Sekulerisme Finansial

Oleh: Irawan Santoso Shiddiq

Jantung peradaban barat adalah sekulerisme, yang semula pemisahan ‘agama’ dan ‘negara.’ Kemudian sekulerisme menjadi pemisahan ‘negara’ dan ‘financial system’

{Shaykh Abdalqadir as sufi).

Realitas ini menunjukkan bahwa ‘kebuntuan modernisme’ ini harus dilalui dengan penyatuan kembali antara ‘state’ dan ‘financial system.’ Gerakan Islam yang muncul abad 20, baru sebatas berfokus pada “Islamisasi state’ yang nyatanya juga berujung pada jalan buntu. Karena ‘modern state’ sendiri tak berdaya dihadapan ‘financial system’ yang notabene dikendalikan ‘bankir.’ Sejak PD II, jamak modern state telah lumpuh dibawah kendali otoritas ‘bankir’. Terjebak pada pemberian klausula khusus pada ‘bankir’ untuk mengelola keuangan suatu ‘modern state’, yang dimulai sejak Revolusi Inggris, 1668. Kala lepas dari pengaturan Gereja Roma, Inggris dan Perancis modern, serta USA, terjebak pada ‘tunduk patuh’ pada ‘bankir’ yang mengatur dan mengelola keuangan ‘state.’ Inilah pola dan tipikal ‘modern state’ yang bisa dilihat dari realitas. Karena tak ada satupun kini negara modern yang mampu mengatur uangnya sendiri. Nilai mata uang ditentukan entitas lain diluar ‘goverment.’ Tentu ini menyalahi azas Republik, sebagaimana era Romawi. Fase Republik, keuangan sepenuhnya diatur dan dikendalikan oleh Senat. Bukan oleh entitas diluar ‘goverment.’

Perang era modern, terjadi bukan lagi dengan tema ‘Berperang demi Tuhan.’ Melainkan sebatas perang dalam menjaga entitas ‘financial’ yang telah melupakan orientasi Ketuhanan. Berbeda dengan perang yang berlangsung abad pertengahan. Maka, tak ada lagi perang dengan menggunakan hukum. Melainkan dengan nafsu syahwati. Nuansa perang pembantaian ini yang sudah tergambar sejak ‘Massacre at Paris’ tahun 1572, yang berlangsung di Kerajaan Perancis. Kemudian berlanjut pada genosida Revolusi Perancis, dimana pihak bankir yang berada sebagai pemenang. Bukan Robiespirre. Dia hanya pion yang digunakan.

Pasca Revolusi Perancis, penghancuran terhadap otoritas agama menjadi agenda utama para sekuleris. Di barat, mereka memisahkan agama dengan rakyatnya. Kemudian di timur, pasca dibubarkannya Daulah Utsmaniyya, Kesultanan Moghul sampai Aceh Darussalam, disitulah pemisahan antara umat dengan Islam. Maka agenda sekulerisme ini yang disebarkan hingga sekarang. Pionir terdepannya menggunakan Amerika dan sekutunya. Karena mereka yang dianggap memenangkan perang.

Tapi agenda kedua adalah perusakan terhadap struktur dan soveregnty ‘state’ itu sendiri. Hingga tidak ada lagi ‘kedaulatan’ sebagaimana teori Jean Bodin, Machiavelli sampai Montesquei. Kedaulatan rakyat, yang ditasbihkan sebagai kedaulatan Tuhan, telah dikudeta menjadi ‘kedaulatan bankir.’ Maka, kata Dr. Ian Dallas, sejak Perang Dunia II, tak ada lagi sebuah keputusan penting dalam sebuah negara, diambil dari rapat kabinet di Istana maupun di Parlemen. Melainkan diambil di lapangan golf, kastil khusus bankir, pulau khusus milik bankir, ataupun tempat-tempat eksklusif lainnya. Tragedi pesugihan Epstein membuka lebar mata modern bahwa kebijakan yang diambil, tak lepas dari ‘pesugihan terhadap satanic.’ Ini warna yang jamak muncul abad modern. Yang sejak dulu sejatinya telah diingatkan oleh Goethe. Kala bankir awal menciptakan fiat money, dalam kitabnya Faust, dia menyebutnya sebagai buah dari ‘bisikan setan.’ Karena sejak itulah ordo bankir bisa mengkooptasi ‘goverment,’ yang kemudian mengendalikannya. Senjata utama mereka adalah ‘demokrasi dan constitutio.’ Tentu ideologi utamanya adalah sekulerisme.

 

Maka harus dilihat bagaimana akar sekulerisme. Ini lahir dari paham ‘free will’ (kehendak bebas). Paham yang semula diusung kaum renaissance. Aquinas, St Agustinus sampai Copernicus, semula menggunakannya untuk melawan dogma Gereja Roma. Tapi kemudian Rene Descartes, Immanuel Kant, Einstein sampai Marx, menggunakannya untuk melawan ‘Kehendak Tuhan.’ Karena ajaran mereka sepenuhnya mengusung ‘kehendak manusia.’ Tak ada ‘Kehendak Tuhan.’ Paham ini yang diteriakkan Robiespierre, “Liberty!” Bebas dari aturan Tuhan. Karena Perancis bukan dijajah bangsa lain. Tapi ‘penjajah’ dalam makna Robispierre adalah soal ‘Kehendak Tuhan.’

 

Ini pula yang diikuti Mustafa Kemal yang memberontak pada Sultan Utsmaniyya. Dia berbicara lantang, “Kehendak siapa yang berada disini? Saya atau Tuhan?” Naudzubillah. Karena paham itu pula yang diusung Firaun selama abad kemusyrikan Mesir kuno. Paham ini yang oleh Maulana Shaykh Abdalqadir al Jailani disebut sebagai majusi. Yang memisahkan ‘pencipta perbuatan baik’  dan ‘pencipta perbuatan buruk.’ Pemisahan ini melahirkan ‘penyembahan kepada setan’ yang disimbolisasi sebagai ‘api.’ Dan kini itu ditunjukkan Kembali oleh Epstein, dengan ritual yang serupa. Maka wajah modernisme tak lepas dari ‘Lex aeterna’, sebagaimana istilah Santo Agustinus. Hukum setan. Bukan Lex Divina.

 

Antitesa ini adalah kembalinya Tauhid. Karena Islam mengusung paham Qudrah wal Iradah sepenuhnya adalah Kehendak Tuhan. Manusia hanya memiliki kasab (usaha). Free will memberikan ajaran bahwa manusia sepenuhnya berkehendak bebas, cogito ergo sum. Ujungnya hanya melahirkan kapitalisme, yang melahirkan perbudakan modern. Para bankir yang berada di strata teratas. Kaum pekerja sosial massal, tetap berada sebagai budak. Mereka dipajaki, tapi tak dicambuk. Inilah model system riba, yang menjadi wajah utama modernisme.

 

Carls Schmith, Erns Junger sampai Adam Ferguson telah memberi gambaran kebuntuan dari kapitalisme riba ini. Mereka meyakini akan lahirnya ‘new nomos,’ kelompok baru sebagai pengusung kembalinya fitrah. Dr. Ian Dallas (Shaykh Abdalqadir as sufi) memberikan petunjuk bahwa new nomos adalah kumpulan kaum ber-Tauhid yang berorientasi utama pada penyembahan Ilahi.

 

Tentu bukan yang berorientasi mengislamisasi kapitalisme. Karena pola itu hanya melahirkan kaum yang mengikuti fenomena ‘lubang biyawak.’ Yang mengikuti langkah sesat yang dilalui Yahudi dan Nasrani. Dan ‘new nomos’ ini yang karakteristiknya, kata Shaykh Abdalqadir as sufi, sebagaimana sifat para Pemuda Kahfi. Mereka berani menentang ketiranian, menegakkan al Haq, dan bersatu diantara sesamanya. Dan ‘asyabiyya’ mereka adalah kesamaan dalam dalam Aqidah.

 

Wujud itu bisa ditergambar pada model Madinah al Munawarah. Era awal Khulafaur, Khalifah Abu Bakar as Shiddq memprioritaskan program utama, penegakan rukun Zakat. Karena Zakat memiliki dua aspek, kekuasaan dan kekayaan. Aspek kekuasaan, penyambungan pada tali Allah. Dari ketaatan pada Ulil Amri Minkum, hingga taat pada Rasulullah dan taat kepada Allah. Salah penempatan ‘Ulil Amri,’ maka keliru dalam menempatkan ketaatan. Aspek kekayaan, Zakat harus dibayarkan dengan mal (harta ayn). Bukan dayn. Model bankir, mereka menciptakan ‘harta’ dalam format ‘dayn’. Harta ilusi. Dari fiat money kemudian bergeser menjadi byte computer yang kala mati listrik, maka harta pun musnah. Inilah sihir modern. Maka prioritas tegaknya Zakat, inilah jalan awal menuju New Nomos. Disitulah diperlukan jamaah.

 

Sayidinna Umar ibn Khattab berkata, “Tiada Islam tanpa jamaah. Tiada jamaah tanpa pemimin (Amr). Tiada pemimpin (Amr) tanpa baiah.’ Ini rute menuju Wushul Illallah. Lepas dari jebakan ‘satanic’ di era modern.

 

Dari penegakan Kembali Zakat, maka sekulerisme akan musnah. Dan riba pun akan sirna (Al Quran Surat Ar Rum: 32).

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wordpress Social Share Plugin powered by Ultimatelysocial