Menyoal ‘Aqidah’ Machiavelli

Irawan Santoso Shiddiq, SH

Il Principe. Kitab kesohor Machiavelli. Kala abad pertengahan. Masa ketika Eropa disebut ‘kegelapan.’ Ketika adagium yang bergema adalah ‘Vox Rei Vox Dei’. Suara Raja Suara Tuhan. Raja dianggap sebagai wakil Tuhan. Titah raja, seolah tiada boleh dibantah. Eropa berada dalam dogma fatalisme. Kebenaran, hanya bersumber pada Wahyu semata. Gereja dan Raja, sejoli pemangku kekuasaan.

Imperium Romanum Socrum menggema. Eropa berada dalam kekuasaan Gereja Roma. Raja yang dianggap sah, kala telah ditasbih oleh Gereja Roma. Tapi perang antar kerajaan memuncak. Karena dianggap terjadi ketimpangan. Pasca proyek ‘crusaders’ gagal total, kepercayaan pada kekuasaan dogma mulai terdegradasi. Kaum Eropa mulai melirik filsafat. Pengajaran yang diambil dari kaum mu’tazilah dari Andalusia. Ini antitesa pada fatalisme yang menggeliat tajam di Eropa. Titah raja tak boleh dibantah.

Machiavelli mencuat sembunyi. Surat-suratnya mengena. ‘Il Principe’ dianggap jawaban atas kebuntuan fatalisme. Machiavelli berkata, ‘Penguasa ialah sesiapa yang mampu merebut dan mempertahankan kekuasaan.’ Dia mengkritisi peranan ‘Raja sebagai wakil Tuhan.’ Karena Raja tak mampu membuat stabil kerajaan. Kerap terjadi huru hara dan perang. Semestinya, jika Raja sang Wakil Tuhan, maka kestabilan merata. Tapi Eropa dilanda ‘eropa springs’. Disitulah kepercayaan pada dogma, makin penuh tanda tanya. Apa betul ‘Vox Rei Vox Dei’? Ditambah kejadian 1453, kalahnya Konstantinopel ditangan muslimin Utsmaniyya. Seolah dogma Gereja makin penuh tanda tanya.

Disitulah filsafat seolah menemukan teman baru. Karena masa Machiavelli, filsafat tengah merambah sasaran baru. Sebelumnya, filsafat habis dibantah dalam belantara Islam. Era mu’tazilah. Kala filsafat ‘di-Islam-kan’. Perang antara ‘free will vs determination’ terurai habis. Mu’tazilah, yang mengutip filsafat sebagai pondasi, sempat berkuasa beberapa abad dalam belantara Islam. Itulah masa sains Islam begitu tinggi. Tapi klimaknya hanya melahirkan Cordoba dan Al Hambra, yang mudah dikalahkan. Filsafat tak berbanding lurus dengan kejayaan Islam. Kaum modernis Islam kini, yang sibuk ingin ‘mengislamkan kembali’ filsafat, mendengungkan seolah masa kejayaan Islam ada pada era mu’tazilah. Suatu kekeliruan fatal. Sama halnya dengan fatalisme itu sendiri.

Imam Asy’ari, Imam Ghazali hingga Shaykh Abdalqadir al Jailani rapi membahas bagaimana kesesatan filsafat. Kesesatan paham mu’tazilah. Tragedi ‘al mihnah’ ditanggalkan. Umat kembali pada ahlul sunnah waljamaah. ‘Being’ adalah merupakan ‘Perbuatan Tuhan.’ Filsafat meletakkan ‘being’ sebagai buah ‘perbuatan manusia.’

Machiavelli mengutip itu. Dia terperangah pada kejayaan mu’tazilah. Machiavelli menganggap kekuasaan bukan merupakan ‘Kehendak Tuhan.’ Bukan ‘vox Rei vox Dei’. Melainkan tergantung bagaimana pencapaian manusia yang mampu merebut dan mempertahankannya. Itulah wujud dari ‘perbuatan manusia.’ Karena Machiavelli menafsirkan, manusia dilahirkan setara. Siapa saja bisa menjadi Pangeran. Karena Sang Pangeran merupakan peluang bagi siapa saja. Setiap orang. Bukan yang dirumuskan oleh Gereja Roma. Itulah buah ‘free will’. Kehendah bebas.

Dari ‘free will’ itu, Machiavelli menganggap disitulah kerajaan Pangeran akan bisa stabil. Muncullah kata ‘statum’ (Latin). Stabil. English menuliskannya ‘state’. Belanda/Jerman menuliskannya ‘staat’. Italia: Lo Stato. Dari kerajaan Pangeran Machiavelli itulah dikenal istilah ‘state’. Modernisme memungutnya.

State buah dari ‘kehendak bebas’ manusia. Kerajaan yang bisa dibuat siapa saja. Semua manusia bebas menjadi Pangeran. Bukan yang dirumuskan oleh tafsir tunggal ‘Wahyu’, yang kala itu dibawah otoritas Gereja Roma. Memang Machiavelli menampik paham jabbariyya Gereja Roma. Yang kala itu mayoritas menguasai Eropa.

Aliran fatalisme itu yang dilawan Machiavelli dengan menganut ‘qadariyya’. Dia tak terima dikata bahwa ‘segala sesuatunya merupakan Perbuatan Tuhan’. Makanya urusan kerajaan Pangeran, itu merupakan ‘kehendak bebas’ manusia yang menentukan. Karena manusia dibekali akal sebagai pondasi. Tentu ini ciri khas ajaran filsafat.

Padahal, 4 abad sebelumnya, probletika ini telah diselesaikan dalam Islam. Pasca merebaknya mu’tazilah, Imam Asy’ari memberi jawaban. Tentang dialektika ‘perbuatan manusia’ atau ‘Perbuatan Tuhan.’ Machiavelli meyakini bahwa segala sesuatunya itu ‘perbuatan manusia.’ Dia terpengaruh Aquinas, yang membawa filsafat masuk ke Eropa. Aquinas tentu merujuk Al Farabi sampai Ibnu Sina. Dari situ, maka Machiavelli berteori, kekuasaan itu ‘kehendak manusia.’ Bukan ‘Kehendak Tuhan.’ Pangeran ditentukan sendiri oleh manusia. Bukan oleh Gereja Roma. Karena bukan dianggap sebagai ‘kehendak manusia.’

Imam Asy’ari memberi batasan. Bahwa segala sesuatunya adalah ‘Kehendak Tuhan.’ Qudrah dan Iradah itu domain Tuhan. Bukan ‘kehendak manusia’ seperti teori kaum mu’tazilah tadi. Shaykh Abdalqadir al Jailani makin memberi bukti. Manusia hanya memiliki kasyab (usaha). Itu batasnya. Manusia hanya bisa melempar gelas, tapi penentu gelas pecah atau tidak, itulah Tuhan. Tapi ‘Kehendak’ tetap merupakan domain mutlak Tuhan.

Problematika yang dialami Machiavelli, masa itu penuh dogma Gereja Roma. Aqidah yang dikembangkan bak ‘jabarriyya’. Manusia seolah hanya seperti pohon yang bergoyang dan digoyangkan. Tanpa bisa melakukan usaha (kasyab). Ini yang dianut mutlak Gereja Roma. Hingga urusan ‘Pangeran’, mutlak ‘kehendak’ Gereja Roma. Kaum Eropa tak boleh membantah. Problematika ini yang kemudian ditentang Luthern sampai Calvin. Tentang dogma aqidah yang bak ‘jabariyya’. Fatalisme murni.

Tapi Machiavelli melawannya dengan mengambil aqidah ‘qadariyya’ murni. Yang berujung pada sekulerisme. Pemisahan antara ‘kehendak manusia’ dan ‘Kehendak Tuhan.’ Machiavelli menanggap semuanya adalah buah ‘kehendak manusia.’ Bukan ‘kehendak Tuhan.’ Sayang, ulama kaum Gereja Roma tak mampu membendung serangan filsafat yang menyerang aqidahnya.

Karena, urusan aqidah inilah muasal peradaban. Romawi berdiri dari Romus dan Romulus yang menentang aqidah Majusi penyembah api. Karena Majusi menganggap ‘perbuatan buruk’ itu datang dari setan. Tuhan hanya mencipta ‘perbuatan baik.’ Makanya Majusi melakukan upacara tolak bala, dengan menyembah api. Itulah kesesatan. Dikotomi kedua lahir dari kalangan filosof, yang membedakan ‘perbuatan manusia’ dan ‘Perbuatan Tuhan.’ Disitulah Machiavelli terjebak. Dan itu meletakkan sekutu atas Tuhan. Karena seolah ada ‘dua kehendak’ dalam kehidupan. Itulah kemusyrikan.

Imam Ghazali telah memberikan jawaban sebelumnya. Sama dengan posisi Imam Asy’ari dan Shaykh Abdalqadir al Jailani. Tuhanlah penentu segalanya. Tuhan penggerak semuanya. Tuhan pencipta semuanya perbuatan selama di dunia. Tapi bukan bermakna ‘manusia seperti pohon yang tertiup angin hingga tak mampu berbuat apapun.’ Karena disanalah jebakan ‘jabarriyya’ yang melahirkan dogma. Ini yang berlangsung masa eropa klasik. Melainkan manusia sebatas mampu melahirkan kasyab (usaha). Manusia bisa melakukan perlawanan pada kebatilan. Fatalisme, membuat manusia seolah lumpuh dalam menghadapi kebatilan. Lumpuh dalam menghadapi dogma. Sehingga terjebak pada dogma ‘tidak ada kebenaran diluar Gereja Roma.’ Ini yang membuat Eropa lumpuh dalam ‘kegelapan.’

Sementara qadariyya, yang berjumpa filsafat, melahirkan renaissance. Disitulah Machiavelli salah satunya. Hingga melahirkan ‘kekuasaan Pangeran’ adalah murni ‘kehendak manusia.’ Menanggalkan ‘kehendak Tuhan.’ Karena renaissance melahirkan doktrin: “Tuhan bak pembuat jam. Kala jam selesai dibuat, jam berjalan dengan sendirinya.” Filsafat seolah memberikan kuasa penuh bagi manusia, untuk mengelola alam semesta. Hasilnya hanya berujung pada nihilisme. Kehancuran. Nietszche telah menemukan jawabannya. Jebakan dari filsafat tadi.

Teori Machiavelli ini yang kemudian diteruskan Jean Bodin hingga JJ Rosseou. Hasilnya adalah ‘du contract sociale.’ Kontrak sosial. Seolah urusan kekuasaan, adalah sepenuhnya ‘kehendak manusia.’ Dan manusia menentukan Pangeran, melalui kontrak bersama. Kontrak sosial itu yang diejawantahkan dalam election. Lihat hasilnya: manipulasi. Karena, Martin Heidegger telah memberikan bukti. “Filsafat tak menemukan kebenaran,” katanya. Sebab, Heidegger lagi, filsafat bukan lagi mempergunakan “apa, mengapa, dan kenapa” sebagai landasan untuk menggali ‘Kebenaran’. Melainkan telah berujung pada ‘interogasi.’ Alhasil hanya berujung pada ‘akal-akalan.’ Bukan lagi merujuk pada ‘akal.’ Ini yang disebut Niestzche sebagai “Filsafat adalah berhala.” Dari situ nampaklah matinya filsafat. Absurdnya ‘free will.’ Karena ‘free will’ hanya melahirkan otoriterianisme. Bukan ‘kebenaran.’

Modernisme, warisan dari renaissance, telah mengalami kebuntuan. ‘Free will’ malah melahirkan penjara kesesatan. Seperti dulu masa mu’tazilah, yang hanya melahirkan ‘penjara al mihnah’. Kini modernism, membuat manusia terpenjara pada saintisme. Bukan kebebasan. Dan jebakan doktrin Machiavelli itu yang salah satunya melahirkan ‘lo stato’ sebagai jerat buat manusia. Hingga tiada lagi kebebasan. Karena ‘lo stato’ membuat manusia menjadi terkotak-kotak. Pasca Revolusi Perancis, ‘state’ yang gagasan Machiavelli, membuat manusia terjebak pada urusan passport, currency dan segala aturan positivism yang mengungkung. Inilah hasil dari ‘free will’ yang justru memenjarakan manusia. Shaykh Umar Vadillo, ulama dari Spanyol pernah berkata, “Kera di Serawak, lebih bebas dibanding dengan manusia di sana.” Karena kera bisa melompat dari hutan di wilayah Serawak Malaysia, dan hutan di wilayah Kalimantan-Indonesia, dengan bebas. Sementara manusia-nya tidak! Harus dengan passport, currency dan lain sebagaianya. Ini hasil dari ‘vox populi vox Dei’ tadi. Jebakan kala ‘Pangeran adalah buah kehendak manusia.’

Heidegger telah mendapatkan jawabannya. Karena filsafat hanya melahirkan ‘kebenaran essensialisme.’ Bukan ‘kebenaran eksistensialisme.’ Dan itu bukan Kebenaran. Free will, seolah menemukan ‘kebenaran.’ Padahal bukan.

Dulu, Imam Ghazali telah mengingatkan. Bahaya filsafat, jika dijadikan ajang untuk mengambil hakekat ajaran agama. “Karena banyak sekali bahaya atasnya,” tegas Imam Ghazali dalam ‘Tahafut al Falasifah’. Shaykh Abdalqadir al Jailani, dalam kitab ‘Al Gunyah’ telah memberikan jawaban. Tuhanlah yang menciptakan perbuatan baik dan perbuatan buruk. Tuhan yang memiliki Qudrah dan Iradah. Segala kehendak tentu atas Kehendak Tuhan. ”Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat” (QS: As Shaffat: 96).

Maka, urusan kekuasaan, keuangan, hukum, sepenuhnya merupakan Qudrah dan Iradah Tuhan. Bukan berlandas ‘kehendak manusuia.’ Tatkala seolah manusia memiliki ‘kehendak’, disitulah jebakan muncul. Karena yang lahir adalah superior dan imperior. Tidak ada keadilan. Jaman modernism ini, telah memberi banyak bukti. Buah dari renaissance tentunya. Dari sini Nietszche layak diakui, karena telah memberi titah: “Filsafat adalah berhala.” Dan, Machiavelli telah terjebak di dalamnya. Manusia modern, yang tak berpikir, masih banyak yang mengagguminya.

Karena Tuhan bukan sekedar pembuat jam. Tapi Tuhan menciptakan jagal dan tukang jagalnya. Itulah Tauhid.

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wordpress Social Share Plugin powered by Ultimatelysocial