DISKURSUS PENGANTAR TENTANG AJARAN MAULANA JALALUDDIN RUMI
Oleh: Syaikh Abdalqadir As-Sufi*
Awal dari studi tentang Matsnawi selalu dimulai dengan bait pembuka yang sangat terkenal, yang saya yakin kita telah mengetahuinya. Secara tradisional, orang-orang memulai dengan penjelasan mengenai pembukaan yang sangat terkenal ini karena, dalam suatu cara, bait ini menyuarakan tema utama dari Matsnawi. Namun saya ingin mendekati karya Maulana Rumi dengan cara yang berbeda. Pertama-tama, yang saya ingin kalian sadari adalah sifat dari fenomena Maulana Rumi dan sifat dari karya-karya-nya, yang sebagian besar terdiri dari Matsnawi dan Diwan Syamsi-Tabriz. Ngomong-ngomong, saya dengar dari orang-orang Konya bahwa Diwan Syamsi-Tabriz baru saja diterbitkan dalam terjemahan bahasa Turki, jadi kalian akan bisa membacanya. Diwan ini sangatlah penting.
Saya akan memaparkan sudut pandang tentang peristiwa luar biasa ini yang benar-benar membalikkan dunia. Kalian harus memahami latar belakang keberadaan Maulana Rumi di Konya (Turki kini-red). Seperti yang kita tahu, ia bukan berasal dari Konya, ia pada dasarnya adalah seorang pengungsi dari pembantaian oleh bangsa Mongol. Ayahnya adalah seorang ‘alim besar, dikenal dengan gelar Sultan al-Ulama. Ia berasal dari kota besar Balkh, dan bagi kita ini sangat relevan. Peradaban Islam yang paling awal dan besar tidak terjadi di dunia Arab. Peradaban Islam besar yang pertama ada di wilayah yang kini kita sebut Asia Barat atau di sisi lain Sungai Oxus, menuju Transoxiana, China. Semua itu mencakup wilayah utara di atas Afghanistan dan wilayah yang sekarang merupakan Republik-republik Islam Turki, bekas Uni Soviet. Inilah peradaban Islam besar yang mendahului peradaban Islam yang lebih besar dari Daulah Utsmaniyya.
Itu adalah sebuah peradaban yang luar biasa. Sesuatu yang benar-benar istimewa, dan sisa-sisanya kini sangat menggugah. Sekarang kita bisa melihat peninggalan-peninggalannya. Tidak pernah ada yang sebanding dengannya, dan Balkh adalah kota besar—disebut sebagai pusat dunia. Letaknya tepat di luar Mazar-e Sharif yang sekarang tampak tidak berarti. Dahulu, kota itu sangat besar dan memiliki madrasah tasawufnya sendiri, madrasah hadisnya sendiri, serta madrasah ilmu pengetahuannya sendiri. Kota ini sangat-sangat terkenal. Dan ketika Genghis Khan melaju dengan cepat melintasi padang pasir, ia mengatakan sesuatu yang sangat penting. Dalam sebuah kalimat terkenal, ia berkata, “Aku adalah cambuk Tuhan.” Jadi ia tidak berkata bahwa ia adalah cambuk terhadap Tuhan, melainkan cambuk milik Tuhan. Dengan kata lain, ia merasa sedang menjalankan Kehendak Tuhan dalam menghancurkan mereka.
Ia datang dan menghancurkan seluruh peradaban Islam ini. Itu adalah peradaban yang telah membusuk; kepemimpinan dan elit yang menguasainya telah menjadi korup, dan deskripsinya sangat mirip dengan kota-kota Barat dan Amerika saat ini—sama persis. Genghis Khan datang melesat dari Timur bersama pasukannya. Jumlah mereka kalah banyak—umat Islam saat itu sepuluh kali lebih banyak. Namun, ketika ia datang menerjang, ia memusnahkan mereka semua.
Salah satu kisah terkenal di Baghdad adalah ketika seorang Mongol menginjak leher seorang Muslim dan hendak memenggal kepalanya. Ia berkata, “Oh, aku lupa membawa pedangku, tetap di situ, jangan bergerak sampai aku kembali.” Ia pergi untuk mengambil pedangnya, dan pria Muslim itu begitu ketakutan dan gentar sehingga ia tetap terbaring di sana menunggu untuk dipenggal ketika si tentara kembali. Itulah gambaran dari kondisi jiwa umat Islam saat itu.
Sebelum Genghis Khan datang ke Balkh, ayah Maulana Rumi sudah mengatakan bahwa hal ini pasti akan terjadi. Ini harus terjadi, dan aku tidak ingin menjadi bagian darinya. Aku akan pergi. Aku tidak bisa menghentikannya. Aku sudah memperingatkan mereka, tetapi mereka tidak mendengarkan. Maka ia pergi. Ia adalah seorang ‘alim besar, dikenal sebagai Sultan al-‘Ulama, namun mereka tidak peduli. Mereka membuat aturan sesuai keinginan mereka sendiri. Maka ia bangkit dan pergi ke Baghdad bersama putranya.
Ia meninggalkan Balkh, dan tak lama kemudian Genghis Khan datang dan menghancurkan Balkh hingga menjadi debu—dan hingga kini masih berupa puing-puing tak bernyawa di luar Mazar-e Sharif. Kota yang dahulu disebut sebagai pusat dunia. Ketika mereka tiba di Baghdad, ayah Rumi itu berkata kepada para penguasa Abbasiyah, “Hal yang sama akan terjadi pada kalian. Dengarkan aku. Dengarkan aku.” Tapi mereka tidak mau mendengarkan ketika ia memperingatkan bahwa itu akan terjadi pada mereka. Tidak ada harapan mereka mau mendengarkan.
Saat ia tiba di Baghdad, sang Sultan mengirimkan sebuah baskom besar berisi keping-keping emas, seperti yang biasa dijahitkan para wanita pada gaun mereka. Itu diberikan agar ia bisa memberikannya kepada budak-budaknya untuk mengenakan pakaian gemerlap. Tapi ayah Rumi itu malah mengembalikannya dan berkata, “Tidak.” Lalu Sultan bertanya, “Lalu apa yang bisa aku berikan padamu?” Ia menjawab, “Berikan aku mimbar.” Maka Sultan berkata, “Baiklah, engkau bisa menyampaikan khutbah.” Lalu ia naik ke mimbar di Baghdad dan berkata bahwa hal ini akan terjadi, akan terjadi, akan terjadi—dan semua orang menundukkan kepala. Ia tahu mereka tidak akan bergerak, jadi ia berkata, “Kita tidak bisa tinggal di sini. Tempat ini akan hancur.”
Peristiwa berikut menunjukkan sifat aneh dari seluruh invasi ini. Ketika pasukan Mongol melaju dengan cepat menghancurkan kota demi kota, membunuh pria, wanita, dan anak-anak—sampai tidak tersisa satu pun manusia—Genghis Khan mendengar bahwa ada seorang sufi dan ‘alim yang sangat terkenal, seorang wali besar, di salah satu kota itu. Ia mengirim pesan: “Aku akan datang untuk menghancurkan kota ini. Pergilah. Aku tidak ingin membunuhmu.” Namun sang wali membalas, “Aku tidak bisa meninggalkan umatku. Aku tidak akan pergi.” Maka ia tetap tinggal, dan akhirnya dibunuh juga. Itu adalah sesuatu yang tidak bisa dihentikan.
Akhirnya, ayah Jalaluddin Rumi menetap di Konya di bawah perlindungan Sultan Saljuk agung pada masa itu yang menyambutnya dengan hangat. Ketika ia datang ke Konya, ketenarannya begitu besar hingga seluruh penduduk Konya turun ke jalan untuk menyambutnya. Itu adalah peristiwa penting. Ia telah menulis dua buku terkenal, dan pengalaman pertama orang-orang terhadap Rumi sebenarnya hanyalah sebagai corong dari ajaran-ajaran dalam buku ayahnya. Saat itu, Rumi mengajarkan fiqh Sunni yang sangat kuat.
Yang perlu kalian pahami adalah bahwa seluruh kekuatan dari ekspansi dan penghancuran dahsyat oleh bangsa Mongol belum sepenuhnya selesai; kekuatan itu masih mengalir, masih menghantam gerbang kekuasaan Dinasti Seljuq, dan tentu saja pada tahap akhirnya juga menjadi awal kemunculan Kesultanan Utsmaniyah yang perkasa. Seperti yang kalian tahu, hal ini menciptakan krisis bagi mereka. Dari titik itu, menuju runtuhnya Dinasti Saljuq dan munculnya kekuatan Islam Utsmani yang terus tumbuh, pada persimpangan sejarah itulah berdiri satu orang di Konya.
Apa yang terjadi di sana bergema ke seluruh dunia Islam—melintasi anak benua India, menyeberangi gurun-gurun di Timur, hingga mencapai dunia Arab. Bisa dikatakan, tidak ada etos kekufuran yang lebih nyata dibandingkan hegemoni Mongol atas tanah-tanah muslim. Namun demikian, justru kekuatan yang datang dari Konya inilah yang mengubah orang-orang Mongol menjadi muslim. Jadi, penaklukan terhadap kekufuran terjadi bukan oleh kekuatan militer biasa, melainkan oleh kekuatan dari pasukan yang berasal dari jenis lain—yaitu pasukan spiritual yang lahir dari Jalaluddin Rumi.
Kita harus menyadari hal ini, karena setelah itu kita harus menghadapi tanggal paling menyakitkan dalam sejarah umat Islam—yaitu bencana yang dibawa oleh pengkhianat kafir, Mustafa Kemal (Attaturk).
Jika dipikirkan, sebenarnya dia hanya memiliki satu musuh yang benar-benar ia hadapi di medan perjuangan. Di akhir Perang Dunia I, Inggris sudah mundur, mereka selesai, setelah empat tahun melakukan semacam bunuh diri massal. Prancis sedang runtuh. Kemenangan terkenalnya di Izmir hanyalah melawan seorang jenderal Prancis yang menderita skizofrenia, yang percaya bahwa kakinya terbuat dari kaca dan jika ia bergerak, kakinya akan patah—jadi dia bukanlah musuh yang menakutkan.
Satu-satunya musuh sejatinya hanyalah sekelompok lelaki tua berjubah dengan hirka terkenal dari tarekat Mevlevi. Itulah musuh utamanya. Nah, yang harus ditanyakan adalah: “Mengapa dia lebih takut kepada Konya dibandingkan tempat atau siapa pun? Mengapa dia lebih sadar akan keberadaan Konya dan orang-orangnya dibanding siapa pun?”
Dia siap menghadapi Inggris, siap menghadapi Prancis, bahkan siap menghadapi Rusia—dia bahkan harus membuat perjanjian damai dengan Rusia. Tapi terhadap orang-orang ini (tarekat Mevlevi-red), dia tahu bahwa dia harus menghancurkan mereka. Dan peristiwa paling kuat, pencapaian terbesarnya—bahkan lebih besar dari penghancuran bahasamu sendiri sampai hanya tersisa kerangka tulang—adalah penghancuran tarekat Mevlevi. Seperti yang diketahui, dia (Mustafa Kemal-red) menggantung dan terus menggantung sampai tidak ada lagi para Mursyid yang tersisa. Ia mengunci kitab-kitab di tekke (tempat sufi berkumpul) yang ia tutup, sehingga seluruh gerakan tasawuf terhenti. Tidak ada yang bisa membaca buku-buku itu.
Ratusan ribu kitab, komentar-komentar atas Matsnawi, tidak dapat dibaca dalam waktu sepuluh tahun. Semuanya selesai, dan tidak ada yang bisa mengaksesnya untuk dibaca, meskipun saat itu mereka masih bisa membacanya, karena semuanya disegel dan dikunci. Sekarang kita mesti bertanya: “Apa sebenarnya makna semua ini?”
Jawaban yang sederhana—dan jawaban umat Islam selama ini adalah: “Mereka menganiaya kaum sufi karena mereka adalah inti dari Islam, dan selama mereka masih ada, agama yang ia benci dengan kebencian yang luar biasa ini akan terus hidup. Ini juga merupakan bukti bahwa keluarganya tidak mungkin berasal dari keluarga muslim. Sebab ia adalah orang yang sampai ibunya wafat, tetap tinggal bersamanya. Maka tidak mungkin dia akan tinggal bersama ibunya sambil menghancurkan segala sesuatu yang ibunya anggap suci. Ini adalah bukti kuat bahwa keluarga mereka (Mustafa Kemal-red) sejak awal bukanlah keluarga muslim.
Ia berperang melawan rakyat Turki sendiri ketika ia memerangi tarekat Mevlevi—dan ia berhasil membungkamnya.
Ia menutup tekke dan makam (Maulana Rumi), lalu mengubahnya menjadi museum. Dan mereka mengira bahwa mereka telah selesai dengan seluruh urusan itu.
Saya tidak menerima bahwa serangan terhadap Mevlevi itu hanya karena mereka kaum sufi—bahwa mereka ingin menghentikan tasawuf. Karena apa yang mereka lakukan terhadap Mevlevi tidak sama dengan apa yang mereka lakukan terhadap Naqsyabandiyah atau Halvetiyah.
Tidak ada dari mereka yang diperlakukan seburuk itu. Maka jika kamu memikirkan ini secara mendalam, dan bertanya: jika bukan hanya karena persaudaraan ini yang ingin mereka hancurkan—karena mereka (Mevlevi) memang semacam ‘masyarakat rahasia’, dan mereka dianggap sebagai ‘masyarakat rahasia Islam’—jika bukan itu alasannya, maka kamu benar-benar harus mengakui bahwa orang yang disebut-sebut sebagai “pejuang” dan “ghazi” ini ternyata takut terhadap orang-orang berjubah panjang yang berputar-putar dalam lingkaran. Betapa anehnya hal ini.
Kita bertanya, kenapa dia ingin menghentikan ini? Padahal mereka hanyalah orang-orang yang berputar-putar dalam lingkaran! Jadi tidak mungkin dia berpikir, “Ini hanya hal primitif, orang-orang berputar-putar seperti itu, terlalu gila, kita tidak bisa menerima ini, kita adalah orang-orang modern.” Itu tetap saja tidak masuk akal.
Kita bertanya lagi, sebenarnya ini tentang apa? Apa isi dari buku yang menjadi dasar ajaran tarekat Mevlevi itu?
Sekarang, ada dua kitab: Matsnawi dan Diwan Syamsi-Tabriz. Maka, apa pun isi dari keduanya adalah seperti bahan bakar dari sebuah mesin—dan bahan bakar ini harus dimatikan. Jika kamu menyelaminya, maka kamu akan menemukan jawabannya.
Jika kamu melihat apa yang disampaikan dalam Matsnawi, kamu akan menyadari bahwa ini adalah alat yang unik untuk mengalahkan kaum kufur, dan itu berarti secara langsung bahwa isinya adalah ajaran Islam yang sejati, murni, dan tak terbantahkan. Bahkan, bukan hanya ajaran Islam yang murni, tapi ini adalah yang paling murni dari yang murni, karena bukan hanya menerima dan menegaskan dasar-dasar pokok Islam—seperti keyakinan terhadap hakikat Al-Qur’an dan hakikat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta kecintaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam—tetapi juga sepenuhnya sejalan dengan ajaran pemikiran Islam yang paling ketat, yaitu mazhab Al-Asy’ari.
Pemikiran Al-Asy’ari sangat mendasar dalam Matsnawi, jadi tidak ada satu pun yang bisa dijadikan alasan untuk menuduhnya seperti tuduhan-tuduhan yang sering diarahkan kepada Muhyiddin Ibnu Arabi, misalnya. Ini adalah ajaran Islam yang murni sepenuhnya. Namun, pada saat yang sama, Matsnawi juga membicarakan sebuah rahasia. Dan jika rahasia ini sampai terbongkar, maka seluruh bangunan dari sistem lain—yang adalah kufur, yang jika diterjemahkan dengan benar adalah sekularisme—akan runtuh.
Jika kamu menerjemahkan sekularisme sebagai kufur, maka kamu akan mendapatkan gambaran yang sangat jelas, karena ‘al-kufr millatun wahidah’—kekafiran itu satu golongan—dan inilah maksudnya. Maka datanglah Maulana (Rumi), dan ia berkata: ‘Kamu tidak bisa memiliki doktrin kufur jika tidak ada Kebenaran. Jika tidak ada Kebenaran, maka tidak akan pernah ada doktrin ‘kebohongan’.
Jadi, semakin kuat kamu menampilkannya (Kebenaran), semakin kamu tunjukkan, maka seluruh sistem kufur akan runtuh, karena pada akhirnya orang-orang akan bertanya: dari mana asal semua ini? Jawabannya: haruslah dari penolakan terhadap Kebenaran, dan karena itu sistem tersebut hanya akan runtuh menimpa orang-orangnya sendiri. Maka orang-orang pun akan bertanya: dari mana semua ini berasal? Jawabannya adalah: dari penolakan terhadap Kebenaran.
Dengan kata lain, kufur adalah bukti negatif dari realitas hakikat.
Jadi, inti dari Matsnawi adalah kenyataan bahwa Maulana Jalaluddin Rumi menjelaskan kepada manusia tentang hakikat eksistensi, bagaimana dunia ini bekerja, dan yang paling penting, ia mengatakan bahwa pengetahuan yang menjadi dasar sistem kafir itu tidak memadai dan tidak cukup untuk menopang proses kehidupan. Dan bahwa manusia membutuhkan pengetahuan lain ini untuk bisa hidup—bahwa tanpa pengetahuan ini, hidup tidak akan mungkin.
Setelah mengatakan itu, ia lalu mengatakan bahwa segalanya telah dibalik—semuanya harus dilihat secara terbalik dari cara pandang mereka. Ia berkata bahwa ini seperti kebalikan dari demokrasi. Ia mengatakan bahwa orang-orang tidak tahu apa-apa, mereka tidak tahu apa-apa, sama sekali tidak tahu apa-apa. Satu-satunya yang tahu adalah mereka yang Allah telah berikan cahaya ke dalam hati mereka. Dan di antara mereka yang mendapatkan cahaya itu, ada satu yang mengenal-Nya, dan dialah yang dapat memberikan pencerahan kepada semua.
Pada titik itu, begitu kamu mengatakan hal ini, kamu telah membebaskan semua orang dari perbudakan oleh sejarah, oleh proses pelemahan terhadap yang lain. Ini adalah sebuah kekuatan yang, jika telah dilepaskan, maka tak ada apa pun yang bisa menghadapinya. Dan inilah tema sejati dari Matsnawi.
Tema sejati dari Matsnawi adalah bahwa kamu memahami fenomena dari manifestasi tertinggi-Nya. Dan kemudian ia mengatakan hal yang menjadi dasar seluruh tasawwuf, dan tanpa hal ini, maka ia bukanlah DIN dalam makna yang mendalam. Ia mengatakan bahwa Nabi datang untuk menegakkan hal ini, namun karena ini adalah sesuatu yang hidup, maka ia harus memiliki para pengusung yang hidup pula pada setiap zamannya. Jika tidak, maka itu tidak mungkin, karena apa yang harus dipahami bukanlah tesis intelektual.
Apa yang harus kamu ketahui—makna sejati dari Tauhid—tidak bisa kamu capai dengan akal atau rasio semata. Kamu hanya bisa mengetahuinya melalui persepsi, dan kamu hanya dapat memiliki persepsi itu melalui seseorang yang membimbingmu melampaui persepsi indrawi menuju pemahaman yang lain.
Begitu kamu mengatakan hal ini, kamu telah membuka pintu menuju apa yang bisa disebut sebagai kebebasan spiritual. Dan kamu telah membuka jalan bagi suatu kaum yang bisa menjadi mujahidin—mereka yang berjuang di jalan Allah dan tidak takut akan kematian—yang merupakan fenomena hakiki dari para Sahabat dan para Salaf di Madinah al Munawarah.
Mari kita lihat beberapa kutipan dari Maulana Rumi. Dalam Buku Keempat, ia berkata:
“Kamulah burungmu sendiri, mangsamu sendiri, dan perangkapmu sendiri. Kamulah tempat kehormatanmu sendiri, lantaimu sendiri, dan kehancuranmu sendiri.”
Dengan kata lain, sedalam apa pun kamu bisa jatuh, itu karena dirimu sendiri. Setinggi apa pun kamu bisa naik, itu juga karena dirimu sendiri. Kamulah lantai dan atapmu sendiri. Kamu bisa mencapai kedalaman dan ketinggianmu sendiri—bukan milik orang lain. Semuanya ada padamu. Inilah kabar pertama yang ia sampaikan kepada rakyat yang terbelenggu. Inilah yang mengubah seluruh generasi prajurit Mongol menjadi Auliya, shalihun, dan ulama, hingga melahirkan peradaban Islam yang akhirnya bermuara pada umat Utsmani.
Ia juga mengatakan:
“Dalam DIN kami”—maksudnya Islam—”hal yang benar adalah perang dan ketegasan. Dalam DIN-nya Isa, hal yang benar adalah gua dan gunung.”
Maka ia juga menunjukkan bahwa ia tidak mengusulkan kita mengikuti DIN Sayyidina ‘Isa. Para Mevlevi bukanlah orang-orang yang mengasingkan diri dan hanya menjadi darwis, ini adalah sesuatu yang berbeda. Karena ia mengatakan, “DIN kami adalah perang dan ketegasan.” Dengan kata lain, kita adalah orang-orang yang mampu menegakkan agama ini, karena adanya pengetahuan ilahiah yang kita peroleh melalui proses yang ia tawarkan kepada para pengikutnya.
Maulana juga mengomentari perintah Al-Qur’an:
“Infakun fi sabilillah”—Berinfaklah di jalan Allah—dan menghubungkannya dengan penolakan Rasul terhadap kehidupan ‘membiara’ dalam Islam. Maulana Rumi memberikan komentar penting pada hadits Rasulullah, “Tidak ada kerahiban dalam Islam.” Kita semua tahu ini adalah hadits fiqh, yang menjelaskan bahwa tidak ada kehidupan selibat atau mengasingkan diri dalam Islam—proses hidup adalah kehidupan keluarga.
Ia lalu menjelaskan maknanya. Ia tidak menolaknya, ini bukan penafsiran batini, ia tidak menolak bahwa ini adalah prinsip dasar dalam komunitas Muslim. Tapi ia menjelaskan:
“Ketika tidak ada musuh, jihad tidak bisa dilakukan. Jika kamu tidak memiliki nafsu, kamu tidak bisa memiliki ketaatan. Kamu tidak bisa menahan diri jika tidak ada keinginan. Ketika tidak ada lawan, apa gunanya kekuatanmu?”
Ia berkata, “Allah berfirman, ‘Berinfaklah di jalan Allah,’ yang berarti kamu harus mendapatkan sesuatu lebih dulu.” Kamu tidak bisa berinfak jika belum memperoleh apa pun. Kamu tidak bisa memberi tanpa sebelumnya memiliki pemasukan. Meskipun Allah menggunakan perintah mutlak, “Berinfaklah!”, namun pahamilah bahwa itu juga berarti: “Perolehlah sesuatu, lalu berinfaklah.”
Jadi, apa yang dilakukan Maulana adalah mendorong murid untuk masuk ke dunia, ke dalam tindakan, ke dalam interaksi. Ia tidak menyarankan untuk mundur. Orang-orang Mevlevi bukanlah orang-orang yang menarik diri dari kehidupan, seperti yang secara fitnah digambarkan kepada Eropa oleh diktator kafir itu. Justru sebaliknya, mereka adalah tentara Allah.
Maulana Rumi berkata, “Ketika tidak ada predikat dalam seseorang, keberadaan subjek menjadi mustahil.” Dalam tata bahasa, terdapat subjek dan predikat—subjek adalah kata benda dan predikat adalah sesuatu yang menerangkan tindakan. Ketika tidak ada predikat, tidak ada makna dari subjek itu. Kamu tidak memiliki realitas apa pun sampai kamu masuk ke dalam tindakan. Kamu tidak benar-benar ada. Inilah ajarannya. Ia tidak menyarankan untuk mundur dari dunia. Ia tidak menyarankan untuk menyembunyikan diri. Ia menempatkan manusia dalam tindakan, tetapi dengan pemahaman tentang apa yang terjadi ketika ia bergerak.
Lalu ia mengatakan sesuatu yang terdengar persis seperti hal yang dituduhkan kepadanya:
Dalam Diwan Syamsi-Tabriz—yang perlu diingat adalah kitab yang berbeda, kitab bagi para ‘arifin, bagi para gnostik—dibahas hubungan antara Syaikh dan murid, antara Rumi sebagai murid dan Shams sebagai gurunya. Ini tentang apa yang terjadi ketika seorang darwisy Qalandari yang liar dan tampak gila tiba-tiba datang ke Konya. Perlu diingat, Konya saat itu adalah kota yang beradab, penuh kebudayaan, memiliki istana, puisi, musik. Semuanya indah. Konya berada di luar badai.
Lalu datanglah darwisy ini, dari tarekat Qalandariyah, mengenakan jubah tebal dari bulu kasar (muraq’a). Jika jubah itu dilepas, ia bisa berdiri sendiri seperti tenda karena tebal dan beratnya, bahkan berbau. Ia masuk dan membalikkan dunia Maulana Rumi.
Dalam Diwan, Maulana berkata:
“Jadilah mabuk dalam cinta, karena cinta adalah satu-satunya yang ada! Tanpa interaksi cinta, tak ada jalan masuk menuju Sang Kekasih. Mereka bertanya, ‘Apa itu cinta?’ Katakanlah, ‘Menanggalkan kehendak.’”
Itulah jawaban sufistik. Apa itu cinta? Ia menjawab: “Cinta adalah melepaskan kehendak diri.”
Apa artinya ini? Ini luar biasa, karena tidak terdengar seperti cinta romantis seperti yang biasa kita pikirkan. Ia berkata: “Cinta adalah meninggalkan kehendak diri.” Artinya, kamu tidak lagi menginginkan apa pun untuk dirimu sendiri. Kamu hanya menginginkan apa yang diinginkan oleh Sang Kekasih.
Tentu saja, semua kisah Layla dan Majnun dalam Matsnawi adalah kisah tentang cinta semacam ini.
Dan Maulana Rumi berkata, “Orang yang belum terbebas dari kehendak, tidak memiliki kehendak.” Ini terdengar seperti kontradiksi: mengatakan bahwa seseorang yang belum terbebas dari kehendaknya sendiri, justru tidak memiliki kehendak. Dengan kata lain, yang ia maksud adalah bahwa jika kamu masih memiliki kehendak diri, maka kamu berada di bawah hikmah Rasul, Shallallahu ‘alayhi wa sallam, yang berkata, “Kamu menginginkan sesuatu dan Allah menginginkan sesuatu. Apa yang kamu inginkan bukanlah apa yang Allah inginkan. Tapi ketahuilah bahwa apa yang Allah inginkan pasti akan terjadi.”
Orang yang belum terbebas dari kehendak, tidak punya kehendak. Tapi orang yang sudah terbebas dari kehendak, justru memiliki kehendak. Kehendaknya adalah kehendak Sang Kekasih (Allah). Dia telah mencapai ibadah sejati kepada Allah. “Aku tidak menginginkan apa-apa, aku hanya menginginkan apa yang Allah inginkan.” Pada titik itu, dia memiliki kehendak, karena Allah yang berkehendak atas dirinya. Maka dia telah meninggalkan sifat kehendak pribadi itu.
Apa yang Maulana lakukan adalah membalikkan seluruh dunia secara total. Ini adalah puncak dari apa yang telah dikatakan sebelumnya. Ini tampaknya merupakan kebalikan yang ekstrem, dan kita harus menggabungkan keduanya untuk memahami bagaimana proses ini berlangsung.
Sekarang kita melihat beberapa aspek dari jalan tarekat Mevlevi. Untuk memahami tarekat Mevlevi, kita harus kembali ke masa sebelum masa penganiayaan. Sekarang ini tarekat itu berada di bawah tanah, tersembunyi, tertutup rapat, tetapi belum selesai, karena semuanya masih bisa dikenali dan ajaran yang sama ini masih ada di kalangan semua sufi. Ini mungkin adalah versi tasawuf yang paling ortodoks, paling benar, dan paling murni yang masih ada.
Maulana berkata:
“Jika seseorang menempuh jalan (tarekat) tanpa pembimbing, perjalanan dua hari akan berlangsung seratus tahun.”
Ia menceritakan kisah tentang seorang tukang perahu yang merupakan petani bodoh, yang sedang mengantarkan seorang ulama menyeberangi danau. Si ulama bertanya, “Apa pekerjaanmu?”
Tukang perahu menjawab, “Saya hanyalah seorang tukang perahu biasa.”
Ulama itu berkata, “Aku adalah seorang ahli tata bahasa.”
Tukang perahu menjawab, “Oh, aku tidak tahu apa-apa tentang itu. Aku tidak merasa butuh tahu soal itu.”
Kemudian si ulama berkata, “Kalau kamu tidak tahu tata bahasa, berarti kamu telah menyia-nyiakan separuh hidupmu.”
Lalu mereka menatap langit, dan badai besar datang. Ombak besar mengguncang perahu, dan air mulai masuk ke perahu. Si tukang perahu bertanya, “Apakah kamu bisa berenang?”
Ulama itu menjawab, “Tidak.”
Maka tukang perahu berkata, “Kalau begitu, kamu telah menyia-nyiakan seluruh hidupmu!”
Dan dia pun melompat ke air.
Rumi mengatakan bahwa ini adalah metafora dari dua pendekatan yang mungkin terhadap eksistensi. Jika kamu memilih yang pertama, kamu mungkin akan sampai di tengah danau, tetapi kamu tidak akan mencapai sisi seberang. Kamu tidak akan sampai, kamu selesai di tengah jalan—pendekatan itu bukanlah dasar yang cukup untuk hidup. Maka dia mengomentari kisah itu dan berkata:
“Jika kamu adalah sarjana paling terpelajar di zamannya di dunia, waspadalah terhadap kefanaan dunia ini dan waktu yang terus berlalu. Kami menceritakan kisah ahli tata bahasa ini untuk mengajarkan kamu tentang nahwu (tata bahasa) dan mahwu (penghapusan), untuk mengajarkan kamu tentang tata bahasa dan tentang pelepasan diri.”
“Dalam kehilangan dirimu, wahai sahabat yang mulia,” —dalam kehilangan kesadaran akan keberadaan dirimu sendiri, yang merupakan inti dari seluruh amaliyah sufi—”Kamu akan menemukan fiqih dari fiqih itu sendiri,” Kamu akan menemukan legalitas dari semua hukum, “Kamu akan menemukan tata bahasa dari tata bahasa dan esensi dari semua ilmu.”
Lalu dia melanjutkan penjelasannya:
“Inilah sebabnya secara lahiriah kamu adalah mikrokosmos, karena secara hakikat kamu adalah makrokosmos. Dari sudut pandang tampak luar, cabang adalah asal dari buah, tetapi pada kenyataannya cabang itu ada karena buah. Jika sang tukang kebun tidak memiliki keinginan dan harapan terhadap buah itu, mengapa ia menanam akar pohon tersebut?”
Jika dia tidak menginginkan dan mengharapkan buah, mengapa ia menancapkan akar pohon ke tanah?
Apa yang ia lakukan di sini adalah membalik seluruh pemahaman tentang eksistensi. Apa yang ia katakan adalah sesuatu yang luar biasa: bahwa segala sesuatu yang ada itu ada demi tercapainya fenomena tertinggi. Seluruh hukum fenomena itu disusun demi memungkinkan terjadinya fenomena tertinggi itu.
Ia berkata:
“Itulah sebabnya, secara hakikat, pohon itu lahir dari buah, meskipun secara lahiriah tampak buah itu berasal dari pohon.”
Ia menjelaskan bahwa semua orang memahami eksistensi ini dengan cara yang terbalik. Dan ia menegaskan,
“Inilah alasan mengapa Sayyidina Muhammad, shallallahu ‘alayhi wa sallam, berkata: ‘Adam dan para nabi yang lain mengikutiku di belakang panji-panji ku.'”
Dengan kata lain, mereka adalah cabang, dan beliau adalah buahnya. Maka kesempurnaan dari segalanya berada pada manusia dengan pengetahuan mutlak, yakni pada dia yang datang membawa Risalah dari Allah. Seluruh penciptaan ini ada agar beliau bisa datang.
Mari kita lihat beberapa hal yang dikatakannya tentang persepsi indrawi. Ia melancarkan serangan besar terhadap akal dan pemikiran sebagai proses yang berguna. Ia sangat keras dalam hal ini. Rumi sangat dipengaruhi oleh Imam al-Ghazali. Ia menyerang para filosof. Masih ada perdebatan besar yang terjadi — perdebatan yang pada akhirnya bisa menjerumuskan seseorang keluar dari Islam menuju kekufuran, dan juga menghalangi orang untuk masuk ke dalam Islam.
Mereka (para filosof) menghadirkan dua doktrin yang dimaksudkan untuk menyedotmu keluar dari Islam:
- Determinisme, bahwa kamu ditakdirkan, bahwa kamu tidak bisa berbuat apa-apa, semuanya telah tertulis;
- Dan yang kedua adalah bahwa kamu harus menggunakan akal dan intelektualitas saja, bahwa tidak ada hal lain yang penting — hanya rasionalitas.
Kedua jalan ini adalah pintu keluar dari ilmu. Maulana Rumi sangat keras dalam mengkritik pandangan Mu’tazilah yang mengatakan bahwa segala hal harus diselesaikan dengan akal, karena menurut Rumi mereka sebenarnya tidak menggunakan akal, tapi mengandalkan dialektika, yang menurutnya bukanlah pemakaian akal yang sejati.
Pemikir Jerman, Gadamer, berkata:
“Akal adalah bagian dari kebebasan.”
Rumi menanggapi determinis dengan berkata:
“Kalau memang segalanya sudah ditentukan, kenapa kamu masih berdebat soal itu?”
Kalau kamu benar-benar sudah ditentukan, kenapa kamu masih menyusun argumen bahwa kamu adalah manusia yang ditentukan, yang secara tidak langsung menunjukkan bahwa kamu masih memiliki kebebasan dalam berpikir soal determinisme itu sendiri? Kalau kamu benar-benar ditentukan, kamu pasti sudah mati langkah — tidak bisa bergerak sama sekali.
Rumi berkata:
“Jalan persepsi indrawi adalah jalannya keledai.”
Itu sangat tegas — bisa dibilang, itulah akhir dari pendidikan universitas modern.
Ia berkata:
“Jalan persepsi indrawi adalah jalannya keledai, wahai penunggang.”
Ia memanggil murid-muridnya “penunggang” karena ia ingin mereka membedakan diri dari “keledai” (orang yang hanya mengandalkan persepsi inderawi-red).
“Celakalah kamu yang bersaing dengan keledai.”
Ia berkata,
“Di balik lima indra fisik, ada lima indra ruhani. Itu seperti emas merah, sedangkan indra fisik hanyalah tembaga.”
Dengan kata lain, indra fisik tampaknya berharga, tapi sebenarnya tidak bernilai jika dibandingkan dengan yang batiniah.
Rumi juga berkata:
“Sang muwahid maupun sang mutasyabih sama-sama terpana kepada-Mu, ya Allah.”
Sang muwahid adalah orang yang menyatakan keesaan Allah dan tidak menghubungkan-Nya dengan bentuk atau rupa apapun. Sedangkan sang mutasyabih adalah yang melihat Allah melalui bentuk-bentuk.
“Wahai Engkau yang tanpa bentuk, tapi tampak melalui segala bentuk, Ya Allah, Subhanahu wa ta’ala.”
“Doktrin yang bersandar pada mata indra adalah Mu’tazili, sedangkan mata akal adalah Sunni dalam hal penyatuan dengan Allah.”
Dengan kata lain, “mata akal” yang ia maksud adalah pendekatan Asy’ariyah, bahwa jika kamu mendekati Allah dengan cara yang benar, kamu tidak akan terjebak dalam jaring pemikiran yang berujung pada skeptisisme — karena skeptisisme adalah kematian.
Inilah kuncinya:
“Jika kamu menyebut Allah tanpa bentuk atau dengan bentuk, semua itu sia-sia jika kamu belum terbebas dari bentuk.”
Artinya, selama kamu belum terbebas dari bentuk, kamu belum bisa menyatakan tauhid dengan benar. Karena kamu masih terjebak dalam segala sesuatu selain Allah — yaitu ma siwa Allah.
Oleh karena itu, klaimmu sebagai seorang muwahid menjadi tidak sah, dan mengatakan bahwa Allah memiliki bentuk sementara kamu sendiri adalah bentuk adalah syirik, karena itu berarti kamu sedang mengatakan bahwa kamu adalah bagian dari Tuhan — bahwa kamu seorang panteis, menganggap dirimu bagian dari ketuhanan. Maka Rumi berkata:
“Tidak satu pun dari kedua posisi ini sah kecuali kamu telah tiada.”
Artinya, kesadaran spiritual yang sejati mengharuskan kamu telah tiada, yaitu kamu telah “mengalami” ketiadaanmu sendiri.
Maulana Rumi menjelaskan:
“Sang filosof memberikan penjelasan dengan caranya sendiri. Sang teolog lalu menolaknya. Lalu orang ketiga mengejek keduanya.”
Jadi, sang filosof berkata satu hal, sang teolog berkata yang lain, lalu yang ketiga malah menertawakan keduanya dan akhirnya kelelahan sendiri karena dia juga keliru.
“Masing-masing menunjukkan petunjuk tentang jalan, agar kamu percaya bahwa dia berasal dari desa itu.”
Maksudnya: mereka ingin kamu percaya bahwa mereka benar-benar tahu tentang hakikat ini.
Namun Rumi berkata: “Tidak, inilah kebenarannya: tidak satu pun dari mereka benar, meskipun begitu, umat tidak sepenuhnya tersesat. Karena tidak ada kebatilan yang bisa muncul tanpa adanya Kebenaran. Orang bodoh membeli uang palsu karena dia mengira itu emas. Jika tidak ada uang asli, bagaimana mungkin uang palsu bisa tersebar? Jika tidak ada Kebenaran, bagaimana mungkin bisa ada kesalahan? Kesalahan mendapatkan kilaunya dari Kebenaran.”
Jadi, yang salah tampak “bersinar” karena ada bayangan dari Kebenaran.
“Maka jangan katakan bahwa semua ini hanyalah fantasi dan kesalahan. Tanpa Kebenaran, tidak akan ada imajinasi di dunia ini. Kebenaran adalah Malam Kemuliaan (Lailatul Qadar).”
Kebenaran adalah Laylat al-Qadr,
“disembunyikan di antara malam-malam lain agar ruh bisa menguji tiap malam.”
Dalam Islam modern yang telah mati, mereka berkata,
“Inilah Lailatul Qadar,”
seolah-olah malam itu telah tetap dan pasti.
Padahal Rasulullah, shalallahu ‘alayhi wa salam, bersabda:
“Aku tidak yakin malam yang mana itu. Itu salah satu malam ganjil di akhir Ramadhan.”
Ruh sejati akan berkata:
Apakah malam ini? Bukan. Apakah malam yang ini? Mungkin ini. Kamu menguji malam-malam itu untuk menemukan yang sejati.
Demikian juga, Rumi berkata:
“Kebenaran itu seperti Laylat al-Qadr — tersembunyi di antara malam-malam lainnya agar ruh dapat menguji tiap malam.”
Artinya, sepanjang hidup ini, kamu terus-menerus menguji untuk menemukan Kebenaran. Ini hanyalah sebagian dari permulaan pembahasan Matsnawi. Orang-orang sering bertanya,
“Bagaimana kaum muslimin di masa para Sahabat, di masa Sayyidina ‘Umar, bisa sampai ke gerbang Eropa? Bagaimana mereka bisa menyebar ke seluruh dunia? Bagaimana mereka bisa menaklukkan sampai ke Timur?”
Itu karena orang-orang pada masa itu mengetahui hal-hal ini — mereka hidup dengannya, itu adalah “mata uang” mereka, sebuah pengalaman yang umum dan nyata dalam kehidupan mereka.
Jika kamu perhatikan semua tariqah, maka jalurnya semua kembali kepada Rasulullah, shalallahu ‘alayhi wa sallam. Hasan al-Basri, rahimahullah, hidup di zaman cucu-cucu Rasulullah, shalallahu ‘alayhi wa sallam. Dia adalah seorang sufi besar, dan suatu hari dia sedang mengajar di Basrah. Di majelisnya, ada seorang lelaki yang bangkit dan pergi, saat mereka membahas soal penggunaan akal, penggunaan rasio, dan bagaimana kehidupan bisa dipahami melalui logika, analisis, dan dialektika.
Hasan al-Basri berkata:
“Kamu telah memisahkan dirimu dari kami. Kamu telah terputus dari kami.”
Artinya, kamu telah menjadi Mu’tazili, kamu telah memutuskan diri dari hikmah — yaitu inti pengetahuan yang menjadi dasar Islam itu sendiri. Dan efek dari bentuk pertanyaan seperti itu bukanlah untuk mempertanyakan dunia fisik, tetapi pertama-tama mempertanyakan alam Ghaib. Iman kamu yang justru diambil lebih dahulu.
Misalnya, mengatakan kamu tidak percaya pada malaikat — padahal itu wajib, kamu harus percaya pada malaikat, karena itu bagian dari DIN. Kamu harus percaya pada kenyataan dunia yang tak terlihat di sekelilingmu. Tapi tentu saja, begitu kamu mulai ragu pada yang Ghaib, kamu mulai ragu juga pada saudaramu sendiri, dan bahkan pada dirimu sendiri — karena kamu sendiri adalah realitas yang tidak terlihat. Yang tak terlihat dalam dirimu menguasai yang terlihat.
Ketika seorang dokter merawat pasien, dia memberikan obat, memeriksa suhu tubuh, mengobati luka, menjahit, memberi perban, meletakkan pasien di ranjang. Lalu keluarga datang dan bertanya,
“Bagaimana keadaannya, Dokter?”
Dan dokter berkata,
“Saya sudah lakukan semuanya. Sekarang tergantung pada-Nya.”
Artinya, ada sesuatu dalam dirinya yang harus berjuang untuk tidak mati. Inilah realitas ghaibnya. Yang Tak Terlihat dalam dirinya lebih berkuasa daripada seluruh ilmu dan kepakaran fisik si dokter.
Jadi, jalan Mu’tazilah adalah — jalan keraguan, jalan berpikir bahwa semuanya bisa dijelaskan, diteliti, dibedah, dan dianalisis — adalah penguasaan palsu, yang pada akhirnya tidak membuat kita memegang perkara ini dalam genggaman. Kita adalah makhluk yang berbeda. Kita dikuasai oleh Yang Tak Terlihat.
Rumi menunjukkan sesuatu dari inti ketaknampakan yang merupakan diri, dan bahkan ketaknampakan seluruh kosmos, karena dia juga pernah berkata:
“Kamu bukanlah mikrokosmos, kamu sebenarnya adalah makrokosmos, kamu adalah keseluruhan itu sendiri.”
Dan dia mengatakan bahwa inti dari segala sesuatu adalah cinta, dan cinta itu adalah denyut, adalah gerak, adalah dinamika yang membuat segala sesuatu di dunia fisik bergerak. Cinta membuat planet-planet bergerak, membuat atom berputar, membuat tumbuhan terbangun, membuat segala sesuatu bergerak. Dan karena itu, cinta adalah penunjuk kepada Dzat.
Rumi berkata:
“Dengan cinta, hal yang pahit menjadi manis. Dengan cinta, tembaga menjadi emas. Dengan cinta, ampas menjadi jernih. Dengan cinta, rasa sakit menjadi penyembuhan. Dengan cinta, yang mati menjadi hidup. Dengan cinta, raja menjadi hamba. Dan cinta ini — tumbuh dari ilmu.”
Dia berkata:
“Si bodoh mana yang pernah duduk di singgasana cinta? Kapan pernah ilmu yang dangkal melahirkan cinta seperti ini?”
Lalu Rumi membuat beberapa definisi. Apa yang dia lakukan adalah menghubungkan istilah inti dari tasawuf, yaitu ‘arif — orang yang mengenal (Allah). Dia berkata:
“Segala sesuatu selain cinta akan dilahap oleh cinta. Cinta tidak tertampung dalam kata maupun dalam pendengaran. Cinta adalah lautan yang kedalamannya tak terlihat.”
Saya teringat ketika bersama Syaikh pertama saya, Syaikh Muhammad ibn al-Habib, di Aljazair. Kami duduk di taman bersama beberapa muridnya (fuqara), dan ada seorang sufi besar dari Blida bernama Sidi Hamoud. Mereka berada dalam majelis bersama para sufi tingkat tinggi. Saat itu Syaikh Muhammad ibn al-Habib sudah berusia lebih dari seratus tahun. Beliau berkata:
“Katakan padaku sesuatu tentang hati.”
Salah satu murid menyampaikan sesuatu, dan beliau berkata,
“Ya, ya.”
Kemudian yang lain menyampaikan lagi, dan beliau berkata,
“Ya, ya… tapi itu bukan yang aku inginkan.”
Lalu beliau berpaling kepada Sidi Hamoud dan berkata:
“Apa yang kamu katakan?”
Sidi Hamoud menjawab:
“Hati adalah lautan.”
Syaikh menjawab:
“Itu dia. Itu dia. Hati adalah lautan.”
Jadi kamu bisa lihat, yang beliau tunjukkan adalah bahwa pengetahuan yang berupa cinta itu tempatnya di hati. Di hati-lah segalanya menjadi hidup.
Imam al-Ghazali berkata:
“Orang yang telah menapakkan satu kaki di jalan ini adalah bintang. Orang yang telah jauh melangkah di jalan ini adalah bulan. Dan orang yang telah sampai adalah matahari. Tapi orang yang belum menapakkan satu kaki pun di jalan ini — dia seperti batu.”
Itu karena hatinya mati. Jika hati sudah mati, maka tidak ada yang bisa dilakukan lagi. Itu tidak mungkin. Inilah tantangan besar yang dihadapi oleh Mustafa Kemal (Attaturk), hingga dia harus menghancurkan sesuatu yang tidak bisa dia miliki untuk dirinya sendiri.
Rumi berkata:
“Cinta itu seperti kapal bagi orang-orang pilihan. Bencana jarang terjadi. Kebanyakan adalah penyelamatan.”
Ia juga berkata:
“Jual akal, dan belilah keheranan, belilah kekaguman.”
Sebuah pernyataan yang sangat kuat dan mengguncang.
Ia berkata:
“Akal hanyalah pendapat, itu cuma pendapatmu, bukan pendapat-Nya. Sementara kekaguman adalah penglihatan — lewat itu kamu melihat.”
Lalu Rumi bertanya:
“Jika tidak ada cinta, bagaimana mungkin ada keberadaan?”
Cara dia menyederhanakan segala sesuatu sangatlah penting.
Suatu ketika, seorang anggota keluarganya, al-Qunawi — komentator besar atas karya Muhyiddin ibn Arabi, seorang sufi intelektual tingkat tinggi — sedang duduk bersama Rumi. Al-Qunawi bertanya kepada Maulana sebuah pertanyaan, lalu Maulana menjawabnya.
Al-Qunawi berkata:
“Luar biasa sekali, bagaimana engkau bisa memberikan jawaban yang begitu sederhana untuk pertanyaan yang begitu rumit.”
Dan Rumi tersenyum padanya, lalu berkata:
“Tidak, yang luar biasa itu justru kamu bisa mengajukan pertanyaan yang begitu rumit tentang hal yang begitu sederhana.”
Lihatlah betapa dalam ia masuk lewat metafora yang sederhana ini.
Ia berkata:
“Jika tidak ada cinta, bagaimana mungkin ada keberadaan? Bagaimana roti bisa menempel padamu dan menjadi bagian dari dirimu?”
Ia berkata:
“Roti itu menjadi kamu karena cintamu dan karena nafsu makanmu. Kalau tidak, bagaimana mungkin roti bisa sampai pada ruhmu?”
Ia mengambil proses fisik — bagaimana protein dari makanan berubah menjadi tubuhmu — lalu berkata, bagaimana itu bisa menyatu denganmu? Jawabannya: melalui cinta. Melalui keinginanmu. “Aku ingin roti itu. Aku ingin hidup.” Dan dengan itulah, ia mencapai ruhmu. Lalu dalam satu kalimat yang sangat indah, ia berkata:
“Penderitaan karena cinta berbeda dari semua penderitaan lainnya.”
Dan ia memberikan definisi terkenalnya:
“Cinta adalah astrolab rahasia-rahasia Tuhan.”
Dan ia berkata:
“Millah cinta terpisah dari semua agama.Bagi para pecinta, millah dan mazhab mereka adalah: Allah.”
*Penulis adalah Mursyid thariqah Qadiriyya-Shadziliyya-Dharqawiyya. Lahir di Ayr, Skotlandia (1930). Wafat di Cape Town, Afrika Selatan (2021). Beliau ulama besar di Eropa, yang memiliki murid tersebar di negara-negara Eropa, Malaysia, Indonesia, Afrika Selatan, Maroko dan lainnya. Nama aslinya adalah Ian Dallas. Berasal dari Klan Dallas yang terkenal di Inggris. Beliau memberikan pengajaran besar bagaimana tassawuf adalah jalan keluar menghadapi doktrin sekulerisme, yang kini banyak digandrungi umat manusia modern.
Penerjemah: Sidi Mizar Neta.