ALAM PIKIRAN YUNANI

Alam Pikiran Yunani

Irawan Santoso Shiddiq

Peradaban Yunani, seolah ini ‘sanad’ asli modernisme. Seantero dunia, tersihir ‘pikiran Yunani’. Washington hingga Jakarta, ‘kosakata Yunani’ jadi landasan. Di Senayan, Jakarta, tulisan ‘citius altius fortius’ dipampang gagah. Seolah itu kehebatan. Gedung Mahkamah, meniru kuil ‘parthenon’ Yunani. Patung ‘Themis’, dijadikan ‘berhala’ keadilan. Padahal tak ada kisahnya tentang ‘keadilan.’

Bung Hatta, sang proklamator, terkagung dengan ‘alam pikiran Yunani’. Tapi sayang, Bung Hatta hanya sampai pada filsafat. Karena trending topic modernisme, tentu berasal dari filsafat. Renaissance mengekspor filsafat hingga ke pelosok negeri. Dari Banda Neira, Bung Hatta terkagum setengah mati. Padahal Heidegger berpesan, “Filsafat itu tak berpikir.” Tapi korban ‘alam pikiran Yunani’ masih sibuk memaksa, seolah filsafat itu “berpikir”. Nietszche memvonisnya: “Filsafat itu berhala.”

Nietszche menampik Socrates. Dia ketus berkata, “Wajahnya seperti kriminal.” Karena Nietszche pengikut Goethe. Sosok yang wafat sebagai muslim itu teguh menilai, “Mustahil alam dipikirkan sebagai system. Karena alam ini adalah kehidupan.” Filosof memaksa alam ini disistemik-kan. Inilah kemustahilan. Ujungnya adalah matinya “pikiran.” Bukan ‘berpikir’. Karena dengan filsafat, manusia lumpuh memahami ‘Takdir.’ Karena seolah segala sesuatunya ‘perbuatan manusia.’ Bukan ‘Perbuatan Tuhan.’ Dari sanalah maka Tauhid runtuh. Realitasnya, lihatlah modernisme kini. Dari filsafat hanya melahirkan sekulerisme. Ujungnya ateisme. Dari sini perlu diuji kembali ‘alam pikiran Yunani.’

Karena peradaban Yunani tak hanya filsafat. Tapi jauh sebelum itu, Yunani melahirkan sosok Ksatria. Lihatlah Achilles. Sosok manusia yang memahami Takdirnya. Dia mampu melihat dirinya. Tentu bukan dengan pola filsafat. Dia jujur pada dirinya sendiri. Achilles tak bisa diatur system. Modernisme, inilah peradaban tersistem. Peradaban Achilles, jauh sebelum filosof meracuni Yunani.

Achilles sosok terdidik. Tapi bukan korban “edukos” makna modern. Karena “pendidikan modern”, maknanya anda telah dicekoki paham filsafat. Achilles dididik sang ‘centaur.’ Disitu Achilles paham takdirnya. Karena dia bisa melihat dan memilih: mati muda tapi berjaya, atau hidup panjang dan berkeluarga di negerinya. Achilles memilih yang pertama. Tapi jika manusia modern ditanya, jamak pasti memilih yang kedua. Karena modernisme, membuat manusia lumpuh. Lumpuh akan pemahaman Takdirnya. Alhasil manusia terjebak pada duniawi. Achilles lebih tahu. Kehidupan duniawi hanya fana.

Kejayaan Achilles, disitulah Yunani mulai berkisah. “Bangsa Yunani yang mencapai kejayaan melalui dirinya,” kata Ian Dallas.

Dari periode Achilles, Yunani memasuki masa ‘sang pujangga’. Ini kala Homer berkisah. Perang ‘Troy’, dikisahkan para pujangga. Epos Achilles sebagai sosok ‘freiheit’, dikisahkan oleh para pujangga Yunani. Mereka membahas tentang ‘tragedy’. Bagaimana Takdir bekerja. Aeschylus yang pertama. Karyanya: Oresteia, membawa pembacanya hanyut dalam memahami ‘tragedi’. Tapi Aeschylus berlawanan dengan Homer. Mereka mencuplik kisah yang sama: ‘Perang Troy”. Tapi Homer menyimpulkan, ‘takdir’ bisa dibuat oleh manusia. Sementara Aeschylus meletakkan, manusia tak bisa terelakkan pada ‘Takdir’. Ini bak perdebatan ‘jabariyya’ dan ‘qadariyya.’ Antara fatalisme dan sekulerisme.

Lalu datang Sophocles. Dia memberi keseimbangan. Karyanya: Oedipus, memberi jawaban. Keseimbangan antara ‘Takdir’ dan kebebasan  kehendak (free will). Drama ‘Oedipus’ menuangkannya. Kalimatnya yang terkenal, “Apollo yang telah melakukan semua ini.” Maknanya, Tuhan-lah pembuat segala sesuatu. Tapi kala dia mencungkil bola matanya, ‘Oedipus’ berkisah lagi, “Apollo yang telah melakukan semua ini, namun (mencungkil bola mata) ini adalah perbuatan saya.” Disinilah letak keseimbangannya. Antara ‘Takdir’ dan kebebasan. Masa Pujangga Yunani membuat dialektika itu berkembang.

Kemudian datang Euripides, yang masa peradaban Yunani dirundung kebobrokannya. Euripides seolah “menyalahkan” Tuhan sebagai penyebab malapekata ini. Dia membantah adanya tatanan Ilahiah, keadilan Ilahi dan bersikap antipati pada “Takdir”.

Barulah kemudian Yunani memasuki babakan para filosof. Socrates, dalam tulisan Plato, baru diketahui. Tentu Plato berbeda dengan Homer. Karena Plato seolah ingin menisbihkan para Pujangga Yunani. Homer, sang Pujangga “tragedy”. Tapi Plato membawa Yunani pada eliminasi pada ‘tragedi.’ Ini khas filsafat. Karena seolah dengan ‘alam daya sadar pikiran,’ disitulah manusia menemukan ‘kebenaran.’ Ini yang dibantah Imam Ghazali, Shaykh Abdalqadir al Jailani kala filsafat meracuni Islam. Periode mu’tazilah. Dan Nietszche sampai Heidegger pun mengiyakannya di masa modern.

Tapi Plato dan Aristoteles ini yang dianggap symbol Yunani. Republik- Plato seolah mewakili “Athena.” Padahal sebelumnya Sophocle telah menuliskan tentang ‘negara-kota’. Disitulah Aeropagus membahana. Kasus Orestes, jadi rujukan model peradilan. Tapi bukan dengan pola positivism kini. Melainkan persidangan yang berlangsung sehari. Bukan berbulan-bulan, yang menyebabkan lapor hilang ayam jadi harus jual rumah. Ini buah kegagalan alam filsafat itu.

Karena fenomena Platok, tepatnya persepsi Socratik, memaksa seolah ‘being’ diciptakan dengan system. Itu yang mereka sebut keteraturan. Padahal, ‘keteraturan’ itulah yang membawa pada peradaban ‘teknikal.’ Lihatlah kini dampak dari ‘teknical state.’ Manusia terkungkung pada system. Tak ada lagi ‘kebebasan.’ Makanya kemudian manusia lumpuh dalam memahami ‘Takdir.’ Karena filsafat menuntut kesepemahan, seolah semuanya bisa dipikirkan secara saintifik. Dampak saintifik, hanya membelenggu ‘pikiran.’ Bukan membebaskan. Kejadian ‘peradilan Socrates’ seolah jadi ajang membunuh ‘tradisi’. Karena memang Socrates, berlandas rekaan Plato, menolak model cara berpikir ‘tradisi’ itu. Dia menuntut adanya sistematika berpikir. Ini yang mewujud menjadi periode Helenisme. Helenisme ini yang kemudian diserap kaum mu’tazilah. Dari kaum mu’tazilah inilah diadopsi para renaissance. Makanya jadilah wujud modernisme kini. Peradaban teknikal. Teknikal state.

Ini yang tak dijamah Bung Hatta. Dia ‘urang awak’ yang sepemikiran dengan Tan Malaka. Mereka menolak tradisi, bahkan cenderung ‘membencinya.’ Karena terpapar modernisme. Hatta dan Tan, sama-sama tak menyukai tradisi yang hidup di masyarakat Minang. Sebuah jalan yang justru membawa kehancuran. Karena tawaran ekonomi Hatta dan pola ‘Madilog’-nya Tan, hanya secuil dari bunga-bunga persepsi Socratik tadi. Mereka korban pada ‘teknikal’, yang seolah jadi jalan keluar. Padahal ‘teknikal state’ ini yang membelenggu masyarakat manusia. Yang membelenggu ‘aksi massa’ dan ‘massa aksi.’ Karena ‘nation state’ –buah dari peradaban teknikal itu—telah terjerambab pada pola system. Ajaran filsafat itu sendiri. Maka, jalan keluar dari sana bukan teori ‘madilog’ atau ‘ekonomi koperasi’ ala Hatta. Melainkan kembali pada kebebasan manusia. Lepas dari peradaban teknikal.

Lantas Bagaimana mengatur manusia tanpa teknikal? Tentu jawabannya bukan kembali pada ‘theori’ ala Plato. Atau substansi ala Aristoteles. Karena filsafat tak memberikan jalan keluar. Melainkan kita harus kembali melihat ‘alam Yunani’ pasca filsafat.

Di sana muncul kemiudian Alexander Agung. Dia sempat berguru pada Aristoteles, tapi tak menerapkan ajaran gurunya. Karena Alexander bukan berwujud pemimpin tirani. Dia mengagumi Achilles. Begitu dia sampai Troy, Alexander berziarah ke makam Achilles. Alexander, selepas menguasai sebuah daerah, dia meletakkan dasar dari sebuah kota. Itulah keistimewaannya. Mendirikan ‘kota’, tentu dengan dasar pemahaman tentang Takdir. Dari situlah Alexander tak mendirikan sebuah imperium. Dia berbeda dengan Jengis Khan. Jauh pula dengan Napoleon Bonaparte. Karena Alexander memberi ajaran tentang manusia yang lekat pada Takdir. Itulah ciri khas ‘negara-kota’ yang dibangun Alexander. Bukan teknikal state bak modern state kini.

Dari sini kita mahfum kegagalan modernisme. Karena pondasinya berasal dari filsafat. Dari ‘alam pikiran Yunani’ yang oleh Hatta dibatasi pada dunia filosof. Terlebih Tan Malaka yang tersihir ilusionisme Marx. Karena Marx berteori, “segala sesuatunya adalah materi.” Ini jebakan massif. Marx mengeliminasi perihal ‘Takdir.’ Semuanya seolah ‘kehendak manusia.’ Tak ada ‘Kehendak Tuhan.’ Hegel pun telah membantah ini. Ditambah penyimpangan pemikiran Sigmund Freud. Dia menganggap ‘roh adikudrati’ itu sebagai alam bawah sadar belaka. Dibumbui pula teori Einstein yang sibuk dengan sistematika. Karena Eisntein kala melempar bola, dia merasa “dirinya” yang melempar. Padahal bukan.

Modernisme telah disusupi penyesatan tentang ‘Takdir.’ Ujungnya maka manusia terjebak pada teknikal tadi. Takdir seolah menjadi domain urusan mati dan lahir. Tapi wilayah kekuasaan, keuangan, hukum, sosial, itu bukan domain Takdir. Inilah pengajaran filsafat, yang dibawa Plato, Descartes sampai Einstein. Dan ini yang dikagumi modernis Islam sampai kini. Ujungnya adalah membawa devaluasi umat manusia. Ian Dallas menyebutnya sebagai devolusi. Bukan evolusi.

Karena manusia menjadi terkunci cara berpikirnya. Terkunci itu adalah karena tersistemik. Pola ajaran filsafat an sich. Walhasil manusia kehilangan jati diri. Manusia modern berubah menjadi “manusia mesin.’ Manusia yang bisa dikontrol oleh sistem. Sementara system itu, buah rekaan akal pikiran manusia. Tapi system itu yang dipatuhi dan disembah.

Renaisaance, manusia memikirkan teori ulang kekuasaan. Dari ‘Vive le Roi!” (Hiduplah Raja) berubah menjadi ‘vive le nation”. Revolusi Perancis, wujud kemenangan pengikut ‘Vive le nation.’ Pengikut personal rule, pengikut Raja, dihabisi. Manusia menciptakan Bagaimana system ‘state’ dibuat. Dari teori Machiavelli, Montesquei, hingga Rosseau. Ujungnya bukanlah wujud ‘negara-kota’ sebagaimana amalan ‘Alexander The Great’. Melainkan ‘negara bangsa’ yang menjadi budak system. Siapa yang menciptakan system itu? Mereka kaum ordo bankir. Mereka memiliki kesempatan dan kelicikan dengan memanfaatkan teori filsafat. Jadilah perbudakan modern tercipta. Filsafat menjadi doktrin bahwa kebebasan itu adalah dengan “berpikir”. Takdir dianggap tidak ada. Dianggap segala sesuatunya adalah karena ‘perbuatan manusia.’ Bukan “perbuatan Tuhan.” Makanya manusia bebas melakukan kehendak. Free will. Dari free will ini, bankir bebas menciptakan system yang bisa mengontrol negara bangsa. Jadi ujungnya adalah kudeta atas ‘pemikiran.’

Ini yang sudah diwanti Imam Ghazali dulu. Kala dia membantah teori filsafat dalam ‘Tahafut al Falasifah.’ Ini pula yang diutarakan Heidegger kini. “Filsafat itu tak berpikir.’ Makanya manusia modern kehilangan jati diri.  Kehilangan kepercayaan tentang Qada dan Qadar. Karena menganggap segala sesuatunya adalah “perbuatan manusia.” Disinilah jerambab filsafat.

Jalan keluarnya, kembali pada alam tradisi. Seperti ajaran Rasulullah Shallahuallaihiwassaalam. Pemahaman pada Takdir, bukan ‘free will.’ Imam Asy’ari telah memberikan fatwa. Qudrah dan Iradah, itu domain Tuhan. Manusia hanya bisa “kasab”. Usaha. Jadi, bukan segala sesuatunya adalah materi. Seperti ilusi Marx tadi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wordpress Social Share Plugin powered by Ultimatelysocial