Memahami Makna “Virtue”

Kata ini kini menjadi langka. Virtue. Makanya ‘kebajikan.’ Ini asal katanya dari ‘futtuwa’. Islam fasih mengenalnya. Tapi langka dalam penggunaannya. Tapi futtuwa atau virtue, sama-sama menjadi barang langka. Dulu, virtue menjadi simbol kebajikan masa Romawi. Futtuwa, menjadi pemersatu kaum muslimin dalam ber-amal. Kini baik virtue maupun futtuwa, sama-sama tak menjejak baik di barat dan timur.

Tapi, virtue ternyata pernah hidup menggelegar di daratan Eropa. Seiring dengan bernafas-nya futtuwa di negeri Kesultanan Utsmaniyya sampai kesultanan-kesultanan di nusantara. Kisahnya bermula dibalik sekuel kelam Perang Salib, abad 11 lalu. Masa itu justru berlangsung ekspor futtuwa ke daratan Eropa. Jaman ketika Salahuddin Al Ayyubi, pemimpin pasukan muslimin yang merebut kembali Jerusalem. Waktu itu pula futtuwa menyeberang ke Eropa. Ian Dallas, dalam buku ini, mengupas terang bagaimana proses ekspor dan impor futtuwa itu berlangsung. Dia sebagai putera Eropa asli masa kini, merasakan langsung hadirnya virtue dulu. Yang kini telah hilang baik di Eropa maupun negeri-negeri muslim. Kitab “The Interim is Mine” ini memberikan kita sekuel panjang tentang hidupnya virtue di Eropa, kisah devolusi manusia modern kini, dan bagaimana epos virtue pernah hidup melanda benua biru itu.

******

Tersebutlah William Shakespeare. Hidup masa abad pertengahan di Inggris. 26 April 1564 – 23 April 1616. Penyair pujaan Eropa. Kalimat dramanya sering dikutip, “Let’s kill all the lawyers”. Tapi itu bukan yang paling jingga. Karena Shakespeare mendramakan banyak kisah. Yang populer tentang ‘Hamlet’. Drama tragedy tentang Pangeran Hamlet, putra mahkota Kerajaan Denmark. Membunuh ayahnya, demi tahta. Dialog itu panjang membahana. Bahkan Gothe mengaguminya. Tapi itu masa kegelapan Eropa. Karena Shakespeare berada dalam bayangan kedigdayaan Kesultanan Utsmaniyya, yang mercusuar dunia. Islam masih membahana.

Dalam Hamlet, terjadi percakapan dengan Horatio. Ian Dallas, penulis akbar Eropa masa kini, menukiskannya. “Pada akhir tragedi Shakespeare, ‘Hamlet’, saat aksi akhirnya tiba pada penyelesaian pada adegan besar terakhir, Hamlet mampu, setelah semua pengalamannya yang menyiksa, untuk menyelesaikan apa yang telah ia perjuangkan selama permainan. Hamlet terbunuh, tentu saja, tetapi demikian juga Raja, Ratu dan Laertes. Horatio dibiarkan hidup untuk memberitahu dunia bagaimana hal itu terjadi, karena terlepas dari segalanya, suatu masalah terjadi dan diselesaikan. Kerajaan itu dimurnikan, dan Fortinbras memasuki pemurnian dan pembaruan yang menyembuhkan.

Saat itulah terjadi dialog. Antara Horatio dan Hamlet. Singkat kata, Hamlet berkata: “interim is mine”.

Kalimat itu yang dijadikan judul buku Dr. Ian Dallas ini. Dia mursyid tariqah. Ulama besar dari Eropa kini. “Interim is Mine” bukan suatu tanpa tanda. Melainkan sebuah pesan. Tentang permurnian kerajaan. Tentang pemurnian Tauhid di Eropa dan dunia. Karena dulunya Tauhid pernah tegak dan terjaga di belantara Eropa, persis masa abad pertengahan. Yang disebut kaum modern sebagai masa kegelapan. Padahal virtue pernah menjejak tajam. Dijaga Ordo kekesatriaan di Eropa. Inggris khususnya. Tapi kemudian revolusi demi revolusi terjadi. Hingga mencuatnya nation state. Membuat ordo kekesatriaan –penjaga virtue—dibubarkan. Dilarang, hingga kemudian dijungkilkan. Ordo kekesatriaan, para baron itu, digantikan Ordo bankir. Inilah yang merebut tahta kerajaan Eropa. Dallas menceritakan, virtue kaum Ordo Kekesatriaan itu berasal dari Islam. Impor dari masa Sultan Sallahuddin al Ayyubi. Kala sela-sela perang salib terjadi. Masa itulah persinggungan Islam dan Nasrani yang harmonis. Tak dikisahkan para orientalis kini. Tak dituliskan sejarawan modern kini. Tapi Dallas mencecahnya hingga tuntas. Bahwa futtuwa, buah didikan muslimin masa Salahuddin yang diekspor ke Eropa. Terjejak dalam Ordo kekesatriaan, yang menentang model Ke-Pausan Roma. Mereka menjaga futtuwa.

Simaklah tragedi Magna Charta.  15 Juni 1215 di pedesaan Runnymede, dekat kota Windsor, kerajaan Inggris. Raja John, penerus Richard II, menghadapi dilema besar. 12 baron memaksanya berada dalam meja perundingan. Karena Raja John menerapkan penyimpangan hukum. Masa itu, Eropa berada dalam adagium ‘Vox Rei Vox Dei” (Suara raja Suara Tuhan). Bangsawan dan agamawan strata teratas. Kaum baron berada di strata kedua. Tapi mereka disegani. Karena berada dibarisan terdepan pengawal kontrak Raja dengan Tuhan dan rakyat. Merekalah para Kesatria. Dua klausul Magna Charta kemudian terus menggema. Menjadi pondasi konstitusi, masa modern state, berabad berikutnya.

Tapi Magna Charta bukan sekedar perjanjian antara Raja dan 25 Baron. Tapi Dallas menyebutnya, itulah bukti peranan Plantegenet, Dinasti Kekesatriaan Eropa menjaga virtue agar tetap hidup sebagai pondasi. Perlawanan Dinasti Plantegenet agar hukum tetap tunduk pada duel kontrak: taat pada Tuhan dan umat. Ordo Kesatria menjadi semacam ‘usbatun’nya. Dari mana mereka belajar? Itulah buah didikan masa Salahuddin al Ayyubi. Tatkala tentara Salib, yang jamak dari kaum Kesatria, tertangkap pasukan Muslimin. Disitulah mereka diajarkan tentang futtuwa. Tentang persaudaraan keimanan. Masa itulah ekspor pengetahuan berlangsung. Pendidikan amal ke-Tauhid-an terjadi. Selepas itu, Salahuddin melepasnya, dengan membayar tebusannya sendiri. Lalu dikembalikan ke Eropa, untuk menegakkan lagi futtuwa.

Duel contract itulah yang dituliskan lagi Thomas Hobbes dalam ‘Leviathan’. Juga didengungkan John Locke dalam natural law-nya. Mereka mengidamkan agar keberlangsungan spesies manusia dalam kehidupan yang penuh virtue. Sebelum Rosseou kemudian merusaknya dalam ‘le contract sociale’, yang menjadi kitab panduan Robbiespierre pasca Revolusi Perancis.

Para Ordo Kesatria itulah yang berevolusi menjaga Monarkhi Eropa. Vox Rei Vox Dei agar tetap terjaga. Lawan mereka adalah Kepausan model Roma. Yang berbeda dengan Kepausan di Jerusalem. Sejumlah Ordo itu mengedepankan kehidupan ekskulsivitas dan collaborative couple dalam kehidupannya. Kehormatan benar terjaga. Ordo yang paling terkenal di Inggris adalah Ordo Garter, Ordo Star, dan Ordo Golden Fleece. “Tetapi ketika ordo-ordo itu menjadi domain publik yang melibatkan Gereja dan kerajaan, kita dapat melihat sistem yang sangat berbeda menyatukan Ordo tersembunyi yang berasal dari jenis yang sangat berbeda, yang bertentangan dengan Gereja Roma dan sistem kepercayaannya,” tulis Dallas.

Tapi Salahuddin mengajarkan tentang bagaimana kebenaran sejati dalam Nasrani. Itulah masa penggemblengan di sela-sela perang Salib, yang kerap disensor penguasa Konstantinopel maupun Roma. “Dengan kata lain, terlepas dari sensor dan distorsi tanpa henti dari Gereja Roma dan kebijakan inkuisnya, ada arus komunikasi yang konstan antara Muslim dan Eropa (masa itu),” ungkap Dallas lagi.

Apa yang dituangkan Salahuddin? Mari simak Al Quran Surat Maryam. Disitulah penekanan Salahuddin mengajarkan tentang Tauhid yang berada pada Nasrani sesungguhnya. Para kesatria diberikan lagi tentang ajaran futtuwa yang mendalam. Tentang Al Din al Muamalah (perniagaan hidup). Bahwa agama bukan sekedar ritualitas belaka. Melainkan cara hidup yang harus dijaga. Salahuddin mengajarkan tentang persaudaraan keimanan. Itu yang berlangsung setiap jaman. Tersebut jelas dalam Al Quran. Tentang bagaimana persaudaraan pemuda Kahfi. Dari sana tampaklah bagaimana kebenaran tentang Isa Allaihisalam. Tentang pembelokan dalam doktrin yang diajarkan Gereja Roma. Alhasil terpatri pemahaman mendalam tentang ajaran Isa Allaihisalam yang merujuk pada asalnya.

Para Kesatria itu pun memahami tentang virtue. Kebajikan. Tapi upaya itu ternyata kerap mendapat rintangan dari Gereja Roma. Paus Innosensia II sempat mengutuk turnamen yang diadakan dalam Canon Kesembilan Dewan Claremont, 1130. Turnamen yang menguji tentang kekesatriaan. Bibit kesatria itu menggurita di sejumlah daratan Eropa. Kesatria Templar ditentang Gereja Roma. Kesatria di Jerman, teotonik, menjadi penjaga kerajaan Germana, 1351 hingga 1382. Tapi narasi tentang pemuda Kahfi dan persaudaraan keimanannya menjadi pondasi.

Hingga kemudian menjejak di masa kerajaan Inggris. Dinasti terakhir dengan virtue terjejak dalam Earl of Essex. Itulah Robert Deveroux, Earl of Essex kedua yang paling akhir sebagai penjaga kesatria-an di Inggris raya. Robert menentang habis Elisabeth I sebagai Ratu Inggris, karena perempuan tak bisa menjadi pemimpin. Melanggar fitrah. Robert Deveroux inilah generasi keempat dari Ordo Kekesatriaan yang masih hidup di Inggris, pasca didikan Salahuddin. Tapi nasih akhir Robert berada dalam persidangan kaum baron, yang mempersalahkannya, karena menjaga virtue. Disitulah masa akhir futtuwa di Eropa.

Karena revolusi Inggris kemudian berlangsung 1668. Masa ketika Mary I dikawinkan dengan William of Orange, Raja Belanda. Masa itu Eropa springs tengah tak terkendali. Filsafat masuk disatu sisi untuk menyerang pondasi keimanan Gereja. Ekspor dari kaum mu’tazilah masa Abbasiyya dan Andalusia. Puncaknya penyerangan Luthern terhadap kedigayaan doktrin Gereja, menjadikan Protestan. Masa itulah Eropa terbelah-belah. Gereja Roma tak bisa pegang kendali lagi atas Raja.

Masa futtuwa di bawah Ordo kekesatriaan telah berakhir di era Robert Deveroux. Yang mencuat kemudian Ordo baru, itulah Ordo bankir. Mereka mengendalikan Raja. Tercatat tatkala Raja William diberi utang oleh Ordo Bankir itu, maka terbentuklah Bank of England. Kesatria penjaga futtuwa telah pergi. Gereja Roma makin terdesak. Alhasil terjadilah evolusi –tepatnya devolusi—spesies manusia di Eropa.

Masa sebelumnya, doktrin terkenal bahwa setiap anak dilahirkan dengan dosa. Masa ordo bankir mendominasi, maka setiap anak yang lahir, diwajibkan dengan utang. Ini devolusi yang makin dikhawatirkan Darwin.

Masa itulah kerajaan Eropa berada di bawah kendali bankir. Kesatria bankir makin mendominasi, seabad kemudian menjejak di Perancis. Alhasil membubarkan kerajaan Perancis, 1789. Revolusi Perancis. Lalu menjejak ke Kesultanan Utsmani, seabad kemudian, 1840. Tanzimat. Ordo inilah yang kini mendominasi dunia.

Maka, penyelamatan atas spesies manusia harus dilakukan. Dallas menyebutnya, sebagai jalan kembalinya nomos baru. New nomos. Dan itu dimulai dengan kembali pada ayat pemuda Kahfi. Sekelompok kecil yang mampu mengalahkan pasukan besar. Tapi kelompok persaudaraan keimanan, yang menjaga dan menegakkan fitrah.

Karena ordo bankir ini membalikkan semuanya. Futtuwa ditiadakan. Dallas mengatakan, “Yang menggantikan kebohongan, muncullah aib. Yang menggantikan kehormatan, datanglah kebohongan. Yang menggantikan pelayanan, hadirlah perampasan. Yang menggantikan arena persaudaraan bersama, tibalah arena perlombaan memperoleh keuntungan.” 

Dari situlah patut kembali melihat masa interim. Lebih melihatnya dengan merujuk pada Polybios, sejawaran Romawi. Dia memiliki teori siklus Polybios. Tentang siklus model pemerintahan. Dari monarkhi-tirani-aristokrasi-oligarkhi-demokrasi-okhlokrasi dan kembali ke Monarkhi. Maka, merujuk dari siklus itu, inilah masa okhlokrasi. Kala ordo bankir mengendalikan dunia. Mengendalikan tata pemerintahan, apapun bentuknya. Masa okhlokrasi menuju monarkhi itulah yang disebut ‘interim’.

Maka, Dallas pun menggunakan kalimat Hamlet tadi: “Interim is mine’. Kita harus merebut masa interim itu, menyambutnya.

Masa interim berarti mengembalikan lagi fitrah. Landasannya futtuwa. Islam telah memiliki pranata lengkap atas hal ini. “Futtuwa is tassawuf, ma’rifatullah is secret. Qurtubi is final word,” tegas Shaykh Abdalqadir as sufi, nama lain Ian Dallas.

Dalam kitab “Interim is Mine” ini, Dallas membimbing Eropa pada rezim yang masa futtuwa, virtue. Dalam namanya sebagai Shaykh Abdalqadir as sufi, beliau memberi tunjuk ajar yang jelas bagaimana mengembalikan kekuasaan dan kekayaan Islam. Agar kembali merujuk pada amal ahlul Madinah. Dan itu dimulai dengan merestorasi kembali rukun Zakat.

Dengan mengembalikan Zakat, maka umat wajib kembali berjamaah di bawah AMR (sultan) yang memiliki kemampuan dan kekuatan menegakkan Zakat. Dari sanalah kewajiban ditunaikan. Kemudian mata uang syariat, dinar emas dan dirham perak yang digunakan kembali, melepaskan dari sihir para ordo bankir. Sultan melepaskan diri dari sihir teori Rosseou yang digunakan ordo bankir. Itulah bahasa Harold Laski, reevaluasi terhadap konsep ‘state’. Maka dengan demikian kekayaan (wealth) dan kekuatan (power) akan kembali lagi.

Tapi menuju ke sana, kata kunci yang sangat diperlukan ialah pengembalikan Tauhid. Iman. Karena iman, telah dirusak kaum scholastik masa abad pertengahan, dengan filsafat yang menyimpang.  Kembalinya eksistensialisme, yang telah disihir menjadi essensialisme. Karena, “filsafat tak bisa dijadikan ajang menemukan kebenaran,” kata Heidegger. “Filsafat itulah berhala,” ucap Nietzsche.

“Yang sekarang kita ikuti adalah tragedi bagi umat manusia, yakni bahwa kepemimpinan itu tidak berharga, tanpa kehormatan dan kebajikan, sehingga panduan aktif dari elit semacam itu hanya akan membawa massa pada kehancuran,” tulis Dallas.

Maka, pengembalian futtuwa menjadi mention utama Dallas dalam kitab ini. Itulah jalan new nomos.

Irawan Santoso Shiddiq

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wordpress Social Share Plugin powered by Ultimatelysocial