JALAN QADIRIYYAH* (1)
Oleh: Shaykh Abdalqadir as sufi
I
TUGAS
Seorang Raja memerintah Kerajaannya berdasarkan kepantasan dan keadilan. Kerajaan itu telah berdiri ratusan tahun lamanya. Alasan mengapa ia telah bertahan begitu lama adalah karena ia menjadikan Wahyu Ilahi sebagai acuan dalam memerintah rakyatnya. Alasan mengapa ia mulai runtuh tak lain dikarenakan ia mengizinkan sisi fungsional kewajiban mutlak tersebut untuk dikompromikan, dilemahkan, hingga akhirnya runtuh. Maka ajal kerajaan tersebut datang dengan segera, sang Raja diasingkan, dan keluarganya tercerai-berai. Gerombolan liar tak berpendidikan yang mengambilalih Kerajaan kemudian mulai memberlakukan hukum mereka kepada rakyat secara paksa. Hukum mereka adalah hukum buatan manusia, yang isinya adalah ketidakadilan dan bahkan menghasilkan produk hukum yang berseberangan dengan niat yang mereka nyatakan. Kelompok Ksatria telah dibubarkan, sehingga mengadakan perang untuk memulihkan Kerajaan ini menjadi mustahil. Tak terelakkan lagi, orang-orang pun menyaksikan anak-anak mereka diubah menjadi sama liar dan tak beradabnya dengan para gerombolan yang sejak lama telah mereka cegah kedatangannya untuk memasuki gerbang Kerajaan mereka.
Rakyatnya tak memiliki sarana, kekuatan, ataupun dinamisme untuk kembali mendirikan masyarakat berkeadilan, mereka telah dibuat lemah dengan cara hidup yang dipaksakan kepada mereka oleh tuan-tuan baru mereka.
Jika semua orang di Kerajaan ini telah membiarkan keadaan tunduk pada kegelapan ini mendominasi kehidupan mereka maka tiada harapan lagi. Akan tetapi, para penguasa zalim yang telah memperbudak massa tak akan memperhitungkan satu hal. Di dalam Kerajaan, dari ujung ke ujung, di kota-kota besar hingga kecil, di gunung-gunung dan di gurun-gurun, masih terdapat kelompok-kelompok kecil pria dan wanita yang sangat besar cintanya pada sang Rasul beserta Risalah yang ia bawa. Tugas mereka bukanlah menyelamatkan dunia. Tugas mereka adalah menegakkan kembali Jalan Keilahian dan cinta pada sang Rasul.
Kerajaan tersebut, dalam metafora kita, merepresentasikan persatuan Khilafah komunitas Muslim seluruh dunia. Gerombolan perusak terdiri dari orang-orang ateis dan materialis adalah mereka yang memanggil diri mereka sendiri sebagai kaum humanis, namun memperbudak seluruh ras manusia. Semua doktrin orang-orang ini terbukti merupakan tipu daya. Wajah manis yang mereka tampilkan di badan dunia menopengi kejahatan dan daya penghancuran dari perbuatan mereka – mereka menutup-nutupi kebenaran, sehingga Allah menamakan mereka sebagai kaum Kuffar.
Islam adalah musuh kekufuran dan mustahil eksis jika ber-harmoni dengan mereka dan menerima mereka. Ketika kaum kafir menyerukan toleransi, yang mereka maksud adalah (toleransi) kita untuk mereka dan bukan toleransi mereka kepada muslimin. ‘Hak Asasi Manusia’ mereka adalah pada humanis, namun penerapan doktrin ini berimplikasi terhambatnya praktik Dinul Islam. Di dalam sistem kafir, Islam digolongkan dalam kategori ‘minoritas.’ Kemudian ia dirusak dengan doktrin lainnya, yakni etnisitas. Sehingga Islam dibatasi dengan kerangka-kerangka etnis tertentu, yang mana sangat tidak mengindahkan kebenaran universalitasnya.
Tugas untuk kembali menghidupkan DIN, memberdayakan para pemeluknya, mencahayai hati mereka, dan jalan menuju restorasi Kerajaan Bersyari’ah (Sharic Kingdom), jatuh di tangan orang-orang yang telah mengemban misi berbahaya namun mulia ini selama berabad-abad. Memang, untuk tugas inilah, yang sejak awal berdirinya hingga selama abad-abad kegelapan yang telah berlalu, sampai tibanya abad ini yang lebih gelap dari abad manapun sebelumnya, Inilah dipilihnya Qadiriyyah. Jalan Qadiriyyah mengarah menuju restorasi Khilafah di dunia ini serta pemenuhan Janji Terluhur di (alam) selanjutnya.
Jalan Qadiriyyah membuat seorang manusia menjadi Khalifatullah di muka bumi, dan inilah, tingkatan spiritual makrifat, yang memberi para ahlul ma’rifat kekuatan lahiriah untuk memiliki seorang Khalifah yang berkuasa atas mereka. Madinah al-Munawwarah tidak dinamakan demikian karena cahaya sinar yang berasal dari jalan-jalan dan rumah-rumah. Melainkan karena kehadiran sang Rasul di sana, damai dan berkah Allah semoga senantiasa tercurahkan untuknya, dan para penduduknya.
Orang-orang Qadiriyyah tidaklah memiliki tujuan terhadap duniawi, mereka memahami bahwa dunia akan binasa dan fana. Harapan mereka tertuju pada Yaumil Akhir, sebab dunia itulah yang bergegas menuju arah mereka. Akan tetapi mereka mengetahui bahwa dunia ini adalah dunia tindakan (amal) dan Dunia Selanjutnya (alam akhirat) adalah dunia visi. Dunia ini adalah dunia indrawi, namun indrawi yang mengandung makna. Alam Akhirat adalah dunia maknawi, tetapi mereka akan merasakannya secara indrawi. Para Fuqara lemah dalam indrawi namun kuat dalam hal-ihwal maknawi, sedangkan kaum kuffar kuat dalam hal-ihwal indrawi namun lemah dalam maknawi, karenanya kesuksesan ada pada para Fuqara atas kaum kuffar setiap saat. Mahqom (tingkatan) para Fuqara bersama dengan para Sahabat ahlul Badar, yang jelas-jelas kalah jumlah namun dibela oleh para Malaikat. Seluruh kekuatan besar ada di tangan balatentara Muslimin bilamana mereka bergerak bukan atas dasar tujuan duniawi, melainkan berjalan di jalan Allah. Sebagaimana yang seorang jenderal kafir katakan tentang kaum Muslimin di India, ‘Bagaimana mungkin kita mengalahkan orang-orang yang, ketika mereka melihat mulut-mulut meriam, mereka menyaksikan Taman-Taman Surga?’
Elit kekuasaan kuffar telah menempatkan massa dunia dalam unit negara bangsa ((nation state) yang diklaim memiliki kedaulatan, penentuan nasib sendiri, serta pemerintahan yang dipilih oleh rakyat. Pada saat yang sama elit ini juga telah mencabut pengendalian mereka yang berdaulat atas sistem keuangan, sistem perdagangan, dan sistem militer. Mereka memerintah dengan menghapuskan otoritas agama dan membebankan sistem angka tak berharga dari kumpulan tiran-tiran yang tak memiliki realitas sebagai uang logam (specie) sebab uang-uang tersebut adalah kertas dan koin-koin tak berharga, dan sejak kini, penyimpanan kekayaan dalam jumlah yang sangat besar disederhanakan menjadi impuls data elektronik digital. Mereka telah memiskinkan dunia, namun ilusi yang ada di dalam inti kekufuran mereka membuat mereka merasa telah memperoleh kekayaan. Mereka sejatinya tidak memiliki kekayaan. Inilah kebodohan mendasar yang akan menghancurkan mereka sendiri. Allah Ta’ala berfirman dalam Kitab-Nya, “Kita adalah orang miskin. Dialah Yang Kaya, Yang Patut Disembah.”
Dari sinilah titik balik kemenangan kita. Sejak kekayaan bukanlah milik mereka, melainkan milik Allah, ilusi mereka tentang kepemilikan atasnya mustahil ada tanpa menimbulkan rasa takut kehilangan nilai yang secara terus menerus yang tak bisa terhindarkan. Itu bukan rasa takut kepada Allah, tetapi takut kehilangan. Perasaan takut kehilangan adalah kehilangan itu sendiri. Di tengah gersangnya dunia dengan kegelapan dan hiruk-pikuk keputusasaan karena kekuatan kekufuran (kufr) yang tak pernah puas inilah para Fuqara (Ikhwan) Qadiriyyah kini dapat bergerak ke seluruh dunia dengan sepenuhnya tanpa rasa takut dan penuh dengan harapan, sebab harapan mereka hanya kepada Allah, dan tak memiliki rasa takut atas makhluk-Nya. Rasa takut mereka kepada Allah menjadi dinamika yang mengiringi perbuatan-perbuatan mereka serta kemenangan sebagai hasilnya.
Dalam rangka memenuhi warisan Qadiriyyah, kami mengumumkan bahwa para Shaykh kami, yang merupakan (wali) Qutb, dan dua Imam, dan empat (wali) Awtad, dan tujuh (wali) Abdal, dan empat puluh (wali) Nujaba serta tiga ratus (wali) Nuqaba, dan sejumlah (wali) Afrad yang semuanya memerintah dan menguasai alam dunia ini di berbagai tempat, menyeru kepada Dinul Islam, memberikan Berita Baik serta Peringatan, menegakkan Tarbiyatul Islam atas adab dan ilmu, menyalurkan keadilan, menghidupkan jual-beli yang Halal di pasar tanpa adanya sewa tempat, dan mengamankan kesejahteraan fisik masyarakat dengan mata uang Halal yakni Dinar Emas dan Dirham Perak yang (dicetak) sebagaimana ketentuan timbangan Madinah. Dari tangan-tangan mereka, Zakat yang Halal akan dikumpulkan dalam Dinar dan Dirham serta sarana-sarana lainnya yang dibenarkan akan direstorasi, sehingga pilar yang runtuh akan kembali tegak. Sesudah menegakkan seluruh ibadah yang diwajibkan dalam DIN dengan benar, di setiap sudut, di pinggiran kota-kota, di oasis padang pasir hingga perkampungan gunung, orang-orang hebat ini akan mengumpulkan para Fuqara bersama dalam perayaan Zikrullah. Dan siapakah para Fuqara ini? Abu Madyan berkata, ‘Merekalah para Sultan! Merekalah para Raja!’.
“Penulis adalah ulama besar asal Eropa. Lahir 1930 di Skotlandia, wafat 2021 di Cape Town, Afrika Selatan. Penulis merupakan mursyid thariqah Qadiriyya-Shaziliyya-Dharqawiyya. Qadiriyya adalah nama tarikah yang dinisbatkan pada Maulana Shaykh Abdalqadir al Jilani.