2 Abad Perang Jawa (1825-2025): Refleksi Sufi Melawan Kolonialisme
Irawan Santoso Shiddiq
Perang Jawa. Kadang disebut Perang Diponegoro. Ini perang melegenda. Eposnya menjejak sampai Eropa. Belgia, bisa merdeka dari Kerajaan Belanda, 21 Juli 1831, tak lepas ekses dari adanya Perang Jawa. Sebelumnya di Kongres Wina, 1815, Belgia-Belanda sempat masuk perundingan. Belanda dipaksa mengakui Belgia. Tapi Kerajaan Belanda tak terima. Mereka merangsek masuk lagi sampai Brussel. Operasi militer dilakukan. Tentara Belanda berusaha menduduki Belgia, memaksa supaya mereka tak berpisah.
Dus, ditengah operasi militer, meletus Perang Jawa. Ini jauh dari Eropa. Perang dipimpin Pangeran Diponegoro. Ini seorang Pangeran dari Kesultanan Yogyakarta. Beliau melancarkan jihad fisabilillah di tanah Jawa. Melawan kolonialisme yang dilancarkan Hindia Belanda dan antek-anteknya. Hindia Belanda, bagian dari pemerintahan Kerajaan Belanda. Hindia Belanda, ini penerus dari VOC. Mereka hadir di Batavia sejak 1602. Semula hanya perusahaan dagang. Tapi kemudian berubah menjadi ‘negara kecil’ Belanda di tanah nusantara. Mereka diijinkan membentuk balatentara. Tugasnya, mengeruk kekayaan nusantara, untuk dibawa ke negeri Belanda. Itu yang disebut kolonialisme. Kini, istilahnya jadi kapitalisme. Tapi dulu, kolonialisme adalah musuh bersama. Kini, ‘kapitalisme’ justru dipuja dan diikuti cara mainnya.
Pangeran Diponegoro memimpin perlawanan. Mereka angkat senjata. Ribuan orang di tanah Jawa, mengikutnya. Karena beliau seorang trah Kesultanan Mataram. Saat itu, Kesultanan Mataram telah terbelah. Ada Kesultanan Yogyakarta, Kesunanan Surakarta dan Mangkunegaraan. Tentu ini buah perbedaan cara pandang terhadap ‘kapitalisme’ tadi. Bagi yang menerima, maka akan berkolaborasi dengan Hindia Belanda. Yang menolak, tentu akan melakukan perlawanan.
Sebelumnya, Raden Mas Said, juga berepos berada di garis perlawanan atas VOC. Ini juga telah ditunjukkan Sultan Agung dari Kesultanan Mataram. Sultan Agung memilih tak memberi angina pada VOC. Bahkan beliau sempat memimpin penyerbuan markas VOC di Batavia. Jean Peterzen Coen, Gubernur VOC, dipenggal kepalanya. Di tanam di anak tangga Imogiri. Itu yang kemudian disebut sebagai ‘pengkhianat.’ Karena tak bersedia bayar jizya di tanah Darul Islam.
Pesan Sultan Agung itu terbukti. Selepas peninggalannya, Amangkurat I berbalik arah. Hanya karena VOC membayar jizya, dia tak mengindahkan siasat licik VOC. Karena mereka ini kawanan Yahudi. Sebelum mereka berhasil mendirikan zionisme, di tanah nusantara inilah para Yahudi berkolaborasi. Dan mereka sempat berjaya. Amangkurat I sempat terperdaya VOC. Dia sibuk memusuhi ulama, yang memusuhi dan mewanti VOC. Inilah nestapa Mataram.
Raden Mas Said tak mau terperangah lagi. Dia memilih di garis memerangi kolonialisme yang dijalankan VOC. Karena mereka membawa ajaran kapitalisme tadi. VOC tak bersahabat dengan syariat. Mereka menghancurkan tatanan syariat Islam, pelan-pelan. Makanya Raden Mas Said, Pangeran Samber Nyawa, memilih jalan fisabilillah sampai titik akhir. Inilah yang akhirnya beliau mendapatkan wilayah. Mangkunegaraan. Tapi penerusnya, kemudian banyak yang berkolaborasi dengan VOC dan turunannya.
Kemudian muncul Pangeran Diponegoro. Ini menjawab keresahan masyarakat Jawa. Karena ajaran VOC dan kemudian Hindia Belanda makin mewabah. Syariat Islam pelan-pelan mereka eliminasi. Dimunculkan ajaran Kejawan kembali. Demi mengimbangi tatanan sufi. Karena sejak era Kesultanan Demak, yang didirikan Wali Songo, sufisme adalah ajaran yang melekat. Ini seiring dengan Daulah Utsmaniyya, yang juga sufiyya. Tentu ini ajaran tradisi yang turun temurun sejak Kanjeng Nabi.
Di belantara Eropa Timur, Daulah Utsmaniyya menjelma menjadi kerajaan sufi yang perkasa. Mereka menguasai dan mengontrol Eropa seluruhnya. Bahkan kerajaan-kerajaan Eropa timur banyak membayar jizya. Bernard Lewis, sejarawan Amerika berkata, musuh terbesar bagi kita (kaum sekuler) adalah para Darwish Sufi. Jadi proyek sekulerisme Utsmaniyya, didahului dengan memusuhi kaum sufi. Karena Daulah Utsmaniyya itulah peradaban sufi.
Menghancurkan Utsmaniyya, ajaran sekulerisme yang disusupi. Dari internal Islam, ajaran wahabisme dan modernis Islam merasuki pelan-pelan. KH Mar’uf Amin menceritakan, ajaran Muhammad bin Abdul Wahab yang disebut wahabbi, inilah yang juga mempengaruhi permusuhan terhadap ajaran tradisi Islam. Kemudian Jamaluddin al Afghani, Muhammad Abduh sampai Rasyid Ridho, ini menyebarkan ajaran rasionalisme. Neo mu’tazilah. Ujungnya Daulah Utsmaniyya pun diserang. Puncaknya dibubarkan. Jerusalem pun kemudian mudah dikuasai Yahudi. Berkat menghancurkan Utsmaniyya dan memusuhi sufi.
Ini juga yang berlangsung di tanah Jawa. Pangeran Diponegoro merasakan keresahan itu. Pasca Perjanjian Giyanti, pengaruh Hindia Belanda makin kental. Ajaran kolonialisme seolah telah merasuki kesultanan. Karena kekuasaan Islam, dijalankan dalam sultaniyya. Ini ajaran merujuk Amal Ahlul Madinah. Kesultanan, itulah pola kekuasaan Islam. Seorang Sultan didampingi para Ahlu Halli wal Aqdi. Umara dan Ulama. Wali Songo mendirikan Kesultanan Demak. Kesultanan Utsmaniyya juga didirikan atas peran ulama. Dan para Ulama itu, mereka adalah Mursyid thariqah. Tak lebih. Karena sejak dulu, peranan Masyayikh thariqah, itulah yang berada di garis depan kekuasaan Islam. Mereka dalam jajaran Ahlu Halli Wal Aqdi. Di Utsmaniyya, itu yang disebut Syakhul Islam. Tugasnya mendampingi seorang Sultan. Termasuk bagaimana peranan hebat Sultan Mehmed II dalam memimpin penaklukkan Konstantinopel, 1453, tak lepas dari bimbingan Mursyidin Syekh Aaq Syamsuddin, mursyidun thariqah Medleviyya. Seluruh Sultan Utsmaniyya, tak lepas dari thariqah. Terkecuali Sultan Abdul Aziz I yang telah terpapar ajaran modernism, hingga melahirkan tanzimat di Utsmaniyya (1840).
Pangeran Diponegoro juga dididik oleh Mursyidun thariqah. Dia dibesarkan Ratu Ageng yang merupakan pengamal thariqah Syatariyya. Kala itu thariqah Syatariyya membesar dari Aceh Darussallam hingga tanah Jawa. Pengikutnya luar biasa.
Menurut KH Achmad Chalwani Nawawi, Pangeran Diponegoro mondok dan belajar Islam di beberapa pesantren ternama, dengan KH Hasan Besari, Tegalsari, Ponorogo KH Baidlowi, Bagelen, Purworejo (belajar Tafsir Jalalain) KH Nur Muhammad, Ngadiwongso, Salaman, Magelang (belajar ilmu hikmah) Kiai Taftazani, Kertosuro (belajar Tarekat Syattariyah).
KH Chalwani Nawawi sangat faseh menyebut nama lengkap Pangeran Diponegoro. Yakni Raden Mas Ontowiryo Abdul Hamid Mustahar Herucokro Senopati Ing Alogo Sayyidin Pranotogomo Amirul Mukminin Khalifatullah Tanah Jawi Pangeran Diponegoro Pahlawan Goa Selarong.
Selepas peristiwa Tegalrejo, disitulah perang dimulai. Pasukan Diponegoro dipenuhi para pengamal thariqah syatariyya dan lainnya. Ini koalisi kaum sufi. Mereka berada di satu garis bersama. Thariqah Syatariyya dikenal memiliki dzikir ‘martabat tujuh.’ Ini yang membuat mereka susah ditembus ‘senapan Belanda.’
Babad Diponegoro mengkisahkan, dalam setiap duel perang, mereka jarang sekali kalah. Lima pasukan bisa menghadapi 100 musuh. Ini menunjukkan ‘kesaktian’ luar biasa. Yang sulit dikalahkan pihak Belanda dan antek-anteknya. Bahkan pihak Kerajaan Belanda, sampai jauh-jauh mendatangkan dukun dari Afrika untuk melemahkan ‘kesaktian’ pasukan Diponegoro. Tapi itu tak membuahkan hasil.
Babad Kedung Kebo, agak mendramatisasi. Mereka seolah memenangkan setiap duel perang dengan pasukan Diponegoro. Tapi lucunya, mereka mengakui. Ini babad dibuat pihak lawan Diponegoro. Irosinya, mereka menceritakan, selepas berperang, mereka berpesta pora, mabuk-mabukan bersama orang-orang Belanda. Ini menunjukkan bahwa Perang Jawa, ini adalah perang aqidah. Pasukan Diponegoro berjuang agar syariat kembali ditegakkan di tanah Jawa. Walau kemudian beliau sempat bersitegang dengan Kyai Mojo. Tapi inti perang itu, dalam rangka menegakkan aqidah. Perang ajaran, antara ajaran Islam melawan sekulerisme yang dibawa Belanda dan anteknya.
Walau Diponegoro belum berhasil, tapi 5 tahun perangnya, membawa Belanda mengalami rugi besar. Tentara mereka tersedot di tanah Jawa. Ini yang membuat Belgia kemudian mudah jadi merdeka. Makanya orang Belgia begitu mahfum dengan Diponegoro dan Perang Jawa. Karena wasilah itu yang membuat mereka punya negara.
Selepas Sang Pangeran ditangkap dan diasingkan, tak ada lagi perang besar di tanah Jawa. Disitulah banyak kaum sufi mulai bersiyasah. Sebagian melipir di pantai utara. Babat alas dan mendirikan Pendidikan. Ini yang kemudian memunculkan trah Nadhlatul Ulama. Dari sinilah muassis itu sejatinya bermula. Dari trah perlawanan atas kolonialisme.
Tapi Hindia Belanda, selepas Perang Jawa, makin membabi buta. Mereka memberlakukan cultuur stelsel. Tanam paksa. Ini dalam rangka mengembalikan modal. Karena sudah bangkrut untuk biaya perang. Disitulah penjajahan mutlak terasa. Tak ada lagi perang, mereka leluasa.
Hingga 1808, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Deandels pun berani membubarkan Kesultanan yang tidak pro mereka. Kesultanan Banten dititahkan bubar. Tapi para Ikhwan thariqah Qadiriyya Naqsyabandiyya di Banten, sempat melancarkan perang di Cilegon. Ini yang dikenal Geger Cilegon. Ini perlawanan terakhir kaum sufi melawan kolonialisme Hindia Belanda.
Selepas itu, era berganti. Perlawanan melawan Belanda, diambil alih kaum nasionalis. Para pelajar Indonesia lulusan Belanda, mulai memahami pan Indonesiana. Mereka berjuang melalui meja-meja perundingan. Hasilnya membuahkan Indonesia merdeka. Tapi kemudian kolonialisme berganti istilah. Beda istilah, wajahnya serupa. Indonesia masih terjajah. 2 Abad Perang Jawa, masih perlu dikenal bagaimana watak perangnya. Karena ini belum selesai.
Shaykh Abdalqadir as sufi, ulama besar asal Eropa berkata, “Saatnya kuda-kuda perang bangkit kembali. Karena kuda-kuda perang terlalu lama merumput.” Itulah kaum sufi. Insha Allah.