MENGAJI KITAB “THE ENTIRE CITY”

“Setelah Rosseou, situasi berubah karena pondasi dari pemikiran politisnya berbeda.”
(The Entire City, Ian Dallas)
Ini tentang kitab penting yang ditulis Ian Dallas. Karena kitab terakhir yang ditulisnya. Beliau sosok Mursyid tariqah. The Entire City, kitab yang ditulisnya tahun 2015 lalu. Buku itu sebagai jawaban atas sikapnya di kisaran Maret 2014. Perihal artikel singkat yang isinya dirinya berkata ‘diassociate’ pada gerakan dinar dirham. Tak banyak yang bisa paham apa maksud gerangan Sang Mursyid. Tapi jamak muridnya menyimak dan mengikuti. Hanya segelintir yang mencoba resistensi.
The Entire City pun coba dilahap. Di Indonesia, buku ini pernah dikaji secara khusus. Sang Mursyid mengirim Zulfiquar Awan untuk mengajar dan mengenalkan buku ini.
Dikenalkan ditiga tempat, Ketapang, Bintan dan Jakarta. Isinya membuat banyak yang sumringah.
Tapi belakangan, ada yang coba mendiskreditkan buku ini. Karena dianggap sekelas buku psikologi belaka. Sekelas buku perjalanan Shaykh Abdalqadir as sufi. Tanpa mau menimba banyak pesan makna di dalamnya. Inilah ironi.
The Entire City, nama yang diambil dari judul lukisan Max Earnst. Pelukis Jerman beraliran surealis, abad 19. Dia memiliki lukisan berjudul ‘the entire city’. Seonggok gambar dengan bulan menerangi kota yang indah. Ian Dallas, mengambil itu sebagai judul bukunya. ‘The Entire City’ berarti kota yang utuh. Maknya, bukan kota yang parsial. Tentu ini pesan untuk menggambarkan sesuatu yang utuh. Bahasa lain, kota yang kaffah.
Belum selesai di Max Earnst, Dallas kembali membuka bukunya dengan lukusan lainnya. Berjudul ‘Oedipe’. Lukisan Ernst melikusnya 1934. Bergambar tiga sosok ‘makhluk’, ada manusia dengan kepala burung, patung spinx yang menghantui dan seonggok kaki manusia yang tak utuh. Dari lukisan itu, Dallas menggambarkan buku itu menjadi tiga bagian: the outward, the inward dan the hidden. Persis seperti lukisan itu. Sungguh, ini kitab yang indah.
Baru kita menjejak isi dalamnya. Buku itu terdiri dari tiga bagian text. Artikel Harold Laski, lawyer dari Inggris dikutipnya sebagai pembuka. Berjudul ‘vindiciae contra tyranoss’. Lalu drama Christopher Marlowe, tentang The Massacre de Paris dan drama yang ditulis Dallas sendiri: Oedipus dan Dionysus. Lalu bagaimana membaca buku ini?
Tunggu, ini membutuhkan kesabaran. “Ini bukan sesuatu dari yang telah diajarkan,” kata Dallas dalam bagian depan buku itu. Memang penuh kesabaran. Karena sudut pandang yang disajikan sungguh berbeda dari kajian akademis sekarang. Tapi menyingkap pesan kebenaran. Apa yang dimaksud kebenaran? Itulah fitrah. Buku ini membawa kita pada suatu yang fitrah. Fitrah tentang kekuasaan. Fitrah ialah hukum yang datang dari Allah Subhanahuwataala. Antitesanya itulah Musryik. Inilah perang peradaban. Antara fitrah dan syirik. Dallas mendedahnya sejak masa Romawi hingga masa kini. Dallas memberi tunjuk ajar, dimana kemusyrikan besar kini bersarang. Bagaimana bentuknya, bagaimana pula wataknya. Dan cara menghajarnya sekalian. Tapi yang pasti, ini bukan buku tentang sekelas psikologi. Apalagi perjalanan Dallas dalam mencapai mahqomnya. Bukan itu. Jauh sekali jika dikata begitu.
Mari mulai mengajinya.
Dallas membuka awal dengan artikel Laski. Ini ketua Partai Buruh di Inggris, abad 20. Dallas pernah menemuinya sekali, selagi muda. Maklum, Dallas juga besar dan tumbuh di negeri itu. Dia masuk Islam di usia 30-an di negeri Magribi. Dia memasuki Islam dan mendalami sufi. Hingga menjadi Mursyid dan kembali ke belantara Eropa. Membawa banyak manusia memasuki Islam, dan kini muridnya tersebar lebar seantero dunia.
Kembali ke The Entire City. Bekal itulah Dallas mampu membimbing kita dengan bukunya. Memberi tunjuk ajar tentang bagaimana suatu yang fitrah. Yang semestinya manusia lakukan, bukan mengikuti poros setan (axis of evil).
Dallas mengutip kalimat Laski. Tentang ‘state” atau ‘negara’. Terjemahan yang tak pas tentunya. Laski mendedah tentang makhluk bernama ‘state’ yang dulunya simbol atas kemerdekaan. Kini state berdiri gagah dimana-mana. Lambang kemerdekaan. Tapi Laski berkata, “the ultimate implication of the monistic state in a society so complex as our own is the transference of freedom ordinary men to their rules.”
Dari sini kita paham, state yang dulunya wadah menuju freedom, ternyata bukanlah freedom. Dallas menggunakan Laski untuk mengatakan bahwa state kini telah berubah menjadi tiran. Bukan wadah kebebasan. Karena Laski menggunakan lagi artikel yang ditulis Dupllesis Mornay, abad 16, berjudul vinidiciae contra tyranoss. Inilah artikel yang menggelegar di abad pertengahan, symbol perlawanan pada kaum raja dan Gereja kala itu. Yang dianggap telah berubah menjadi tiran.
Dari Laski kita terbang jauh ke abad pertengahan, Mornay. Dia penulis beraliran monarchomach. Anti Monarkhi. Mornay, penasehat Raja Charles di Perancis, yang selamat dari peristiwa pembantaian dalam kejadian peringatan Santo Bartolomeus, sahabat Isa Allaihisalam yang dibantai kaum Romawi. Para Nasrani memperingati hari pembantaian itu saban tahun. Masa itu, Eropa berada dalam situasi ‘Vox Rei Vox Dei’ (Suara Raja Suara Tuhan). Kedaulatan berada di tangan raja, yang dianggap perwakilan Tuhan.
Eropa berada dalam Imperium Romanum Socrum (IRS) yang di bawahnya para monarkhi-monarkhi. Tapi bentuk pemerintahan telah berjalan tak merujuk lagi fitrah. Melainkan merambah pada tiran, yang berbentuk penindasan. Perlawanan datang dari warga kelas dua: borjuis atau baron. Magna Charta di Inggris, abad 13, pertanda dimulainya kemenangan kaum baron atas kedigdayaan Raja, wakil Tuhan. Itu pertanda secara politik, raja tak sepenuhnya benar. Karena adagium kala itu ‘the king can do no wrong’. Magna Charta menanam benih perlawanan.
Pembahasan soal kekuasaan pun merambah. Ditambah gairah kehidupan hukum tak berlogika, Dallas mengutip Holmes, yang telah ada di belantara Eropa sebelumnya. Masa Romawi yang menanggalkan virtue (futtuwa). Maka, pertarungan abad pertengahan, seiring munculnya Protestan, perang aqidah tak terhindarkan. Perang itu merambah soal defenisi kekuasaan. Laski mengutip Mornay, mengatakan: ‘Pertumbuhan nasionalisme di abad ke lima belas dan enam belas telah menyiapkan landasan untuk desentralisasin kekuasaan agama…” Hasrat pertarungan kaum rasionalis (skolastik) dan tradisionalis makin kencang. Tapi minat Eropa makin condong pada rasionalis. Ini yang telah dimulai dari merebaknya filsafat, yang semula hanya mengulas soal kosmosentris. Soal kekuasaan pun mulai menjadi ajang pemikiran rasio manusia. Disitulah mulai dari Machiavelli, Montesquei, sampai Rosseou, berlomba mengeluarkan akrobatik pemikiran perihal bentuk kekuasaan. Bentuk makhluk baru bernama ‘state’ pun dimunculkan. Sebagai antitesa dari kekuasaan yang tak lagi fitrah. Raja dan kerajaan. Vindiciae menjadi ajang perlawanan atas kekuasaan unfitrah, yang telah ditunjukkan dalam peristiwa pembantaian 1000 lebih Huguenot di kerajaan Perancis. Dengan dalang Chaterine de Medici, seorang perempuan yang ambisi atas kekuasaan tahta Raja Perancis. Inilah watak sejati kekuasaan yang dipenuhi nafsu.
Dari artikel vindiciae ala Mornay, Laski ingin mendedah kekuasaan yang berlangsung tiran, masa abad pertengahan. Hingga memunculkan sekuel baru masa modern. Itulah ‘state’ menjadi wujud, dan menjadi bentuk hasil rasio manusia. Tapi melalui Laski, Dallas ingin mengatakan, kita patut untuk me-re-evaluasi bentuk state, yang juga tirani masa kini. Inilah pesan utama yang ingin disampaikan sang author di bab itu.
Lalu beliau membeberkan tentang kisah Massacre de Paris, yang ditunjukkan Marlowe. Tentang watak kekuasaan yang tak fitrah. Ini kisah drama yang berlangsung di istana Raja Perancis. Tentang sekuel permainan dan drama seharian, penguasa yang telah penuh nafsu. Sekuel tipu daya, saling makan, bak orang kesurupan, ditunjukkan dalam drama Marlowe itu. Pembaca buku ini akan terbawa untuk terpanpang perangai penguasa yang dipenuhi ambisi akan tahta. Dari Marlowe, kita bisa membaca kekuasaan unfitrah tak seenak kelihatannya.
Tapi sebelum itu, Dallas membawa kita kembali dulu ke masa Romawi. Kala terjadi pembunuhan Julis Caesar di depan senator. Peristiwa yang digambarkan Cicero, sebagai bentuk pelampiasan hawa nafsu setan. Cicero sangat menentang pembunuhan Caesar. Cicero menyerang Brutus dalam kisah artikelnya. Ini watak serupa tentang kekuasaan yang penuh ambisi. Dari kejadian Romawi itu, Dallas berani mengatakan, masa republik Romawi telah berakhir. Karena Republik, sejatinya sebuah sistem pemerintahan yang fitrah. Dengan pola hukum Tuhan.
Terbunuhnya Caesar, bentuk penurunan masa republik di Romawi.
Sekuel ini terus bersambung. Rangkaian peristiwa sejarah dunia ditunjukkan dalam The Entire City. Tentang jatuh bangunnya kekuasaan yang penuh virtue atau sebaliknya. Ini kitab panjang tentang jaman. Yang bagian akhir mendedah tentang jalan keluar menghadapi tirani masa kini: state tadi.
Tentu ini bukan sajian tentang perjanalan Ian Dallas. Apalagi kisah biographinya. Apalagi hanya berpesan soal pengungkapan soal qalbu. Tapi banyak pesan-pesan mendalam tentang perjalanan bentuk dan sistem pemerintahan yang berada dalam siklus.
Karena Dallas menyajikan Polibios dan Khaldun sebagai rujukan perjalanan siklus jaman. Ini patut disimak, karena kita berada masa interim,. Masa perpindahan dari pola okhokrasi menuju monarkhi, sistem yang kembali merujuk fitrah. Inilah pesan utama. Bahwa kita harus bersiap menyambut masa interim. Mempersiapkan kembali berjamaah dengan asyabiyya yang berisikan kaum futtuwa. Bak pemuda Al Kahfi yang keluar dari goa melakukan perlawanan (resist) pada sistem yang tiran. Jadi, sekali lagi, ini bukan sekuel buku tentang kepribadian Dallas mencapai mahqomnya. Salah kaprah.
Dari buku ini kita paham berada pada sistem yang mana. Dari buku ini, Dallas menunjuk ajar, bagaimana dan apa yang harus dipersiapkan. New nomos. Inilah istilah yang digunakan. Bangunan jamaah baru, yang berisikan kaum pengusung fitrah tadi. New nomos tentu berbeda dengan new currenzy. Dalam new nomos sudah tentu akan ada new currenzy. Tapi menghadirkan new curenzy, belum tentu menghadirkan new nomos. Inilah makna utama pesan buku Dallas ini. Karena tak bisa sekedar berambisi menghadirkan new currenzy, bak pesannya soal ‘diassociate’ tadi. Saatnya membangun new nomos dengan futtuwa di dalamnya. Futtuwa is tassawuf. Ma’rifatullah is secret, kata Shaykh Abdalqadir as sufi. Tentu kaum yang berfuttuwa, tak bisa berjalan jika hendak mengelabui isi pesan makna buku ini, sekehendak hatinya. Dengan mendiskreditkan maknanya. Dengan mengecilkan isi kandungannya. Karena bukun ini membimbing kita pada sesuatu yang fitrah. Membangun kota keseluruhan fitrah. Itulah The Entire City.
(bersambung).
Irawan Santoso Shiddiq