DIBAWAH BENDERA REVOLUSI

Irawan Santoso Shiddiq, SH
Revolusi. Seolah ini solusi. Tapi revolusi tak semudah reformasi. Revolusi pertanda pergantian aqidah. Pergantian keyakinan. Karena revolusi bermakna pergantian system. Bukan sekedar berganti ‘supir.’ Curzio Malaparte, penulis ‘Technique Coup D’Etat,’ berkata, “Tak ada revolusi tanpa perpindahan property (kekayaan).” Dan itulah sejatinya revolusi.
Karena abad modern, revolusi menjadi titik pergantian kekuasaan. Revolusi Inggris, perpindahan kekayaan dari kaum Monarkhi menuju kaum bankir Yahudi. Sebelumnya, Monarkhi Inggris tunduk dibawah liga ‘Imperium Romanum Socrum.’ Dinasti Habsburg. Tapi merebaknya perang aqidah di Eropa, antara kelompok Gereja Roma dan Protestan, membuat Inggris kerajaan kedua yang dikuasai pengikut Luthern dan Calvinis. Setelah sebelumnya Kerajaan Belanda.
Revolusi Inggris terjadi setelah terjadinya perpindahan keyakinan. Inggris mengikut pada Pembaharuan Kristen. Disitulah Raja William dari Belanda, dinikahkan dengan Ratu Mary I. Pertanda Inggris telah masuk dalam cengekaraman aqidah baru. Tidak lagi merujuk pada kelompok Gereja Roma.
Edict of worm, menjadi pertanda munculnya revolusi di belantara Eropa. Tragedi pembantaian massal di Kerajaan Perancis, 1752, ‘Massace at Paris’ menjadi pemantik utama. Christopher Marlowe, menukiskan kisah ‘Massacre at Paris’ begitu mengerikan.
Pembantaian kaum Huguenot, yang dianggap pelaku bid’ah oleh fatwa ‘Edict of Worm.’ Ribuan Huguenot dibantai massal. Raja Charles hanya bak boneka tanpa memiliki kekuasaan penuh. Karena Ibunya, Chaterine de Medicie mengendalikan kerajaan sepenuhnya. Raja yang boneka, berakibat fatal pada rakyatnya. Karena Sang Ibu menghendaki kekuasaan harus tetap berada ditangan trah-nya. Munculnya aqidah baru, Pembaharu Kristen, dianggap mengancam kekuasaan Raja Perancis. Karena adagium Eropa kala itu, ‘Vox Rei Vox Dei.’ Suara Raja Suara Tuhan. Raja dianggap wakil Tuhan. Bak ‘umara’ dalam Islam.
Kerajaan Perancis, bersahabat erat dengan Daulah Ustamniyya. Koalisi Franco-Utsmani dikenal sepanjang massa. Pasca Crusaders, Perang Salib, Kerajaan Perancis tak lagi ikut berada dalam pasukan yang dibentuk Gereja Roma. Koalisi dagang dan pertahnanan, dipilih Perancis untuk eksistensi kerajaan.
Tapi merebaknya filsafat di Eropa, melahirkan renaissance, memunculkan geliat pemahaman baru atas tafsir agama Kristen. Renaissance menggoyang dogma Roma. Pra Renaissance, Eropa masih dilanda paham fatalism versi dogma. Raja dianggap wakil Tuhan. Melawan Raja dianggap melawan Tuhan. Tragedi Magna Charta, dimana Raja John berdamai dengan kaum Baron Inggris, dianggap sebagai penghinaan. Kelompok Roma menentang. ‘Tak sepatutnya Raja berdamai dengan rakyat.’ Tapi Magna Charta muncul berkat didikan Ordo Kesatria baru Eropa. Mereka hasil persinggungan antara kaum muslimin dan pasukan Salib pasca Crusaders. Perang berabad-abad itu, memantik terjadinya pertukaran budaya. Sultan Salahuddin al Ayyubi, mendidik para tawanan pasukan Eropa dengan mengembalikan sifat Ksatria. Ini yang disebut futtuwa. Mengembalikan etos Ksatria agar kembali menegakkan Kebenaran berlandaskan agama yang lurus. Dr. Ian Dallas menukiskan, dari situlah memunculkan Ordo Ksatria penjaga api suci Kristen. Yang mengamalkan ajaran Nasrani yang lurus. Hasilnya adalah melahirkan Dinasti Bourboun, yang mewarisi trah Kerajaan Inggris. Zuriyah itulah yang kemudian melahirkan trah Kerajaan Inggris, hingga melepaskan diri dari kelompok Imperium Romanum Socrum, liga kerajaan yang berada di bawah panji Gereja Roma.
Tapi disatu sisi, kelompok yang melawan Roma juga muncul dari filosof. Mereka mengambil ajaran mu’tazilah. Era ketika filsafat di Islam-kan. Renaissance, itu masa ketika filsafat ‘di-Kristen-kan.’ Para filosof kosmosentris ini ditentang habis Roma. Bruno dibakar, sampai Galileo dan Copernicus dihabisi. Pemikirannya ditentang. Sampai fisiknya pun dikejar. Sikap ekstrim menghadapi ajaran filsafat ini membuat kejumudan melanda Eropa. Walhasil melahirkan ‘paham’ baru ketertarikan Eropa pada ajaran filsafat.
Pasca ‘Massacre at Paris,’ pembantaian massal Huguenot, ajaran filsafat makin diminati. Karena dianggap ‘Raja’ bertindak lalim. ‘Apakah Tuhan menghendaki pembunuhan?’ Benarkah Raja adalah Wakil Tuhan?’ Segudang pertanyaan itu muncul berkaitan aqidah.
Merebaknya Francis Bacon, Rene Descartes, Immanuel Kant, dan lainnya, makin memantik bahwa aqidah Roma dianggap jumud. Descartes mengawali akrobatik. Mereka mendompleng ‘krisis kepercayaan’ atas dogma. Tapi para filosof materialistis membawa Eropa keluar meninggalkan hukum Tuhan. Cogito Ergo Sum bermakna, bahwa tak ada Kebenaran Wahyu. Yang dianggap ‘Kebenaran’ hanyalah yang bersumber dari yang bisa diserap inderawi manusia. Kant menihilkan lagi, karena ‘Kebenaran’ hanya sah jika melewati empirisme. Telah bias dibuktikan secara inderawi. Ajaran-ajaran inilah yang berkembang di Eropa. Alhasil makin melumpuhkan ajaran Roma. Walhasil pengikut penentang ‘Raja Wakil Tuhan’ pun makin mengecil. Dari filsafat, manusia diajarkan untuk ‘kehendak bebas (free will). Dari ajaran ‘free will’ inilah yang melahirkan free mason. Gerakan kebebasan. Humanisme menjadi pondasi utama.
Para pengikut ‘free will’ ini mengusung manusia itu dibekali kebebasan mutlak dalam alam dunia. Tuhan, kata filosof, telah memberikan akal pada manusia. Makanya manusia berhak mengungkap ‘being’ dengan akalnya. Ini sebagaimana ajaran Plato, Aristoteles perihal ‘theorie.’ Makanya Descartes berkata, filsafat adalah ajang dimana manusia, Tuhan, alam semesta menjadi ajang penyelidikan manusia. Materialisme memberikan ajaran, manusia sebagai subjek yang mengamati. Bukan lagi objek yang diamati. Free will. Inilah landasan sekulerisme, liberalisme sampai kapitalisme-positivisme. Secara umum, itulah modernisme. Babak baru peradaban Eropa modern.
Semangat free will tersebut melahirkan ‘Egalite-Liberte-Fraternite.’ Ini semboyan utama dalam Revolusi Perancis, 1879. Locus delict-nya berlangsung dititik yang sama ‘Massacre at Paris.’ Titiknya di Paris, Perancis. Masscare, kejadian kala kelompok Huguenot –pengikut Calvin dan Luthern–, dibantai. Sementara Revolusi Perancis, gantian pengikut Roma yang dibantai. Tapi sebelum Revolusi dimulai, perang aqidah itu yang mewarnai.
Egalite, maknanya keadilan agar tidak lagi untuk pada ‘Kebenaran Wahyu.’ Melainkan hanya merujuk pada hokum reason. Hukum rasio manusia. Tak lagi percaya pada Kitab Suci.
Liberte, merdeka dari belenggu agama. Karena manusia dibekali ‘kehendak bebas.’ Manusia berhak menentukan nasibnya sendiri. Tak lagi terbelenggu pada kejumudan agama.
Fraternite, persaudaraan sesama penganut paham ‘free will.’
Maka, lawan dari pengusung Revolusi Perancis adalah pengusung ‘Vox Rei Vox Dei.’ Mereka membaliknya menjadi ‘Vox Populi Vox Dei.’ Suara manusia, Suara Tuhan. Manusia dianggap memiliki kehendak bebas untuk menentukan nasibnya sendiri. Tak lagi merujuk Kitab Suci dan penafsir-tafsirnya.
Slogan ‘Vive Le Roi!’ (Hiduplah Raja!) yang kerap diteriakkan di istana Perancis, dikudeta menjadi ‘Vive le nation!’ Karena ‘ration d’Etat’ membahana. Beranjak dari ‘free will’, maka muncul ajaran teori baru perihal kekuasaan yang dihembuskan Machiavelli-Hobbes-sampai Rosseau. Mereka menegaskan bahwa manusia berhak memilih pemimpinnya sendiri. Tanpa harus taat pada Kebenaran Agama. Maka pasca Revolusi Perancis, melahirkan modern state dan mengenal ‘election’ (pemilihan umum). Pemimpin tak mesti keturunan atau titah dari agamawan. Melainkan harus dipilih berlandas kehendak manusia. Karena menganut paham ‘free will’ tadi.
Dibalik Revolusi Perancis, kaum ordo Bankir Yahudi ternyata menggeliat. Mereka kelompok yang sejak dulu memusuhi Gereja Roma. Karena kaum bankir ini menjalankan praktek riba, membungakan uang. Dulu mereka dilarang sejak era Isa Allaihissalam. Sampai masa Roma berkuasa, kaum Yahudi pedagang uang ini terus diburu. Tapi mereka berbisnis sembunyi-sembunyi.
Masa Revolusi Inggris tadi, kaum bankir ini kegirangan. Selepas Inggris lepas dari liga, Inggris kekurangan uang untuk mengelola kerajaan. Maka 25 bankir Yahudi membuat konsorsium untuk memberi utang kepada King William. Tapi dengan syarat, utang itu adalah berbunga. Dan King William wajib membayarkan setiap tahun dengan cicilan. Itulah ‘utang nasional’ pertama di dunia. Sebuah ‘state’ memiliki utang pada bankir. Pemberian utang itu, tak serta merta tanpa embel-embel. Bankir meminta jatah bahwa mereka yang mengatur ekonomi Inggris. Maka berdirinya ‘Bank of England.’ Bank sentral Inggris. Selepas Revolusi, William duduk jadi raja. Tapi telah menjadi boneka para bamkir. Karena dia tak sepenuhnya berkuasa. Bukan lagi monarkhi absolut. Melainkan monarkhi konstitusional. Karena kekuasaan raja dibatas. Dengan dalih atas nama: konstitusi.
Setahun kemudian, pola itu disebar ke Perancis. Rakyat didoktrin ‘liberte-egalite-fraternite.’ Seolah ini slogan ‘freedom.’ Padahal dibalik itu bankir Yahudi telah bersiap. Ketika Kerajaan Perancis berhasil menggulingkan King Louis XVI, maka kekuasaan jadi vakum. 75 Bankir membentuk konsorsium. Semua Robbiespierre, pemimpin revolusi, mengambil alih. Tapi kaum banker tak setuju dengannya. Dia dengan mudah dikudeta. Karena Robbiespierre tak memiliki kekayaan.
Bankir mendapuk Napoleon Bonaparte sebagai Kaisar baru. Dia diberi modal para banker itu sejumlah 75 juta Franc. Tapi berbentuk utang berbunga. Sayarat serupa dengan Inggris tadi. Berdirinya ‘Bank de France,’ bank sentral Perancis. Napoleon jadi Kaisar, tapi punya utang yang harus dibayar.
Napoleon sadar dia hanya boneka banker. Dia melancarkan perang menganeksasi Etopa lainnya. Tapi dia kalah. Karena ambisi militer Napoleon, tak sejalan dengan ambisi bisnis para ordo bankir di Eropa. Perang Napoleon, tak menguntungkan secara bisnis. Dia pun dibuang ke Pulau Elba. Napoleon jelas bukanlah penguasa. Dia hanya boneka dari para ordo Bankir itu. Karena mereka yang sejatinya mengatur Republik Perancis baru. Produk dari revolusi.
Jadi, revolusi pertanda perpindahan kekuasan (power) dan kekayaan (wealth). Tak ada revolusi tanpa transfer of property. Pra revolusi, kekuasaan dan kekayaan dipegang kelompok Gereja Roma. Atas nama agama. Pasca revolusi, power and wealth pindah ke tangan ordo bankir. Atas nama ‘kehendak bebas manusia.’
Revolusi tentu harus berbasis aqidah. Tak ada revolusi hanya sebatas pergantian supir. Pergantian Robbiespierre ke Napoleon, itu tak dikata revolusi. Tapi Revolusi Perancis, menjadi titik tolak, bahwa aqidah menjadi mendahului revolusi.
Modernisme kini telah mencengkeram manusia. Utang nasional dialami semua state. Mulai Amerika sampai Kolombia. Tak ada modern state berada diluar control ordo bankir. Jalan revolusi, pertanda kembalinya pada aqidah yang benar. Karena banker akan langgeng dalam aqidah ‘free will.’ Antitesanya adalah paham ahlul Sunnah.
Pasca Perancis dikooptasi, aqidah ‘free will’ merambah negeri-negeri Eropa. Kekuasaan Roma dihabisi. Kemudian setelah itu merambah negeri-negeri muslim. Daulah Utsmaniyya dikudeta, sampai kesultanan-kesultanan nusantara. Negeri muslim terimbas paham ‘free will’ yang melegenda.
Maka antitesa ini hanya bisa dengan mengambalikan aqidah. Vox populi Vox Dei terbukti hanya slogan buatan kaum bankir untuk melanggengkan kekuasaannya. Tak ada kehendak rakyat berkuasa. Yang ada ‘pemerintahan dari bankir, oleh bankir dan untuk bankir.’ Bretton Wood, pasca Perang Dunia II menunjukkan kekuasaan mereka. Hanya kaum bankir yang bisa menunjukkan kepala-kepala negara.
Presiden Soeharto, yang gagah perkasa puluhan tahun, jatuh dengan mudah hanya dengan dilandasi oleh kurs uang. Karena tak ada satupun negara di dunia kini bisa mengendalikan uangnya sendiri. Kurs uang tak diatur oleh negara modern. Tapi berada ditangan kekuasaan bankir. Itulah sejatinya ‘power and wealth.’ Maka dengan mudah seorang Presiden dan PM dijatuhkan dan dinaikkan. Karena kekuasaan berada ditangan mereka. Dan mereka, kaum yang tak bernama. Tak dikenal nama, tapi produknya dimana-mana. Ordo banker inilah musuh umat manusia.
Maka, jalan kembali adalah jalan kala kita dikalahkan. Vox Rei Vox Dei, kembali jadi solusi. Ketika manusia harus memiliki pemimpinnya. Slogan itu diajarkan dalam Madinah Al Munawarah sampai Wali Songo di tanah Jawa. Manusia memerlukan pemimpin yang bisa lepas dari jerat bankir. Karena banker hidup dalam gumangan system riba. Kapitalisme.
Tak ada revolusi dari kaum sekuler kemudian pada sekuler lagi. Itu bukan revolusi. Melainkan hanya basa basi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wordpress Social Share Plugin powered by Ultimatelysocial