu saja muncul dari analisa pribadi. Visi baru dan cara Heidegger adalah hasil dari pertemanan dekatnya dengan tokoh intelektual yang merupakan raksasa peradaban abad keduapuluh: Heisenberg, yang terbesar di antara para fisikawan dalam bidang energi tinggi, dan Ernst Jünger, pengarang terkenal dari karya “Der Arbeiter” yang pada gilirannya merubah cara berfikir manusia moderen mengenai sifat alami teknik. Penolakannya atas dialektika adalah sama pentingnya bagi Heidegger seperti halnya penerimaan Heisenberg atas sifat non-objektif dari si pengamatnya.
Dalam satu pengertian, karya awal Heidegger adalah suatu pemikiran yang secara masif merespon kepada pernyataan Heisenberg yang terkenal: Jika Anda mengukur suatu partikel, maka partikel di sekitarnya juga terpengaruh. Adapun pandangan yang mendalam dari Jünger meniadakan Marx sebagai suatu romantik, yakni: mengingat sifat dari teknik maka kita semua adalah pekerja.
Realitas kita tidaklah didasarkan pada suatu kelas atau suatu posisi ideologi atau suatu watak pribadi, tetapi sebelum semua ini, bahwa kita adalah bagian dari proses teknik. Kita adalah bagian dari komunitas pengguna listrik, penonton televisi, supir mobil dan lain-lain. Inilah realitas diri kita yang semakin mendominasi dan meningkat. Respon Jünger bukanlah menolak teknologi tetapi untuk memeluk dan merubahnya, mengenali bagian dalamnya berupa ‘keniscayaan’: datangnya negara Dunia.
Dalam suatu pengamatan di dalam suatu Seminar yang diselenggarakan di Swiss dengan sekumpulan psikiater, Heidegger memberikan penjelasan mengenai perbedaan antara dua kata yang terdapat di dalam bahasa Jerman: Körper dan Leib. Dua-duanya bermakna tubuh, bedanya yang pertama maknanya adalah tubuh sebagai suatu benda dan yang kedua artinya tubuh yang mengalami, seperti mengalami berfikir, merasakan sakit, tubuh yang memiliki kesadaran dan mampu merespon.
Dia menunjukkan bahwa pengamat saat ini yang banyak didiskusikan di dalam eksperimen tersebut pada gilirannya bukanlah kehadiran dari hal-hal yang bersifat kebendaan di dalam peristiwa yang diamati tetapi ledakan di dalam orang tersebut kepada mistis yang berbeda dari peristiwa yang diukur. Dia berkata: “Masalah dari metode ilmiah adalah identik dengan masalah LEIB. Masalah Leib pertama-tama adalah masalah metode. Teori Relativitas Fisika telah memperkenalkan tempat dari si pengamat ke dalam ranah sains, tetapi tanpa, SEBAGAIMANA HALNYA FISIKA, menjadi mampu mengatakan di mana tempat dari si pengamat.
Hal yang terbuka dan menyentuh diungkapkan oleh kalimat berikut – Saya dengan puas di sini! Di dalam keberadaannya di ‘sini’, mengalami pen-tubuh-an (Leiblichkeit) adalah selalu menjadi bagian dari permainan.
Mikrofisika harus menerima dampak dari pengukuran dari instrumen tersebut ke dalam eksperimen ketika mengamati objeknya. Ini bermakna bahwa tubuh yang mengalami yang dimiliki oleh manusia dicakup di dalam objektivitas dari penemuan fisik. Kita harus bertanya: “Apakah ini hanya dapat diterapkan kepada penelitian ilmiah, atau hanya merupakan bagian darinya, karena secara umum tubuh yang mengalami yang disebut LEIB, atau tubuh berpengalaman, merupakan sesuatu yang ADA DI DUNIA (in-der-Welt-Sein) yang disebut manusia?”
Apabila ini yang terjadi maka fenomena dari LEIB hanya dapat dilihat di dalam penanganan kritis dari hubungan subjek/objek yang aturannya masih ada sampai sekarang dari ADA DI DUNIA sehingga hal tersebut benar-benar dialami dan dipraktekkan dan bertahan sebagai sifat dasar dari manusia dalam bentuknya sebagai DASEIN.
Adalah penting untuk melihat bahwa sains yang seperti itu, bahwa temuan-temuan ilmiah yang bersifat teoritis (dan pandangannya) dan yang semacamnya, adalah mode dasar dari ada-di-dunia berdasarkan tubuh yang mengalami, yang MEMILIKI-DUNIA.
Apa yang Heidegger telah lakukan jauh dari menyiratkan suatu penghapusan sains adalah membangun suatu perubahan nilai dari evaluasi ilmiah. Dia telah mengambilnya dari hieroglif logika matematika di mana hal tersebut diletakkan telah bertahan dan tidak dapat diakses dan menghancurkan dunia dan menempatkannya dengan teguh di dalam hermenetika dari suatu wacana manusia yang dipulihkan kembali.
Pembongkaran sepanjang hidup yang dilakukan oleh Heidegger atas bingkai filsafatnya Immanuel Kant, dan penghapusan yang tidak dapat dihindari dari subjek mistis di dalam objektivitas murninya tidak bisa berhasil tanpa upayanya mendefinisikan ulang manusia. Di dalam menamai manusia sebagai suatu makhluk yang berorientasi menuju Makhluk itu sendiri, dan di dalam mengenali Makhluk bukan sebagai kategori pasif seperti halnya filsafatnya Kant atau Aristoteles tetapi sebagai Peristiwa, dia memindahkan ontologi fenomena logisnya kepada batasan-batasan dari wacana. Dengan cara menegaskan dan menilai ulang Nietzsche, dia mendeklarasikan akhir dari metafisika.
Pertemuannya dengan Makhluk di tahun-tahun akhirnya telah membawa karakter dari apa yang kita sebagai Muslims kenali sebagai suatu konfirmasi atas Tauhid, tidak semua di dalam tata-cara moderen dari orang Mesir berpendidikan rasionalis yang datang setelah Muhammad Abduh, yang hanya dapat menegaskan ketuhanan sebagai ide, yakni ide mereka, tetapi di dalam tatacara dari Shaykh Muhammad Wafa yang mana baginya pengetahuan ini adalah hal terpenting dari eksistensi ketika dia berkata:
“Wahai Allah! Aku memohon kepada-Mu dengan esensi dari non-eksistensi-Mu dan esensi dari eksistensi-Mu dan esensi dari esensi-Mu, dan dengan esensi murni, dan dengan esensi yang digambarkan oleh esensi dari pengambilan bentuk dan pemberian warna, dan dengan esensi aktif dan dengan esensi pasif.
Wahai Allah! Buatkanlah aku mata-air untuk esensi dari esensi dan suatu kediaman di tempat matahari terbit demi memperoleh cahaya radiannya dan suatu penyimpanan untuk rahasia-rahasia tersembunyinya dan dunia tidak terlihat di dalam gelapnya.
Wahai Allah! Aku menempatkan-Mu, bukan oleh terputus dari keindahan-Mu di atas sifat tubuh dan diri, di atas selera alam dan intelek dan karakter dari nafsu dan hati, dan aku menempatkan-Mu di atas semua itu dan hal-hal yang menyerupai itu serta hal-hal yang berlawanan dengan semua itu dan lebih dari itu, dengan suatu diskoneksi yang tidak dapat diberi bentuk atau dibayangkan – Amin.”
Sangat penting sekali bahwa filosof terbesar Eropa sejak Nietzsche seharusnya membawa wacana filsafat ke gerbang Tauhid, tetapi dia tidak dapat melakukannya tanpa pertama-tama merubah semua nilai yang menyimpan proyek manusia untuk bertemu dengan al-Haqq dan membuka selubung sifat fantasi hingga akhirnya menghormati prosedur ilmiah secara mendalam.
Kini kita kembali ke persoalan bahasa yang dengannya kita memulai: Harus dipahami bahwa bahasa di dalam sifatnya, meskipun upaya teori linguistik telah gagal, tetapi tidak mengurangi. Suatu pernyataan bahwa bergantung pada model matematika untuk pengesahan tidaklah di dalam matematika itu sendiri, artinya, karena sekali saja manusia didefinisikan ulang sebagai Dasein, satu makhluk yang awalnya ditujukan untuk mati, seketika menjadi hidup karena dikaitkan kepada Sang Maha yang tidak mati. Sekali saja objektivitas mistis dari si pengukur telah dibuka, hal tersebut mengikuti pada apa yang pengamat semacam itu terlibat di dalamnya secara esensi adalah trik atau penipuan, suatu ilusi. Proses pengujian dan perancangan model analitik di dalam prosesnya itu sendiri lebih kuat ketimbang tesis yang dimuat, seperti halnya keperluan kompulsif dari psikoanalis untuk mewawancarai pasien mengenai fantasi anal yang terjadi sehari-hari, hal itu sendiri merupakan suatu bahaya syaraf obsesional, yang sekarang hanya dapat kita amati.
Sejak Heisenberg menegaskan bahwa mengukur partikel artinya sama juga dengan mempengaruhi partikel di dekatnya, maka implikasinya untuk ilmu statistik juga sangat luas. Itu harus berarti bahwa prosedur pengukuran itu sendiri dapat menjadi penyakit syaraf yang serius karena fungsinya yang telah diasumsikan untuk menjadi benar yang dengan standar kebenaran itu digunakan untuk mengukur yang lain dan implikasinya berlanjut ke masa depan. Jika saya mengukur si pengukur atau melakukan kalkulasi pada kalkulator, komunitas mereka pada gilirannya dapat menunjukkan semua gejala agresi kelompok yang ditunjukkan oleh Lorenz di dalam studinya mengenai akar biologi yang sebagian besarnya melewati pertimbangan rasional dan tingkah laku berfikir.
Hal ini melekat di dalam prosedur statistik tanpa peduli apakah prosedur itu memiliki sebagai objeknya suatu situasi manusia atau tidak. Tidak mungkin memikirkan proses semacam itu terjadi tanpa infrastruktur kekuatan negara, sistem korporasi, dan pusat-pusat institusi lain. Sama juga, hal itu tidak dapat berlaku tanpa adanya manusia yang diprogram sebelumnya untuk membawa metode-metodenya. Orang itu harus menerima kebenaran prosedur tersebut sebagai benar sehingga dapat berlanjut ke tahap berikutnya sebelum pengujian statistik dapat terjadi. Sebatas hubungan antara angka dan objek yang dipelajari, semuanya itu hanya dapat terjadi dalam naungan pengujian statistik dengan pemaksaan dari suatu model pengamat dan suatu evaluasi kritis, maka ia harus menyerahkan otentisitas mistisnya di hadapan persepsi dari manusia baru yang menolak prosedur-prosedur tersebut yang merubah lingkungannya, eksistensinya dan keberadaannya, tanpa izinnya. Jadi, satu pertanyaan baru harus ditanyakan kepada para ahli statistik: Mengapa Anda melakukan pengukuran? Di dalam masyarakat baru tersebut si pengamat mengetahui dirinya sendiri mengamati! Jika seseorang menolak reduktibilitasnya di dalam prosedur matematika apa saja, dia dengan tanda tersebut telah menolak sikap tunduknya kepada negara totaliter moderen. Dikarenakan ini adalah awal terjadinya, tidak ada harapan untuk masa depan dunia, umat manusia, dan kebijaksanaan, sungguh, bahkan untuk teman baik kita, yakni para ahli statistik itu sendiri. Hal tersebut bertentangan dengan wacana saat ini bahwa tema dari ilmu statistik, yang melibatkan ilmu matematika dan ilmu bahasa sekaligus seharusnya dijelajahi. Kita memohon kepada Allah supaya wacana diskusi yang sedang berlangsung dari perkumpulan yang luar biasa ini tercerahkan dengan kejernihan originalitas dari intelektual yang sesungguhnya, untuk meningkatkan kualitas hidup Umat Muslim.
*Ceramah disampaikan 28 Juli 2013 di Universitas Sains Malaysia, Kuala Lumpur. Shaykh Abdalqadir as sufi (1930-2021) adalah ulama besar asal Eropa. Wafat di Cape Town, Afrika Selatan (2021).