Perjuangan Pangeran ‘Samber Nyawa’ (1)

Epos sejarah yang berharga. Dari kisah Pangeran ‘Sambernyawa’ (1725-1795). Ini julukan yang diberikan kolonalis Belanda, ‘Sambernyawa’. Karena beliau kerap menang dalam pertempuran melawan Belanda dan antek-anteknya. Aslinya bernama Raden Mas Said.

Sekuelnya tak biasa. Karena masih dalam trah Kesultanan Mataram Islam. Masa abad 18 Masehi lalu. Kala itu Islam masih sebagai punggawa. Syariat dan Hakekat berjalan tegak. Dinul Islam gagah diamalkan di nusantara. Islam menjadi primadona dunia.

Kesultanan Mataram, seumuran dengan Kesultanan Utsmaniyya. Semasa juga dengan Kesultanan Aceh Darrusalam. Di anak benua India, Kesultanan Moghul perkasa melindungi bumi. Di timur jauh sana, Kesultanan Magribi masih Berjaya. Inilah masa keemasan Islam. Lima kesultanan besar itu, yang melindungi bumi dari keberingasan nafsyu syahwati manusia. Mereka sukses menjaga dunia. Dari amarah amuk manusia. Karena selepas kesultanan meredup, terasa bagaimana amuk manusia merajalela. Perang Dunia I dan II, bukti bagaimana amuk syahwati manusia, merusak dunia. Karena tiada Tauhidullah sebagai punggawa. Selepas manusia membebek pada rasionalitas, filsafat, yang kemudian menjadi sistemik dunia. Dari renaissance, melahirkan modernitas. Lahirlah kapitalisme modern, yang melebihi era musyrikin masa lampau. Peradaban terburuk sepanjang sejarah.

Raden Mas Said memberi pesan. Betapa bahayanya kolonialisme (kini kapitalisme). Beliau lahir di istana Kartasura, sentral kekuasaan Kesultanan Mataram. Ayahnya bernama Pangeran Arya Mangkunegara. Beliau anak tertua dari Raja Amangkurat IV, Sultan Mataram (1719-1726).

Masa pergantian kepemimpinan, Raja Amangkurat IV punya 3 anak lelaki. Tapi dari berbeda istri. Secara “ketatangeraan” kesultanan, Pangeran Arya layak menggantikan ayahnya. Tapi intrik terjadi. Sang Pangeran begitu keras menentang kolonialisme Belanda. Dia tak suka gelagat VOC yang merangsek tanah Jawa. Sang Pangeran dianggap sosok berbahaya. Di ndalem keraton, instrik terjadi. Sang Pangeran disingkirkan. Tahta Mataram tak diberikan padanya. Melainkan pada anak Amangkurat IV yang lainnya. Itulah Pangeran Prabuyasa (Pabukubuwana II). Lalu kemana Sang Pangeran Arya?

Ternyata dia diasingkan ke Ceyland (Srilanka). VOC membawanya. Mengasingkannya jauh dari tanah Jawa. Dari Ceyland, Pangeran Arya diasingkan lagi sampai ke Cape Town, Afrika Selatan. Ini memang wilayah transit VOC semasa dulu. Mereka memutar melewati Istanbul, dari Eropa menuju nusantara. Demi mencari rempah-rempah, barang-barang nusantara untuk dijual ke Eropa. Selepas Konstantinopel (Istanbul kini) dikuasai Daulah Utsmaniyya, VOC memutar dari Cape Town, menuju India dan nusantara. Karena syariat Islam masih tegak berwibawa. Kolonialisme tak bisa bersahabat dengannya. Rute dari Eropa transit ke Cape Town lalu ke nusantara, terhenti pasca abad 19. Ketika kaum Eropa berhasil mengkooptasi Mesir, memberontak dari Daulah Utsmaniyya. Disitulah kapitalisme membangun Terusan Suez (Suez Canal), memotong jalur menuju Samudera Hindia dari Eropa. Mereka berhasil menang. Suez berada dibawah kekuasaan Perancis, pasca Revolusi Perancis (1789). Kemenangan kaum nasionalis melawan Gereja Roma dan Raja-raja Eropa.

Sang Pangeran Arya pun dimakamkan di Cape Town. Beliau termasuk salah seorang ulama besar nusantara yang berada di Tanjung Harapan itu. Tapi, sosok aslinya tak banyak diketahui. Tak banyak penelitian berbau arkeologi menyusuri jejaknya di Cape Town. Beberapa sumber menyebut, Pangeran Arya Mangkunegaraan adalah Shaykh Mahmud, yang dikebumikan di Constantia, Cape Town, Afrika Selatan. Beliau salah seorang ulama asal nusantara yang dikebumikan di Cape Town, Afrika Selatan. Karena sikapnya tak mau bekerjasama dengan kolonialisme. Kapitalisme. Alhasil beliau diasingkan hingga ke Cape Town, Afrika Selatan sana. Tak hanya beliau seorang. Beragam ulama asal nusantara juga dikebumikan di Cape Town.

Yang paling terkenal ialah Shaykh Yusuf al Makasari, yang dikebumikan di wilayah Makasar, sejam perjalanan dari kota Cape Town. Tapi beliau memiliki 3 kuburan resmi. Di Makasar, di Srilanka dan di Cape Town sana. Nah, makam Pangeran Arya Mangkunegaran ini yang masih misteri. Kemungkinan besar beliau berganti nama, semasa di Cape Town. Karena tak kurang ada 24 makam ulama besar yang terpatri di Cape Town, menjaga kota itu. “Mereka melindungi kota ini,” kata Shaykh Abdalqadir as sufi radiallahuanhu, ulama besar dari Skotlandia yang dikebumikan di Cape Town, tahun 2021 ini.

Pengkhianatan pada Pangeran Arya tak memberhentikan perjuangan. Raden Mas Said masa itu berumur 2 tahun. Ayahnya diasingkan. Dia dibesarkan diluar Keraton Kertasura. Tumbuh besar menjadi dewasa. Tapi trah Mataram tak jauh darinya.

Usia 19 tahun, Raden Mas Said gagah perkasa. Kemampuan beladirinya mumpuni. Tassawuf mendidiknya matang. Perjuangan ayahnya, memerangi VOC dan antek-anteknya diteruskan. Raden Mas Said menunjukkan ketidaksenangan pihak penerus Mataram, bekerjasama dengan VOC. Raden Mas Said menentang.

Kisaran tahun 1740, VOC merajalela. Mereka membantai orang-orang Tionghoa di wilayah Mataram. Pihak Kesultanan jamak terdiam. Karena terjerambab kerjasama dengan pedagang dari Eropa itu. VOC dan pedagang Tionghoa tak akur. Terjadilah perlawanan. Kaum Tionghoa membentuk laskar. Perang terjadi. Merebak peristiwa ‘geger Pacinan’. Perlawanan kaum mata sipit melawan kepongahan VOC. Sejumlah sumber menyebut, Pakubuwono II berada digaris bersama VOC, masa itu.

Geger Pacinan menyulut perlawanan lain. Laskar itu menyerbu keraton. Hingga PB II harus mengungsi sampai Ponorogo. Istana Kartasura luluhlantak. Tahun 1743, pihak Keraton Mataram membangun istana lain di Surakarta. Atas bala bantuan dari VOC juga.

Geger Pacinan melibatkan beberapa pihak internal Keraton. Raden Mas Garendi memimpin aksi ini. Beliau ini cucu dari Amangkurat III. Dia dikenal Sunan Kuning. Sunan Kuning ini, oleh pengikutnya ditabalkan sebagai Amangkurat V. Nah, Raden Mas Said pun bergabung dengan Sunan Kuning. Raden Mas Said diangkat sebagai panglima perang. Kekuatan mereka melawan Pakubuwono II yang didukung VOC.

Terjadi pertempuran besar. Pasukan VOC dan Keraton bersatu menyerbut Raden Mas Said. Angkurat V berhasil ditangkap. Raden Mas Said berhasil lolos. Dia menyusun ulang kekuatan dengan pengikutnya, selepas Sunan Kuning ditangkap VOC.

Di keraton, geliat terjadi. Pangeran Mangkubumi berusaha meraih tahta Mataram. Dia merasa berhak atas tahta itu. Pangeran Mangkubumi sempat melobby Belanda untuk disahkan sebagai Raja Mataram. Melengserkan PB II. Tapi permintaan itu ditolak. Alhasil dia memilih jalan perlawanan. Intrik itu kemudian membuat Raden Mas Said bergabung dengan Pangeran Mangkubumi. Kekuatan kembali pulih.

Mereka menyusun kekuatan dari pedalaman Yogyakarta kini. Tahun 1749, PB II wafat. Sebelum wafat, VOC sempat meminta agar tahta diserahkan pada mereka. Wafanya PB II, dimanfaatkan Pangeran Mangkubumi. Dia mendeklarasikan diri sebagai Raja Mataram dengan gelar PB III. Raden Mas Said mendukung deklarasi itu.

Tapi VOC tak mendukung mereka. VOC mendapuk Raden Mas Suryadi sebagai tahta Mataram. Diberi gelar PB III juga. Jadi masa itu ada dua penyandang gelar PB III. Tapi Makubumi III dan Raden Mas Said terus mencecar VOC.

VOC pun melakukan segala cara. Mata-mata disusupkan ke kubu mereka. Terjadilah perpecahan antara Mangkubumi dan Raden Mas Said. Tanggal 13 Februari 1755, terjadi Penjanjian Giyanti di Desa Giyanti. VOC sangat turut andil perjanjian ini. Dibelahnya kekuasaan Mataram menjadi dua bagian: Kesultanan Yogyakarta dan Kesunanan Surakarta. Mangkubumi membawahi Kesultanan Yogyakarta. Dan Pakubuwono III membawahi Kesunanan Surakarta. Dari situlah gelar Mangkubumi pun berubah menjadi Hamengkubuwono I.

Raden Mas Said tak setuju perjanjian itu.  Karena keterlibatan VOC sangat besar didalamnya. Alhasil beliau dikepung tiga kelompok, VOC, Kesultanan Yogya dan Kesunanan Surakarta. Perang pun dikumandangkan. Raden Mas Said dan pengikutnya, melawan ketiga unsur tadi. Sejumlah pertempuran berhasil dimenangkan pasukan pengikut Raden Mas Said. Banyak tentara VOC dan lainnya meradang nyawa. Disitulah Gubernur VOC, Nicolaas Hartingh, memberikan gelar pada Raden Mas Said sebagai “Pangeran Sambernyawa.”

Tahun 1752, terjadi perang di Desa Kasatriyan. Pasukan koalisi VOC, Kesultana Yogya dan Kesunanan Surakarta melawan Raden Mas Said dan pengikutnya. Sejarawan Soerjo Soedibjo menyebut, perang itu hanya menewaskan 3 orang dari kubu Raden Mas Said. Tapi pasukan ‘koalisi’ tewas sebanyak sekitar 600 orang. Perang berlanjut lagi. Di hutan Sitakepyak, selatan Rembang, perang meletus tahun 1756. Pasukan HB I berhasil dipukul mundur. Bahkan seorang kapten VOC berhasil ditebas kepalanya oleh Raden Mas Said. Setahun kemudian, Raden Mas Said berhasil menyerbut benteng Vredeburg di Yogyakarta dan merebutnya. Ini kerugian besar bagi VOC.

Keperkasaan Raden Mas Said meninggi. Umat banyak mengikutinya. Alhasil VOC membuat sayembara. Sesiapa bisa membunuh Raden Mas Said, dihadiahi 1000 real. Tapi itu tak pernah terjadi. Karena umat jamak tak terpengaruh syahwati, masa itu. Sayembara gagal, VOC mendesak dilakukan perundingan. PB III dan HB I pun mengajak Raden Mas Said berunding. Berdamai demi trah Mataram. Terjadilah perdamaian di Salatiga, 17 Maret 1757.

Disitulah Raden Mas Said mendeklarasikan wilayahnya sendiri. Wilayah Mangkunegaraan. Yang berbeda dengan Kesultanan Yogya dan Kesunanan Surakarta. Beliau diberi gelar Mangkunegaraan I. Inilah sekuel sejarah yang berharga.

Mangkunegaaran berjalan tenang. Wilayah mandiri dengan sistematika syariat dan hakekat diterapkan.

Kisah ini memberi sekuel penting. Tentang bagaimana kehidupan dunia. Di Cape Town sana, Sang Pangeran Arya tenang dalam alam kuburnya. Anak lelakinya meneruskan perjuangannya, melawan kolonialisme. Hingga melahirkan trah baru Mangkunegaraan.

Beliau memberi pesan penting, jangan bersahabat dengan kolonialisme. Karena kolonialisme telah menyebabkan petaka. Kolonialisme inilah kini wajah kapitalisme.

3 abad berselang, mungkin Raden Mas Said akan bersedih. Karena kapitalisme telah merangsek tajam. VOC memang telah tiada. Hindia Belanda tak lagi berkisah. Tapi sistem mereka masih bercokol, dan diamalkan kaum penggila modernisme. Inilah petaka jaman kini. Karena tak ada lagi perang melawan kolonialisme. Melainkan berdamai dengan kapitalisme. Dari segala sisi.

Semoga arwah Raden Mas Said, Pangeran Sambernyawa, diberikan kebahagiaan dalam alam kuburnya. Amin.

 

Irawan Santoso Shiddiq

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wordpress Social Share Plugin powered by Ultimatelysocial