HIKAYAT ROMAWI
Irawan Santoso Shiddiq
Romawi. Ini legenda yang terus hidup. Hikayat yang tak pernah mati. Al Quran menyebutkan. Ar Rum (Romawi). Inilah satu-satunya peradaban yang tersebut jelas dalam Al Quran. Peradaban yang terbilang terang dalam Kitabullah. Karena Al Quran tak ada menyebut tentang Persia, Chartago, Mongol, Mesir atau peradaban besar lainnya. Melainkan hanya menukiskan Ar Rum. Romawi.
Ini pertanda pentingnya memahami Romawi. Ketika Surat Ar Rum turun di Makkah, gejolak masih terjadi. Kaum mukminun masih menyusun barisan. Kaum musyrik Makkah masih memerangi. Tetiba Surat Ar Rum diturunkan kepada Muhammad Shallahuallaihiwassalam.
Sayidinna Abu Bakar as Shiddiq mendengar. Dia menyebutkan terang kepada kaum musyrik Makkah. Membacakan penggalan awal Surat Ar Rum. Tentang bakal akan kemenangan kaum Romawi. Setelah mereka dikalahkan. Bagian awal Surat Ar Rum menjelaskan demikian.
Al Quran tak menyebut Persia. Tapi, mufassir mutawatir menyebut kekalahan awal bangsa Romawi itu berasal dari Persia. Mereka tengah perang di negeri Syam. Kala itu kekuasaan Romawi. Sabur, Raja Persia memimpin tentaranya. Mengalahkan pasukan Kaisar Heraklius, Kaisar agung Romawi. Berita kalahnya Romawi itu membuat gembira kaum musyrik Makkah. Karena seolah Persia itu representasi mereka. Sementara Romawi dianggap sesama Ahlul Kitab. Kaum musyrikun Makkah bergembira. Kalahnya Romawi, membuat mereka bersorak. Seolah mau mengejek, penyembah Allah Yang Ahad, dianggap kalah.
Tapi Sayidinna Abu Bakar menyanggah. Dia membacakan Surat Ar Rum. Bahwa dalam kurun waktu beberapa tahun lagi, Persia akan dikalahkan. Terjadi perdebatan. Sampai kemudian Sayidinna Abu Bakar ditantang taruhan. Ini kala syariat tentang perjudian belum ditegaskan. Tafsir Al Jailani, karya Sayidinna Shaykh Abdalqadir al Jilani menceritakan. Abu Bakar kemudian bertaruh 100 unta pada Ubay Bin Khalaf, seorang diantara musyrikun. Tentang berita kemenangan ‘Romawi’ itu. Mereka meletak jangka waktunya: 9 tahun sejak masa itu.
Waktu berjalan. Perang Uhud meletus. Ubay Bin Khalaf mati dipedang Rasulullah Shallahuallaiwassalam. Sementara pasca Perang Badar, Romawi berhasil mengalahkan Persia. Kabar dari Al Quran itu terbukti kebenarannya. Sayidinna Abu Bakar kemudian mengambil taruhan 100 unta itu pada ahli waris Ubay Bin Khalaf. Rasulullah Shallahuallaihiwassalam kemudian memerintahkan supaya itu disedekahkan. “Ini terjadi sebelum pengharaman perjudian. Sehingga tak sah menjadikannya dalil untuk akad-akad yang tidak baik,” Shaykh Abdalqadir al Jailani menjelaskan.
Tapi titik soalnya bukan di sana. Tentang Romawi dan Persia. Ini bak dua kutub peradaban yang berbeda. Romawi masa itu, adalah penganut unitarian. Mereka menyembah satu Tuhan. Sementara Persia, mayoritas menganut majusi. Ini kepercayaan, bahwa ‘perbuatan baik’ itu datang dari Tuhan. Sementara ‘perbuatan buruk’ itu dari setan. Jadi mereka meyakini ada dua ‘pencipta’. Ini dikategorikan musyrik. Ini setali tiga uang dengan musyrikun Makkah. Mereka percaya Tuhan. Tapi memberi sesembahan pada latta, uzza dan manna. Karena dianggap berhala itu sebagai dalil terciptanya ‘perbuatan buruk.’ Makanya upacara tolak bala dilakukan. Sesembahan untuk ‘selain Allah.’ Ini yang diyakini Abu Lahab. Makanya dia memerangi Muhammad Rasulullah Shallalahuallaihiwassalam.
Muhyidin Shaykh Al Akbar Ibnu Arabi berkata, disinilah perbedaan ‘Abu Bakar’ dan ‘Abu Lahab.’ Perbedaan pandangan, yang mempengaruhi posisi keduanya. Abu Bakar, memandang Muhammad itu sebagai Rasulullah Shallahuallaihiwassalam. Makanya dia menerima Kebenaran. Tentang ‘perbuatan baik dan buruk itu sumbernya sama: Allah Subhanahuwataala. Sementara Abu Lahab, memandang Muhammad itu hanya sebatas keponakannya. Dia lebih percaya ‘perbuatan buruk’ itu diciptakan ‘selain Allah’. Menolak ajaran ‘Keponakannya.’
Islam datang ke Makkah untuk membenahi urusan Tauhid. Hanya ada satu ‘Pencipta’. Itulah Allah Subhanahuwataala. Baik ‘perbuatan baik’ ataupun ‘perbuatan buruk.’ Dikotomi ini yang kemudian mempengaruhi peradaban kemudian.
Di Romawi, dialektika ‘aqidah’ juga terjadi. Romawi, yang disebut Al Quran, tentulah yang berpusat di Konstantinopel. Heraklius menjadi Kaisar. Mereka mengalami perpecahan. Dengan kaum di barat. Ini yang disebut Romawi barat. Sejarawah modern membagi, Romawi barat yang di Roma, dan Romawi Timur di Konstantinopel. Tapi sejarawah versi barat, menukar Romawi Timur dengan sebutan ‘Byzantium.’ Ini dimulai dari Hieronimus, sejarawan asal Jerman, abad 20. Dia yang kali pertama menukar Romawi dengan Byzantium. Tentu jika mengikut Byzantium, seolah Surat Ar Rum menjadi tak pas. Padahal itu ulah sejawaran barat, karena mereka mengklaim penerus tahta Romawi yang sah.
Karena antara Roma dan Konstantinopel, berebut tahta Romawi. Mereka saling klaim penerus Romawi yang agung. Perbedaan mereka, juga perihal aqidah. Konstantinopel meyakini Tuhan itu satu. Unitarian. Sementara di Roma, dikenal dengan ajaran trinitas. Perbedaan ini menimbulkan perpecahan. Hingga kemudian memantik peperangan.
Heraklius sempat mendapat surat dari Rasulullah Shallahuallaihiwassalam. Ulama menyebutkan dia sempat menyetujui datangnya Islam. Tapi kemudian menyembunyikannya dan menampiknya. Disinilah bentuk pengingkaran terhadap Rasulullah Shallahuallaihiwassalam. Masa itu pula Rasulullah Shallahuallaihiwassalam sempat mengirim ekspedisi memerangi Romawi di Syam. Perang Tabuk. Keberanian pasukan muslim itu, kemudian membuat ciut musyrikun Makkah. Karena Romawi yang raksasa kala itu, telah diperangi. Efeknya, Makkah kemudian futuh. Jatuh ke tangan kekuasaan Islam.
Sekuel historis Islam, Romawi terus menjadi sasaran. Karena inilah imperium yang dominan jaman itu. Dari Perang Yarmuk, masa Khalifah Sayidinna Abu Bakar as Shiddiq, hingga era Sultan Muhammad al Fatih. Itulah tamatnya Romawi di Timur. Konstantinopel sepenuhnya takluk di tangan Islam. Istanbul, dulunya Konstantinopel, berada dalam kekuasaan Islam.
Tapi sekuel di barat, beda lagi. Sebelumnya, Kaisar Justianus di Konstantinopel, sempat menutup akademi Plato. Ini entitas pengajaran filsafat. Romawi di Timur menampik filsafat. Tapi kemudian buku-buku filsafat diberikan kepada kaum muslimin. Walhasil, Islam yang makin membesar, sempat terpapar ajaran filsafat, di periode awal. Tercatatlah masa Abasiyyah, sains Islam membahana. Karena ajaran filsafat memuncak.
Tapi pengklaim tahta Romawi di barat tak diam. Mereka tergabung dalam Imperium Romanum Socrum (IRS). Kekaisaran Romawi Suci. Ini dibawah Paus di Romawi. Di tengah muslimin terkesima sains, disitulah kelemahan terjadi. Paus Urban membentuk pasukan untuk merebut kembali Jerusalem dari kekuasaan Islam. Karena semenjak era Khalifah Umar Bin Khattab, Yerusalem berada dalam kekuasaan Islam. Kaum Romawi Timur kerap mengalami kegagalan untuk merebut kembali Yerusalem. Makanya Romawi di barat berkumpul. Mereka membuat proyek ‘crusaders’. Perang Salib. Tujuannya adalah Yerusalem. Ini sempat sukses. Pasukan Romawi Barat berhasil menduduki Yerusalem, merebutnya dari tangan Dinasti Fatimiyya, yang menganut Syiah. Karena masa Abasyya, terjadi perpecahan tajam. Kaum Syiah berhasil merebut Mesir dan menguasai Yerusalem. Tapi kemudian pasukan Imperium Romanum Socrum merebutnya. Makanya berdirilah Kerajaan Baldwin di Yerusalem. Mereka tunduk pada Roma. Bukan Konstantinopel.
Sejarah berkata, sesiapa yang menguasai Yerusalem, dialah penguasa dunia.
Keasyikan muslimin pada filsafat, itulah melahirkan mu’tazilah. Prahara terjadi. Beberapa fase Abasiyya, sibuk dengan filsafat. Makanya terjadi kekalahan beruntun. Sains yang tinggi, ternyata tak berbanding lurus dengan kejayaan Islam. Karena filsafat memberi ajaran baru: dikotomi antara “Perbuatan Tuhan” dan “perbuatan manusia.” Filsafat memberi ajaran, segala sesuatu adalah ‘perbuatan manusia.’ Klimaksnya adalah kala ulama dipaksa dengan program ‘al mihnah’. Ujian ke-Tauhid-an. Harus yakin bahwa Al Quran adalah makhluk. Baru. Hadits. Ini yang ditentang Imam Ahmad bin Hambal, dan ulama ahlul sunnah waljamaah. Virus filsafat mempengaruhi bahwa ajaran Islam ditafsirkan secara rasionalitas ansich. Mulai dari Al Farabi, Ibnu Sina, sampai Ibnu Rusyd memegang teguh itu. Hasillnya kehilangan Cordoba dan Yerusalem.
Tapi ulama datang meluruskan aqidah. Paham filsafat mu’tazilah ditentang. Imam Asyari, Imam Ghazali, Shaykh Abdalqadir al Jailani dan lainnya, meluruskan Tauhid. Jadilah umat selamat. Hasilnya muncul Sultan Salahuddin al Ayyubi dan pasukan muslim dari Mesir. Mereka bukan produk mu’tazilah. Melainkan erat dengan sufiyya. Kaum inilah yang kemudian mengusir kerajaan Baldwin dari tanah Yerusalem. Romawi cabang Yerusalem dikalahkan. Mereka kembali ke baraknya, di barat. Yerusalem kembali ke tangan Islam.
Tapi sekuel tak berhenti. Di barat, Romawi ‘dihidupkan’ kembali. Selepas gagal dalam ‘crusader’, public mulai mempertanyakan perihal Gereja Roma yang dianggap tak sahih mewakili Romawi. Muncullah Nicollo Machiavelli. Mulai mempertanyakan tentang pola kekuasaan yang digunakan barat masa itu. Karena cenderung monarkhi absolut. Tapi cenderung tak berdaulat penuh. Karena prahara antara kerajaan Eropa terjadi. Machiavelli, memunculkan Il Principe. Tentang Bagaimana pola kekuasaan secara teori. Dia menggunakan filsafat.
Machiavelli pun menghitupkan Titus Livy, sejarawan Romawi. Dalam kitabnya, Diskursus, dia membangkitkan pola kekuasaan masa Romawi kuno. Karena sekuel Romawi yang memang panjang sekali.
Romus dan Romulus mendirikan Romawi dari tepi sungai Tiberias. Ini dimulai dari soal aqidah. Mereka menolak menyembah api. Karena api dianggap sebagai upacaya ‘tolak bala.’ Kembali terjadi dikotomi. Antara pencipta ‘perbuatan baik’ dan ‘perbuatan buruk.’ Api itu simbolisasi setan, yang dianggap ‘pencipta perbuatan buruk.’ Romus Romulus menolak aqidah Chartago masa itu. Yang cenderung percaya ‘perbuatan buruk’ yang datang dari ‘selain Tuhan.’
Jadilah mereka bergabung sesame aqidah. Terbentuklah Romawi, dari pinggiran peradaban. Ini yang dicatatkan Polybios, sejarawan Romawi, sampai Ibnu Khaldun. Bahwa peradaban itu dimulai dari kecil. Bukan langsung menbesar.
Romawi kemudian makin membesar. Berpusat di wilayah Eropa barat kini. Roma itulah sentral peradabannya. Hingga agung di masa Julius Caesar. Keagungannya itu sampai membuat tahta raja, didaulat dengan nama ‘Kaisar.’ Caesar. Rusia menyebutnya ‘Tsar’. Tapi tentu itu diambil dari tahta ‘Romawi.’
Romawi masa itulah dianggap symbol kejayaan kaum Eropa. Mulai dari Romus hingga Caesar. Hingga muncul Kaisar Oktavianus, yang merubah tatanan pemerintahan Romawi. Dari republic menuju kekaisaran. Sekuel Romawi pun berubah.
Tapi era Romawi itulah ‘aqidah’ dari Yunani Kuno mulai membahana. Pengajaran filsafat masuk mempengaruhi. Pola ‘polis’ ala Yunani diterapkan. Jadilah yang disebut ‘negara-kota’ ala Plato maupun Aristoteles, dianggap pernah diterapkan. Romawi jadi acuan. Dari sanalah ‘senat,’ ‘republik’, ‘demokrasi,’ ‘konstitusi,’ berkisah. Peradaban Romawi yang panjang, hampir kisaran 800 tahun lebih. Ini menjadi pertanda pentingnya memahami Romawi.
Hingga kemudian masa Kaisar Nero, era datangnya Isa Allaihisalam. Kaum Romawi sempat menolaknya. Ujungnya Isa Allaihissalam diboyong ke tiang salib, bentuk penghukuman masa itu. Tapi untungnya Allah Subhanahuwataala berkehendak lain.
Tapi Romawi yang semula menentang ajaran Nasrani, kemudian menerimanya menjadi agama resmi. Jadilah Romawi identik dengan Nasrani. Tapi semenjak itu, perbedaan aqidah pun berlangsung. Jadilah perpecahan antara Barat dan Timur. Roma dan Konstantinopel tadi. Keduanya berebut trah Romawi.
Renaissance kemudian datang. Ini masa filsafat masuk ke barat. Mereka mengambil dari mu’tazilah. Filsafat digunakan untuk seolah jalan menuju kembali pada kejayaan Romawi. Karena barat seolah tertinggal. Machiavelli menggunakan Tytus Livy, seolah mengembalikan Romawi. Menolak teori dogma Gereja Roma.
Trias Politica ala Romawi kuno, dibangkitkan lagi oleh Montesquei. Disitulah senator diperkenalkan kembali. Sampai Jean Bodin yang merujuk ‘soverignty’ ala Romawi. Puncaknya adalah Jean Jacques Rosseau, yang mengklaim ajaran Romawi menerapkan republic. Tafsirnya, kehendak rakyat dianggap itulah republik. Persis seperti penerapan Romawi.
Tapi tafsir ‘kehendak rakyat’ ala Rosseau merujuk pada filsafat. Kehendak manusia. Tentang segala sesuatunya adalah ‘perbuatan manusia.’ Renaissance melahirkan modernisme. Walhasil ini berbeda dengan Romawi. Karena masa Romawi di era Cicero, dia membangkitkan republic, sebagai wujud dari ‘Kehendak Tuhan.’ Sementara modernisme politik, menganggap ‘kehendak rakyat’ itulah republic.
Ujungnya adalah seolah ‘republik’ ala Romawi kembali pasca Revolusi Perancis, 1789. Disusul kemudian Kemerdekaan Amerika Serikat dari Monarkhi Inggris. Abraham Lincoln mengklaim Amerika itulah wujud Romawi modern. Trias politica, republik, demokrasi, konstitusi, seolah itulah symbol yang dulu diterapkan Romawi.
Jadi, Romawi kembali jadi rujukan. Seolah itulah peradaban yang jadi parameter modern. Semua berlomba merasa paling “Romawi”. Karena nama berkah ‘Romawi’ tadi. Yang disebutkan dalam Al Quran juga.
Tapi, ulama besar dari Eropa, Ian Dallas, menyebutkan bahwa tak ada satupun modern state yang layak disebut republik. Seperti klaim Lincoln tadi. Karena penerapan ‘republik’ ala modern state dan masa Romawi, sangat jauh berbeda. Dallas menyebut, Romawi dulu menerapkan republic dengan peranan senat sangat besar. Termasuk yang memegang kendali keuangan Romawi. Itu ditangan senat. “Kini kendali keuangan ditangan kaum bankir,” katanya. Makanya dia menyebut tak ada wujud Romawi era kini.
Lantas, siapa yang paling layak menyandang republic ala Romawi? Sejawaran Amerika Serikat, Arnold Toynbee meneliti. Dia memiliki jawaban. “Daulah Utsmaniyya adalah yang pernah paling mendekati dalam menerapkan republic ala Plato,” katanya. Nah, dari sini nampaklah bahwa konsep republik, itu sejatinya wujud dari Utsmaniyya. Karena senator yang memegang kendali. Senator itulah ‘guardian’, kaum alim ulama. Romawi dulu menerapkannya dengan jajaran praetor. Mereka terhormat, karena seorang alim ulama. Bukan orang sembarangan, sekedar asal menang dalam pemilihan.
Itulah wujud Romawi yang sejati. Toynbee memiliki jawaban kunci. Karena Romawi, seperti dilukiskan Cicero, adalah wujud penyembahan sejati kepada Tuhan. Dalam De Natura Daerum, Cicero menukiskan bahwa Romawi berbentuk Republik berarti mengakui Tuhan sebagai penentu segala perbuatan. Termasuk perbuatan baik dan perbuatan buruk.
Sementara modernisme memisahkan itu. Manusia seolah diteorikan memiliki kehendak. Padahal Qudrah dan Iradah sepenuhnya adalah domain Allah Subhanahuwataala. Bukan manusia. Manusia, hanya memiliki kasab (usaha). Sebagaimana Allah Subhanahuwataala berfirman dalam Surat Ar Rum:
وَلَهٗ مَنۡ فِى السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضِؕ كُلٌّ لَّهٗ قٰنِتُوۡنَ
- Dan milik-Nya apa yang di langit dan di bumi. Semuanya hanya kepada-Nya tunduk.