FILSAFAT BAHAGIA

Manusia era modern, jika ditanya bagaimana mencapai bahagia? Jamak akan menjawab, dengan banyak harta dan memiliki kekuasaan. Menumpuk harta, dianggap itulah jalan bahagia. Itulah rumus menggapai kesenangan hidup. Ini falsafah era milenial. Era nihilisme. Jalan bahagia, seolah dengan memenuhi hasrat hawa nafsu.

Alhasil, menjamur rumus dan buku tentang “cara cepat menjadi kaya”. Dan itu laku. Tentang rumus menghasilkan banyak uang dari segala arah. Mau sebagai penguasaha, atau profesionalitas, tujuan utama tentu mendapat banyak harta. Karena dianggap itu rumus mencapai kebahagiaan hidup. Parameter “kesuksesan” seseorang, tatkala dia berhasil menumpuk harta. Majalah Forbes, membeberkan perlombaan tentang orang terkaya, baik di dunia maupun setiap negara. Tapi Forbes tak pernah bisa memberi gambaran, apa benar orang terkaya itu mencapai bahagia. Di titik ini, kaum bankir –segelintir elit—telah menciptakan metode agar mereka selalu menang. Kerap unggul dari sisi materi. Mereka kaum elit penguasa harta, yang mengendalikan kekuasaan state, seantero dunia. Sosok dan tokohnya, tak bisa dijamah dalam berita selebritas. Karena mereka melebihi selebrity. Mereka penghamba riba, dan bertuhan-kan pada dunia. Inilah pengendali dunia kini.

Padahal, teori filsafat kebahagiaan hidup itu, bergeser dari era modern ke masa post modernisme. Sebelum era modern, tahap teori kebahagiaan hidup, bukanlah begitu. Teori menumpuk harta, bermula masa merkantilisme. Kala itu, suatu kerajaan dianggap kuat dan sejahtera, ketika berhasil menumpuk banyak emas. Maka perburuan mendapat emas pun menjadi prioritas utama kerajaan. Kerajaan Spanyol, Portugis, Belanda, dan negeri-negeri Eropa berlomba berburu mencari emas seantero dunia. Maka muncullah legenda kutukan emas Aztec, yang dirampok tapi memiliki kutukan. Karena manusia terdogma, emas itu pangkal kekuatan sebuah kerajaan. Makin banyak emas, makin kuatlah sebuah kerajaan. Termasuk era VOC melakukan monopoli jalur perdagangan dari negeri Hindia. Karena masa itu, “pala senilai dengan emas.”

Itu fase ketika Eropa dilanda rennaisance. Ketika rasio, logos, filsafat, menjadi pondasi berpikir prioritas. Logika menjadi ajang pondasi merumuskan suatu hal. Termasuk cara bagaimana bahagia.

Friedmann, men-teorikan, filsafat era modern berbeda dengan filsafat masa dulu. Filsafat modernisme, katanya, bersumber dari kaum praktisi. Sementara filsafat masa dulu, bersumber dari kaum pemikir. Dari sinilah pergeseran merkantilisme, menjadi kapitalisme. Kekuatan sebuah kerajaan, tak melulu perihal menumpuk harta. Melainkan setiap orang. Bukan lagi setiap kerajaan. Muncullah dogma tentang setiap orang harus memiliki banyak harta, supaya tercapai bahagia dalam hidupnya. Dari sanalah terpola jebakan ‘majikan dan buruh’. Karena manusia langsung terbagi menjadi dua bagian itu. Kaum majikan, memonopoli metode, agar selalu menang dalam usaha. Supaya meraup banyak untung dan uang. Tentu agar bahagia. Kaum buruh, merasa dengan bekerja kepada seorang majikan, baik berbentuk pribadi maupun koorporasi, merasa dirinya bisa menumpuk harta. Padahal dia tetap berstatus ‘koeli.’ Dogma itu terpatri hingga kini.

Ibsen, dramawan terkenal. Dari epos yang disampaikan Shaykh Abdalqadir as sufi. Ibsen menceritakan tentang kehidupan para bankir. Ini suatu kelompok yang memonopoli sistem keuangan dunia. Mereka selalu menang dalam sistemnya. Bahkan seorang raja dan kepala negara, di bawah kendalinya. Tentu mereka memiliki banyak harta. Tersebutlah seorang bankir ternama. Suatu pagi, terjadi kebakaran kecil di apartemen mewahnya. Si bankir itu langsung panik dan masuk ke ruangan brankas pribadinya. Dia bersama pembantunya masuk kesana. Tapi kemudian mati kehabisan oksigen, walau istrinya telah menelepon dari luar brankasnya, bahwa keadaan telah aman. Esok paginya, berita di koran muncul. Yang meninggal adalah seorang bankir, pemilik sejumlah bank sentral di beberapa negara. Dari drama Ibsen, dan disampaikan Shaykh Abdalqadir as sufi, ternyata kaum kaya bankir, terserang penyakit paranoid yang akut. Penyakit ketakutan akan kehidupannya. Arti kata, bankir itulah kaum sukses dalam menumpuk harta. Tapi ternyata tak menemukan kebahagiaan hidupnya. Tapi manusia nihilisme, masih belum percaya. Masih tersibak angin bahwa bahagia hidup, dengan perlombaan menumpuk harta. Status sosial, yang sejatinya baru terdogma masa modernisme. Dan modernisme, terbentuk dari rennaisance, ketika Eropa baru mengenal filsafat, warisan dari kaum Mu’tazilah dalam Islam.

Padahal, filosof Yunani kuno tak mewarisi teori tentang itu. Socrates, merumuskan kebahagiaan itu terletak pada kebijaksanaan. “Orang yang paling bijaksana, adalah dia yang mengetahui bahwa dia tak tahu.” Dari situ Socrates merumuskan tentang moralitas. Itulah sumber kesenangan dan parameter kehidupan. Socrates mewarisi, kebahagiaan itu bukan menyahuti nafsu syahwati. Tak ada orang yang bahagia, jika menentang moralitas. Norma. Itulah panduan manusia dalam kehidupan. 

Plato pun berkata demikian. Dia mengeluarkan tentang ‘teori’. Idea. Plato berkata, tujuan hidup adalah mencapai kesenangan hidup. Kesenangan hidup, bukanlah memuaskan nafsu duniawi. Bahagia, dituju dengan memenuhi fakultas rasional. Logika. Mampu menemukan jawaban-jawaban atas rahasia alam, dengan logika, itulah jalan kebahagian.

Kesenangan hidup diperoleh dengan pengetahuan yang tepat tentang nilai-nilai benda yang dituju. Dari situ Plato merumuskan tentang ‘idea’ tadi. Ketika manusia berhasil merumuskan tentang suatu hal, disitulah kebahagiaan teraih. Dari sana lahirkan tentang akal budi. Parameter baik dan buruk, yang bersumber dari rasionalitas. Dengan mengenakan akal, maka sampai pada norma tadi. Dari situ kebahagiaan hidup akan teraih. Memenuhi hasrat pengetahuan tentang sesuatu itu, disitulah letak kepuasan. Plato menyebutnya, kebahagiaan. Aristoteles tak beda. Hanya menambah soal idea yang wajib masuk dulu pada pengalaman. Tapi sumber kebahagiaan tetap berada di area itu.

 Berlanjutlah masa Mu’tazilah dalam Islam. Ketika Eropa dalam kegelapan, muslimin turut berfilsafat. Teori ala Socrates, Plato, Aristoteles hidup kembali. Romawi padahal telah membi’dah-kannya. Hingga muncullah Al Farabi. Tentang derajat pengetahuan manusia, yang dirunut lewat akal. Tak semata dengan wahyu. Kebahagiaan, tatkala manusia bisa mencapai kebenaran. Al Haqq, dianggapnya, bisa digapai dengan akal juga. Selain dengan Wahyu. Sampai dia berpendapat, seorang filsafat memiliki derajat yang sama dengan Nabi. Karena sama-sama bisa menggapai kebenaran. Bedanya, Nabi mendapat dari Wahyu. Sementara filosof, mendapat dari akal-nya. Ibnu Sina pun serupa. Teori tentang emanasi, pencapaian kebenaran dari akal semata. Hingga kemudian muncullah Ibnu Rusyd dengan teori ‘kebenaran ganda.’ Kebenaran dari Wahyu dan kebenaran dari akal. Dari sana derajat bahagia seseorang bisa teraih.

Tapi fase filsafat Mu’tazilah kemudian lewat. Dicegat tassawuf yang kembali. Imam Asy’ari, Imam Ghazali sampai Shaykh Abdalqadir al Jilani, kembali membawa umat pada tassawuf. Dari sana derajat kebahagiaan pasti teraih. Tak bisa melewatinya dengan akal. Dari situlah muncul tentang garis Ahlul Sunnah wal Jamaah. Karena ada masalah dengan teori dan akal itu.

Tapi barat kemudian mengambilnya. Ketika muslimin membuang filsafat, mereka memungutnya. Jadilah rennaisance, aufklarung. Yang berpuncak pada modernisme dan kini menjadi post modernisme. Thomas Aquinas mengutipnya dari Cordoba. Filsafat Ibnu Rusyd jadi pegangannya. Bacon merujuk kitab-kitab Ibnu Sina dan Al Farabi. Hingga dia mengeluarkan teori, bahagia itu ketika memenuhi syahwat rasionalitas. Teori Plato mulai hidup di Eropa. Bacon bilang, “Aku Ada maka Aku Berpikir.” Kebenaran bisa diraih dengan keberadaan manusia sebagai pusat pengetahuan. Bukan dari Wahyu. Descartes memutarnya sedikit. Cogito Ergo Sum. Aku Berpikir maka Aku Ada. Dia melengkapi teori Aristoteles. Semua harus dilihat dalam empirisme lebih dulu. Immanuel Kant kemudian melengkapi. Teori ratio scripta. Empirisme sebagai sumber kebenaran. Dari sana kebahagiaan manusia, ketika memahami fakultas rasional. Maka, akal menjadi raja. Akal, rasio menjadi pondasi berpikir manusia satu-satunya. Alhasil, rennaisance membangkitkan kembali kebahagiaan dengan pondasi lahiriah. Bukan batiniah, seperti ajaran agama.

 Imam Ghazali telah mewanti. Akal tak dijamin aman dalam menemukan Kebenaran. Akal bisa saja salah. Dari sana didapatilah kelemahan akal, yang mudah disetir menuju arah yang keliru. Alhasil bergeser menjadi fakultas nafsu. Filosof Illahiyyun mengatakan ‘bahagia’ dengan memenuhi fakultas rasionalitas. Filosof dahriyyun (ateisme), menggesernya. Kebahagiaan dengan memenuhi fakultas nafsu syahwati. Alhasil melahirkan psikosis. Inilah nihilisme.

Imam Ghazali memberi pesan, tassawuf jalan paling aman dalam menemukan Kebenaran. Al Haqq. Kitabnya, ‘Kimiyya al Sa’adah’, memberi penjabaran panjang perihal jalur tassawuf untuk mencapai kebahagiaan. Kontra dari yang disampaikan para mu’tazilah. Bukan lewat akal. Melainkan dengan memenuhi hasrat qalbu. Bukan hasrat rasio, apalagi hasrat nafsu. Inilah yang diajarkan Rasulullah Shallahuallaihi wassalam. Kaum sufi yang meneruskan pengajarannya. Para sufi yang pernah mengagungkannya. Hingga menjadikan Islam Rahmatan lil alamin.

Tentu saja itu bid’ah, bagi yang tak menginginkan Kebenaran. Al Haqq.

Irawan Shiddiq

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wordpress Social Share Plugin powered by Ultimatelysocial