DARAS SHAYKH ABDALHAQ BEWLEY (MOUSSEM 2024, CAPE TOWN)
Segala puji dan syukur kepada Allah yang membimbing kita kesini (Moussem 2024 di The Jumua Mosque of Cape Town, Afrika Selatan-red). Jika bukan karena Rabb kita, jika bukan karena-Nya, kita tidak akan medapatkan petunjuk. Sesungguhnya menghadiri pertemuan semacam ini, khususnya yang satu ini, merupakan hadiah dari Allah yang tak ternilai. Kita tidaklah tahu apa yang telah tercatat untuk kita oleh Allah dan mereka yang bersama-Nya. Semoga Allah Ta’ala membuat kita benar – benar bersyukur atas anugerah yang diberikan kepada kita.
Suatu ketika saat saya dalam pertemuan dengan Syekh kita (Shaykh Abdalqadir as sufi, Radiallahuanhu-red), di masa – masa akhir hidupnya, beliau menyerahkan naskah ini kepada saya. Empat halaman yang beliau tulis sendiri dengan tangannya, yakni “Fondasi Ilmu”. Saya ingin membacakan beberapa hal dari halaman pertamanya.
Disitu ditulis “Pengantar Ilmu Pengetahuan”. Beliau mengatakan ada tiga tingkatan ilmu pengetahuan:
- Pertama, ‘Ilman ‘Aql (عِلْمًا عَقْل), Di bawahnya beliau menulis “beberapa pengetahuan teoritis valid. Beberapa pengetahuan teoritis tidak valid.”
- Kedua, ‘Ilman Ahwal (عِلْمَاً أَحْوَأل), mahqom (states). Beliau mengatakan, “Hanya diperoleh dengan ذَوْق (Dzauq), merasakan. Tidaklah berkaitan dengan bukti. Hanya diketahui oleh pemiliknya” semoga Allah Ta’ala menjadikan kita di antaranya.
- Ketiga, ‘Ilman Asrar (عِلْمًا أَسْرَأر), rahasia. Pengetahuan ini dianugerahkan (pemberian).
Pengetahuan ini mengandung seluruh pengetahuan. Yang melaporkan haruslah dapat dipercaya. Ini didapatkan melalui musyahadah (penyaksikan) dan ilham (inspirasi). Dan itu mempunyai empat jalan:
- بَ وَائِث (Bawaaits), Insentif.
- دَوَائِح (Dawaih), Penyebab
- اَخْلََق (Akhlak), Karakter dan,
- حَقَائِ ق (Haqaiq), Realitas
Dan beliau mengatakan “Ini memberlakukan tiga hak”
- Hak Allah
- Hak diri mereka sendiri
- Hak kepada makhluk
Ummm… Saya masih terus berusaha untuk memahami halaman pertama.
Saya ingin membandingkannya itu dengan ini (naskah). Dengan ini, (naskah lainnya) yang ditulis pada saat yang sama ketika beliau memberikan naskah tersebut kepada saya.
Di sini beliau menulis:
“Restrukturasi dari negara supranasional atau tentu saja pos-negara nasional membawa kita pada pengenalan bahwa apa yang sedang berlangsung saat ini adalah modus operandi klasik dari revolusi itu sendiri.
Pasivitas, bahkan dalam perbedaan massa di hadapan legislasi yang menghapus kemerdekaan untuk menggantinya dengan keselamatan sosial. Konfigurasi musuh eksternal yang disebut secara singkat, terorisme. Kemunculan kepemimpinan yang mengambil alih mesin negara, meskipun tampak sebagai pemerintahan yang terpilih, semua elemen ini, yang muncul bersamaan, harus ada kemungkinan pelarian dari peristiwa yang disebut Revolusi.
Hari ini adalah masyarakat liberal abad ke-20 yang akhirnya digulingkan dalam pergolakan dua perang dunia. Notre menunjukkan mereka sebagai satu Perang Sipil Eropa yang dimenangkan dua kali dengan invasi oleh kekuatan militer Amerika Serikat. Para raja dihapuskan. Atau ditoleransi dengan bersepeda, atau sebagai selebriti. Menghindari signifikansi politik, apalagi tindakan. Kenangan tentang sisa-sisa moralitas yang berbasis pada kekristenan telah hilang. Pernikahan telah digantikan oleh sekedar hubungan (pacaran), meninggalkan legitimasi sebagai hal yang tidak relevan.
Inilah yang terakhir yang mengungkap tirai tentang apa yang harus kita sebut Revolusi saat ini. Transformasinya adalah untuk mengambil semua kekayaan pribadi, dan itu juga berarti properti.”
Sekarang apa yang saya ingin katakan, dua hal ini, dua bagian ini seolah – olah berbeda. Seolah – olah ditulis oleh dua orang yang berbeda. Namun, apa yang saya ingin katakan adalah bahwa keduanya menyerukan hal yang persis sama.
Ketika Syekh Abdalqadir pertama kali pergi ke Meknes, dan beliau tinggal di sana, di zawiyah selama tiga hari, dan setelah tiga hari Syekh Muhammad ibn al-Habib, rahimahullahuta’ala, mengatakan bahwa dirinya akan pergi. Dan beliau, rahimahullahuta’ala, Syekh Muhammad ibn al-Habib turun ke zawiyah dan memerintahkan seseorang untuk mengambil permadani (karpet) dan 15 kitab diwan (H. Isa Bryce menyahut dengan menyebut “10 diwan” saat daras). Apa? 10? Apa kamu yakin? Haha.. maaf jika tidak tepat. 10 diwan.
Dan beliau memberikannya kepada Syekh Abdalqadir dengan tangannya dan mengatakan sesuatu. Beliau mengatakan “bawa Islam kepada orang – orangmu” bukan bawalah thariqah saya atau lainnya, tapi “bawalah Islam kepada orang – orangmu.” Kemudian tidak lama dari situ, Syekh Abdalqadir rahimahullahuta’la bermimpi dimana Nabi shallallahu’alayhi wa sallam mendatanginya dengan tiga kitab. Sekarang ada beberapa orang mengatakan, “Ya… itu adalah kitab Islam, Iman dan Ihsan.” Tetapi beliau, rahimahullahuta’ala, memberitahukan secara spesifik. Al-Qur’an, Kitab Allah, Kitab Muwaththa Imam Malik, dan kitab Syifa’ Qadhi Iyadh. Dengan kata lain, Nabi shallallahu’alayhi wa sallam memberikan itu semua kepada beliau untuk disampaikan pada orang – orang. Dan tentu saja dengan bimbingan, implementasi dari bimbingan itu, dan motor dari bimbingan itu yakni kecintaan kepada Allah Subhanahuwata’ala dan Nabi shallallahu’alayhi wa sallam, mesinnya. Dan inilah yang beliau lakukan sejak saat itu. Yakni, membawa Islam kepada orang – orangnya dengan jalan apa yang disampikan melalui tiga kitab itu. Dan inilah yang beliau habiskan hidupnya untuk melakukannya.
Dengan berbagai pidato dan tulisannya selama bertahun – tahun, Syekh Abdalqadir melihat sejumlah besar periode tema dan peristiwa sejarah yang berbeda. Di antaranya adalah pentingnya mitologi Yunani. Aktivitas elit perbankan di abad 19. Mengungkapkan Revolusi Perancis. Pergantian lanskap politik Judah-Inggris (Judah-England). Republik dan kekasisaran Romawi dan asal usul serta dampak dari pembantaian pada hari peringatan Santo Bartolomeus. Dan banyak lagi diantaranya. Tetapi ketertarikan dalam hal ini bukanlah sebagai seorang sejarawan. Melihat hal-hal ini, memperhatikan hal-hal ini sebagai sesuatu yang berdiri sendiri. Dalam setiap kasus, perhatian dan pengajaran beliau terhadap hal-hal ini sepenuhnya terfokus pada masa kini. Dan bahkan lebih spesifik tentang bagaimana mereka mungkin bertindak sebagai bantuan atau hambatan terhadap pemulihan dan pelaksanaan DIN Allah di sini dan sekarang. Beliau melacak bagaimana dunia menjadi seperti sekarang ini dan bagaimana kaum Muslim sebagai pewaris dari wahyu terakhir Allah kepada umat manusia, alih – alih menerapkan warisan mulia yang mereka terima, kini dalam keadaan terpuruk. Mereka sekarang di bawah dominasi total musuh – musuh Islam. Studi-studi sejarah ini menegaskan dan memperkuat wawasan mendalamnya yang luar biasa, bahwa penyebab utama dari keadaan menyedihkan kaum Muslim saat ini adalah kenyataan bahwa musuh-musuh Islam, musuh-musuh kaum Muslim, telah berhasil memisahkan ibadah dari muamalah dalam Islam. Mereka membiarkan kaum Muslim di bawah kendali mereka untuk terus melakukan ibadah dan praktik keagamaan mereka, tetapi memastikan bahwa semua transaksi kehidupan sehari-hari dalam bidang politik, ekonomi, dan hukum tetap berada di tangan mereka dan di bawah kaki mereka. Hal ini telah mengarahkan, langkah demi langkah, pada situasi di mana mayoritas besar umat Muslim membatasi pelaksanaan Islam mereka pada perjalanan sekali seumur hidup untuk menunaikan Haji, sebulan dalam setahun ketika mereka berpuasa di bulan Ramadhan, kehadiran mingguan di masjid untuk shalat Jum’at, dan satu jam setiap hari ketika mereka berdiri untuk shalat. Dan sedikit tambahan saya di sini yakni kelas mingguan atau dua mingguan untuk mempelajari aspek – aspek tertentu dari DIN Allah dan barangkali pertemuan dzikir periodik, Alhamdulillah untuk yang satu ini. Tapi bagaimana dengan 80 – 90an persen tentang kehidupan kita lainnya? Kebanyakan dari kita, sangat disayangkan, suka atau tidak suka menunaikan semua yang 80 – 90an persen itu mengikuti DIN dari etos yang dominan, kapitalisme yang benar – benar didasarkan pada ajaran materialisme (scientific materialism).
Yakni Syekh Abdalqadir, semoga Allah mengasihinya, yang merupakan misi beliau yang mendapatkan instruksi dari Syekhnya, dikonfirmasi oleh Nabi shallallahu’alayhi wa sallam dalam mimpi beliau, untuk menunjukkan hal ini dengan sangat jelas dan melakukan segala yang beliau bisa untuk memperbaiki situasi tersebut. Semua karyanya diarahkan untuk tujuan ini. Hal-hal yang saya sebutkan sebelumnya, cara dia berjuang untuk komunitasnya, pengawasan pribadinya terhadap generasi demi generasi anak muda dalam komunitas ini, teladan pribadinya dalam setiap aspek kehidupannya, semua itu bertujuan untuk menghidupkan DIN Allah di zaman yang kita jalani. Dan satu hal yang merangkum semuanya ini: ketegasannya yang berulang kali tentang perlunya menegakkan kembali zakat. Karena zakat adalah titik dalam praktik – praktik dasar Islam di mana muamalat dan ibadah bersatu. Di sinilah tindakan ibadah terhubung langsung dengan kehidupan politik, ekonomi, dan sosial masyarakat. Dengan kata lain, terhubung dengan kehidupan sehari-hari kita pada 80% waktu kita yang tidak secara aktif terlibat dalam beribadah kepada Tuhan kita.
Ketika beliau berbicara mengenai Madinah, beliau bukan berbicara tentang kembali ke zaman kejayaan yang ada di era dahulu. Beliau menganjurkan untuk melangkah ke masa depan, menuju waktu dimana setiap aspek kehidupan sekali lagi diintegrasikan ke dalam DIN Allah, seperti dulu dalam kehidupan komunitas pertama. Pelaksanaan zakat yang benar, sebagaimana awalnya dikumpulkan dan didistribusikan, jelas merupakan elemen penting dalam proses mewujudkan hal tersebut di atas. Seperti yang saya sampaikan, Syekh Abdalqadir, rahimahullahuta’ala sendiri telah menghabiskan lebih dari 50 tahun hidupnya menyerukan agar itu terwujud. Beliau menunjukkan dan memberitahu kita cara melakukannya dengan segala cara yang bisa beliau lakukan dan beliau melakukannya sendiri dengan sepenuh jiwanya. Iniliah apa yang kita warisi dari beliau. Dan jika kita ingin memberi penghormatan atas warisannya, inilah yang harus kita ambil untuk diri kita. Beliau tidak bisa melakukannya untuk kita. Beliau telah berpulang kepada Rabbnya. Dan semoga Rabbnya memberinya ganjaran yang besar atas hidupnya yang sangat bermanfaat di jalan-Nya.
Sekarang, terserah kepada masing-masing dari kita untuk melakukannya. Kita tidak bisa berharap untuk mencakup semua yang dia ajarkan. Tetapi masing-masing dari kita dapat mengambil apa yang bisa kita ambil, selalu mengingat bahwa tujuan utamanya adalah melihat Dien Allah diterapkan sebanyak mungkin di zaman yang kita jalani ini. Ini juga harus menjadi tujuan kita. Dan kita harus jelas bahwa ini bukanlah tugas sekelompok orang khusus yang memiliki pengetahuan atau kemampuan tertentu. Ini menjadi tanggung jawab masing-masing dari kita. Kita semua secara individu harus melakukan apa yang bisa kita lakukan untuk menghidupkan Dien Allah secara penuh, dalam diri kita dan di sekitar kita. Dan ini adalah sesuatu yang dapat dilakukan oleh setiap dan masing-masing dari kita.
Kita perlu melihat lebih jauh dari petunjuk yang diberikan kepada kita dari utusan Allah, sallallahu’alayhi wa sallam, untuk mengetahui bagaimananya, beliau shallallahu’alayhi wa sallam bersabda:
عَنْ اَبِي سَعِيْدٍ الخُدْرِ يِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُوْلُ: «مَنْ رَاَى مِنْكُمْ مُنْكَ را فَلْيُغَ يِرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِلِسَانِهِ ، فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ اَضْعَفُ الإِيْمَانِ
Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan
tangannya. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya,
dan itu merupakan selemah-lemahnya iman.”
Yang saya ingin katakan itu bukanlah terjemahan yang bagus (“…dan itu merupakan selemah – lemahnya iman”). Itu terkesan seolah – olah mengubah sesuatu dengan hati dianggap sesuatu yang kurang. Tetapi apa yang sebenarnya dimaksudkan adalah hal terkecil yang bisa dilakukan seorang Mu’min. Hal terkecil yang bisa dilakukan seorang Mu’min adalah mengubahnya dalam hatinya. Jika dia melihat sesuatu yang salah, dia bisa mengatakan, “Saya tidak menginginkannya.” Dan Syekh Muhammad ibn al-Habib rahimahullahuta’ala mengatakan “Jangan meremehkan kekuatan dari tindakan hati”, “jika seseorang hatinya bertindak dari sini (Meknes) dapat merubah sesuatu yang jauh di Timur” kata beliau. Kebenarannya, setiap dari kita dapat melakukannya. Setiap dari kita bisa secara aktif menolak kemungkaran, hal yang salah, dimana kita atau kamu hanya akan melihat sekitar. Dan jika kamu secara aktif menolaknya kamu bisa mengatakan “ooo… tidak bisa melakukan apapun soal itu, terlalu sulit”. Tidak, katakanlah “tidak, saya tidak menginginkannya”. Jika hatimu terpaut untuk menolaknya, kamu akan berubah, dan sekelilingmu akan berubah. Dan dengan jalan itu kita dapat menegakkan Dien pada diri kita dan sekeliling kita. Dengan memiliki hati yang aktif. Semoga Allah Ta’ala menganugerahi kita hati yang aktif. Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita orang – orang yang merubah diri kita dan dengan perubahan itu merubah yang di sekeliling kita. Semoga Allah Ta’la mengizinkan kita menjadi orang – orang yang membawa warisan yang kita terima dari Syekh kita dan termasuk yang hidup dan matinya melihat Dien Allah dihidupkan di zaman kita. Pada jalan manapun yang kita sanggup. Setiap dari kita. Semoga Allah Ta’la mengangkat tinggi panji Islam di zaman kita, merendahkan kata – kata kaum kuffar dan menghancurkan kahayalan mereka.