ZIARAH ‘POLITIK’ WALI SONGO

Irawan Santoso Shiddiq

Epos tentang bagaimana ‘politik Islam’ dijalankan. Pesan dari Wali Songo. Mereka meninggalkan sejuta pelajaran. Tapi bukan perihal bagaimana ‘batu berubah jadi emas’ dan ‘jalan di atas air’. Melainkan bagaimana ‘politik Islam’ dijalankan.

Kisah Wali Songo, mereka hidup di era Kerajaan Majapahit. Ini bukan pemerintahan Islam. Majapahit, diklaim yang pemersatu nusantara. Tapi VOC dan Hindia Belanda juga. Mereka yang membuat garis batas negara. Treaty of London, 1840, disitulah ditentukan garis batas wilayah kekuasaan Inggris dan Belanda. Bengkulu dibawah Inggris, ditukar dengan Pulau Banda. Garis batas itulah yang dijadikan batas negara kini. Jelas bukan merujuk pada silsilah kerajaan Majapahit. Tapi buah permainan politik dagang Inggris-Belanda.

Nun sebelumnya, Majapahit memang berkuasa hingga negeri Champa. Pusat kekuasaannya berada di timur Jawa. Trowulan, jejak istana negara Majapahit. Abad 15, mulai berdatangan Wali-Wali menyebar Islam ke negeri Majapahit. Di tanah Jawa.

Kisah Sunan Ampel. Sayyid Ali Rahmatullah. Dia menjejak di Surabaya. Dulu kota itu tak semegah sekarang. Tapu Sunan Ampel dijemput resmi dari Istana Majapahit. Alkisah, Ratu Darawati, istri Prabu Sri Kertawijaya, Raja Majapahit kala itu, yang meminta Sayyid Ali hadir ke negerinya. Untuk berdakwah memerangi kemaksiatan yang merebak. Para pandhita Majapahit, tak lagi mampu menghalau. Ratu Darawati, meminta langsung pada Raja agar Sayyid Ali dihadirkan.

Sayyid Ali ini keponakan dari Ratu Darawati. Dia adalah puteri dari Kerajaan Champa. Dulu masuk dalam wilayah Kedah. Antara Kedah (Champa) dan Majapahit, telah bersahabat lama. Maka, diundanglah Sayyid Ali ke Majapahit.

Tapi Sayyid Ali –Sunan Ampel—tak memilih tinggal di Istana Majapahit yang megah. Dia tak memilih menjadi penasehat resmi raja. Melainkan mencari perkampungan, untuk berdakwah. Menyebarkan Islam. Disitulah terbangun Ampeldenta. Makanya beliau dikenal Sunan Ampel. Letaknya di utara Surabaya kini.

Era itu, syariat Islam tentu belum tegak. Tapi tak ada epos Sunan Ampel menjadikan Raja Majapahit sebagai ‘Ulil Amri.’ Tak ada kisah dia menjadikan ‘hukum Majapahit’ sebagai syariat. Karena Sunan Ampel menyebarkan Islam, menuju tegaknya syariat. Dia tak memilih berdakwah dari dalam Istana. Tapi menyebarkan Islam bak pola Madinah al Munawarah. Mendirikan perkampungan ulama. Ampeldenta dikenal sentral keilmuan Islam di wilayah Timur Jawa.

Epos berlanjut dari Blambangan. Ini wilayah Kadipaten Majapahit. Adipati Blambangan, memiliki seorang putri. Dewi Sekardadu. Wabah menyerang wilayah itu. Banyak masyarakat terjangkit. Termasuk sang dewi. Adipati berpesan, sesiapa bias mengobati anaknya, akan dinikahkan. Banyak pandhita menyerah. Dukun-dukun Majapahit pun tak mampu. Mencuatlah Shaykh Maulana Ishak. Dia ulama asal Samudera Pasai. Sempat juga hinggap di Ampeldenta. Tapi dia masuk menelusuk wilayah Gresik, Blambangan dan sekitarnya.

Prabu Menak Sembayu, Adipati Blambangan, berjanji akan masuk Islam, jika Shaykh Maulana Ishak bisa mengobati Dewi Sekardadu tadi. Qadarullah, sembuhlah sang dewi. Dinikahkan dengan Shaykh Maulana. Dia menagih janji tentang ke-Islaman Prabu Menak. Tapi diingkari. Justru dakwah Shaykh Maulana Ishak dihalangi. Dia sempat akan diburu, dibunuh. Karena banyak rakyat Blambangan mengikutinya. Prabu cemburu. Karena Blambangan ‘terancam’ dengan dakwah Islam.

Shaykh Maulana pun pergi. Meninggalkan Blambangan. Kembali ke Samudera Pasai. Tapi istrinya, telah hamil 7 bulan. Hingga lahirlah anaknya lelaki. Ini yang kemudian dikenal Joko Samudro. Ada yang berkisah, bayi lelaki itu dihanyutkan ke laut. Karena diburu oleh sang Prabu, yang cemburu. Joko kecil lalu diambil seorang pelaut. Kemudian hinggap dan didik di Ampeldenta. Di bawah asuhan Sunan Ampel. Disitulah mendapat nama Maulana Ainul Yaqin.

Setelah dewasa dan matang, Maulana Ainul Yaqin hendak menunaikan haji ke Makkah. Tapi Sunan Ampel berpesan, agar dia mampir dulu ke Pasai. Harus ketemu dengan ayahnya, Shaykh Maulana Ishak. Alkisah, berjumpalah Maulana Ainul Yaqin dengan ayahnya. Dia mampir hamper 7 bulanan di Pasai. Ayahnya memberi pesan, segenggam tanah dari Gresik. Tanah itu dititipkan pada Maulana Ainul Yaqin. Dia dipinta mendirikan sentral dakwah di tanah yang serupa dengan itu.

Kembalinya Maulana Ainul Yaqin. Dia taffakur dengan pasan ayahnya. Membawa segenggam tanah yang dititipkan. Untuk mencari tanah tempatnya berasal. Maka didapatilah wilayah Gresik. Dia yakin disitulah lokasi tanah itu, yang serupa dengan tanah pemberian ayahnya. Shaykh Maulana Ishaq, tak memberikan tanah berhektar-hektar sebagai warisan. Melainkan segenggam saja. Untuk mendirikan sentral dakwah. Demikianlah para Wali berkisah. Karena mereka bukan pecinta dunia.

Di Gresik, disitulah dia berdakwah. Kala itu tentu kekuasaan Majapahit masih merajalela. Beliau cucu Patih Blambangan. Makanya dia dikenal pula sebagai Raden Paku. Kemudian dikenal juga dengan Sunan Giri. Walau trah Majapahit, dia tak memilih mengincar menjadi penerus kakeknya. Raden Paku memilih menyebarkan Islam murni.

Tak ada kisah, Raden Paku menjadikan Majapahit sebagai ‘Ulil Amri’. Tak ada epos, Raden Paku menjadikan ‘hukum Majapahit’ kala itu sudah dianggap sesuai dengan syariat. Tak pernah pula dia berfatwa, ‘Islam Rahmatan lil Alamin’ yang bermakna kita boleh mengikuti hukum kuffar. Tapi Raden Paku teguh mengajak orang pada Ma’rifatullah. Hingga dia memiliki banyak pengikut. Jadilah Giri (gunung) wilayahnya, tempat mukim kaum muslimin kala itu. Karena jumlahnya membesar, maka dikenal sebagai Giri Kedaton. Kedatuan Giri.

Giri Kedaton tentu bukan di bawah kekuasaan Majapahit. Bukan pula harus bersiyasah masuk ke dalam Majapahit, baru kemudian pelan-pelan mengislamisasi. Mereka tak mengajarkan demikian. Giri Kedaton itulah menjadi pemukiman kaum muslimin mandiri. Mereka menegakkan syariat dan hakekat secara menyatu.

Sunan Giri sebagai ‘Ulil Amri’, tentu tak menunggu adanya ‘pengangkatan’ dari Khalifah lebih dulu. Dia berdakwah, bekerja secara spontanitas. Karena demikianlah Islam dijalankan. Sunan Giri, tak perlu membangun puak faksi Islam di sekitar istana Majapahit. Karena mereka tak berorientasi merebut tahta Mahjapahit. Melainkan berorientasi mendirikan ‘kesultanan.’ Inilah tujuan dari dakwah Islam sejatinya.

Giri Kedaton itulah kehidupan Islam bisa diterapkan. Tatkala Islam belum hadir, maka para Wali memberi contoh nyata, bagaimana jalan kita untuk menghadirkannya. Bukan dengan ‘mengislamisasi’ hukum Majapahit seolah-olah telah sesuai dengan syariat. Bukan pula harus menunggu adanya SK Khalifah, baru bisa diterapkan. Sunan Giri telah memberi tauladan. Dan, mereka para Wali, tak pernah halusinasi harus menunggu Imam Mahdi, baru bisa berbuat melawan kemaksiatan. Tapi mereka bergerak dimanapun dan kapanpun. “Karena Islam itu disini dan sekarang.” Jadi bukan mesti menunggu kehadiran Imam Mahdi, seolah kemasiatan baru bisa dilawan.

Dari Giri Kedaton inilah menjadi cikal bakal lahirnya sebuah Kesultanan Demak. Karena Demak, buah dakwah koalisi Wali Songo di tanah Jawa. Kesultanan Demak, wujud bagaimana syariat ditegakkan secara utuh. Raden Patah, penerus tahta Majapahit, tak memilih duduk di Istana. Melainkan duduk menjadi Sultan, penegak syariat.Dia di bawah Ahli Hallu Wal Aqdi, para Wali Songo.

Demikianlah epos Islam hadir menjejak di tanah Jawa.

Wali Songo tentu meniru pola Sayidinna Rasulullah Shallahuallaihiwassalam. Membangun Madinah al Munawarah. Karena membangun Madinah, dimulai dari kota kecil, kemudian membesar lebar. Inilah siklus peradaban. Bak dikata Ibnu Khaldun, peradaban itu bak organisme. Mulai dari lahir, kecil, besar, tua dan mati.

Dari Giri Kedaton, mencuat lahir Kesultanan Demak, yang kemudian membesar hingga melahirkan Kesultanan Mataram. Inilah siklus kejayaan Islam di tanah Jawa. Majapahit pun runtuh dengan sendirinya. Wali-Wali mengikuti Al Quran. Kala yang Haq hadir, maka yang bathil musnah. Menghancurkan yang bathil, bukan harus masuk dari dalam. Melainkan dengan memunculkan yang Haq, maka kebathilan musnah (Al Quran: Surat Al Isra: 81).

Napak tilas politik Wali Songo telah memberi tunjuk ajar. Syariat dan hakekat akan tegak dalam bingkai sultaniyya. Itulah makna ‘Islam Rahmatan Lil Alamin,’ kala Islam telah berdiri tegak, maka akan memberi rahmat pada seantero alam. Bukan dibalik. Seolah ‘Islam Rahmatan Lil Alamin’ jadi legitimasi seolah muslimin boleh mengadopsi non syariat. Wali Songo tak pernah mengajarkan demikian.

‘Politik’ Giri Kedaton memberi tunjuk ajar. Babad Ing Gresik mengkisahkan, bermula dari perkampungan yang bak pesantren Islam, maka berdirilah Kedatuan Giri. Penulis Belanda, H. J. de Graaf dan Samuel Wiselius juga menyebut pesantren Giri sebagai “Kerajaan Ulama” (Geestelijke Heeren).

Maka, dari kampung ulama, kemudian akan lahir sultaniyya. Dari Giri Kedaton, memunculkan Kesultanan Demak. Inilah ziarah politik Wali Songo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wordpress Social Share Plugin powered by Ultimatelysocial